Transisi energi berkeadilan
Kaum muda Sumatra Selatan menatap masa depan Indonesia yang lebih hijau tanpa batu bara
Seiring upaya Sumatra Selatan mengurangi ketergantungan pada batu bara, ILO dan Universitas Sriwijaya membantu generasi muda mempersiapkan diri dan mengambil peran dalam transisi Indonesia menuju ekonomi yang lebih hijau dan inklusif.
11 Agustus 2026
PALEMBANG, Sumatra Selatan, Indonesia (Berita ILO) - Lebih dari 100 mahasiswa memenuhi sebuah aula di Universitas Sriwijaya (Unsri), Palembang, Sumatra Selatan, pada 5 Agustus. Bersama perwakilan pemerintah daerah dan akademisi, mereka datang dengan berbagai pertanyaan tentang isu yang dapat menentukan masa depan mereka: Apa yang akan terjadi ketika provinsi tempat mereka tinggal secara bertahap mulai mengurangi ketergantungannya pada batu bara?
Bagi Sumatra Selatan, pertanyaan ini menjadi sangat penting. Batu bara telah lama memainkan peran besar dalam perekonomian provinsi ini. Namun, seiring langkah Indonesia menuju ekonomi rendah karbon, Sumatra Selatan perlu mencari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru sembari memastikan para pekerja dan masyarakat tidak tertinggal.
Sepanjang kegiatan, para mahasiswa mengajukan berbagai pertanyaan yang mencerminkan rasa ingin tahu sekaligus kepedulian mereka. Apa tantangan utama yang dihadapi negara berkembang dalam menjalankan transisi yang berkeadilan? Apa yang dapat dipelajari Indonesia dari negara lain? Bagaimana memastikan transisi ini berjalan secara setara dan inklusif? Dan peran apa yang dapat dimainkan generasi muda dalam menjawab berbagai persoalan lingkungan?
Berbagai pertanyaan tersebut memantik diskusi hangat dalam lokakarya bertajuk Menggerakkan Masa Depan: Tantangan dan Peluang di Era Transisi Energi yang diselenggarakan oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) bekerja sama dengan Unsri melalui proyek Inisiatif Inovasi Kawasan untuk Transisi Energi Berkeadilan (IKI-JET).
Lokakarya ini mengajak mahasiswa untuk melihat transisi energi lebih jauh dari sekadar peralihan dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan. Mereka diajak memikirkan apa arti transisi tersebut bagi pekerjaan, keterampilan dan mata pencarian, serta bagaimana generasi muda dapat turut berkontribusi menciptakan masa depan Sumatra Selatan yang lebih hijau dan inklusif.
Melihat peluang di luar batu bara
Dalam kegiatan tersebut, Hari Wibawa, Kepala Bidang Perekonomian dan Pendanaan Pembangunan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sumatra Selatan, memaparkan kondisi perekonomian provinsi serta berbagai upaya untuk mengidentifikasi sektor-sektor yang dapat menjadi sumber pertumbuhan baru seiring berkurangnya ketergantungan pada batu bara.
Bersama ILO, kami telah membentuk Forum Konsultasi Daerah sebagai wadah dialog sosial untuk membahas dampak transisi energi terhadap dunia kerja.
Hari Wibawa, Kepala Bidang Perekonomian dan Pendanaan Pembangunan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sumatra Selatan
Ia menambahkan bahwa para pemangku kepentingan juga telah menyusun Peta Jalan Pengembangan Keterampilan untuk membantu mempersiapkan tenaga kerja menghadapi transformasi ekonomi. Peta jalan tersebut menetapkan sektor kopi dan pariwisata sebagai sektor prioritas untuk mendukung diversifikasi ekonomi di provinsi yang selama ini sangat bergantung pada industri batu bara.
Nengyanti, dosen sekaligus pakar gender dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unsri, mengingatkan bahwa transisi juga harus membuka peluang bagi kelompok-kelompok yang selama ini menghadapi berbagai hambatan di pasar kerja. Ia merujuk pada data yang menunjukkan bahwa perempuan masih menghadapi kendala dalam mengakses pekerjaan formal, pengembangan keterampilan dan teknologi baru.
Seiring persiapan Sumatra Selatan menghadapi perubahan ekonomi, ia menekankan pentingnya melibatkan perempuan secara aktif serta memastikan mereka memiliki akses terhadap keterampilan dan peluang agar dapat memperoleh manfaat dari sektor-sektor ekonomi baru yang berkembang.
Sektor kopi di Sumatra Selatan memiliki potensi besar dan saya berharap pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan lainnya dapat terus mengembangkannya sebagai bagian dari diversifikasi ekonomi provinsi, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan, termasuk hutan.
M. Afif Khairi, mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya berusia 22 tahun
Bagi generasi muda yang hadir, transisi energi mungkin terdengar seperti sesuatu yang baru akan terjadi bertahun-tahun mendatang. Namun, Muce Mochtar, Koordinator Proyek IKI-JET ILO di Indonesia, mengingatkan bahwa perubahan tersebut sudah berlangsung dan generasi muda memiliki peran di dalamnya. Ia mendorong para mahasiswa untuk lebih memperhatikan peralihan menuju energi terbarukan dan perkembangan sektor-sektor yang lebih berkelanjutan di provinsi mereka sendiri, termasuk pertanian dan pariwisata.
“Transisi energi berkeadilan bukan hanya tentang mengganti satu sumber energi dengan sumber energi lainnya. Transisi ini juga tentang mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi pekerjaan masa depan,” ujar Muce. “Sebagai generasi muda Sumatra Selatan, kalian perlu memahami perubahan yang sedang terjadi dan mempersiapkan diri. Jangan sampai menjadi tamu di provinsi sendiri atau sekedar penonton perubahan yang terjadi. Kalian harus mengambil tindakan dan menjadi bagian dari gerakan untuk membangun masa depan komunitas kalian sendiri.”
Pesan serupa disampaikan M. Afif Khairi, mahasiswa Hubungan Internasional berusia 22 tahun yang baru saja menyelesaikan skripsi mengenai mineral kritis. “Saya berharap kita tidak sekadar beralih dari satu industri ekstraktif ke industri ekstraktif lainnya. Sektor kopi di Sumatra Selatan memiliki potensi besar dan saya berharap pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan lainnya dapat terus mengembangkannya sebagai bagian dari diversifikasi ekonomi provinsi, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan, termasuk hutan.”
Jangan sampai menjadi tamu di provinsi sendiri atau sekedar penonton perubahan yang terjadi. Kalian harus mengambil tindakan dan menjadi bagian dari gerakan untuk membangun masa depan komunitas kalian sendiri.
Muce Mochtar, Koordinator Proyek IKI-JET ILO di Indonesia
Dari diskusi menuju aksi
Kegiatan ditutup dengan peluncuran kemitraan antara ILO dan para mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran mengenai transisi energi berkeadilan melalui media sosial. Mahasiswa terpilih akan mengembangkan konten media sosial dan artikel untuk membagikan pengetahuan yang mereka peroleh kepada teman sebaya, keluarga dan masyarakat di sekitar mereka.
Inisiatif ini merupakan bagian dari Jejaring Muda ILO, yang melibatkan generasi muda dalam berbagai isu ketenagakerjaan serta mendukung mereka menjadi penggerak bagi masa depan dunia kerja yang lebih baik. Jejaring ini telah menjalin kemitraan dengan sejumlah universitas dan jaringan perguruan tinggi di Indonesia, termasuk Universitas Sriwijaya, Universitas Airlangga, Nationwide University Network in Indonesia (NUNI), Universitas Esa Unggul, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan Universitas Diponegoro (Undip).
Yang istimewa bagi para mahasiswa di Sumatra Selatan adalah Jejaring Muda ILO ini mengajak mereka memikirkan apa arti transisi tersebut bagi provinsi, masyarakat sekitar dan bahkan masa depan karier mereka, sekaligus mendorong mereka untuk menjadi bagian dari perubahan tersebut.
Gita Lingga, Staf Komunikasi Senior ILO
Related content
Siaran pers
Generasi muda Sumatra Selatan perkuat Transisi Energi Berkeadilan di Indonesia melalui inovasi dan kolaborasi
Transisi energi berkeadilan
Generasi muda ikut mendorong transisi energi berkeadilan di Indonesia
Siaran pers
Generasi muda kunci Transisi Energi Berkeadilan di Indonesia
Dampak kami, suara mereka
Masa depan hijau setelah batu bara di mata seorang anak muda Sumatra Selatan