Transisi energi berkeadilan
Generasi muda ikut mendorong transisi energi berkeadilan di Indonesia
Lokakarya bersama yang diselenggarakan ILO dan mitra universitasnya membantu mahasiswa mengeksplorasi peran inovasi, pekerjaan hijau dan dialog sosial dalam mendorong transisi energi berkeadilan di Indonesia.
17 Juli 2026
SURABAYA, Jawa Timur, Indonesia (Berita ILO) - Rasa ingin tahu memenuhi Aula Rektorat Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, pada 14 Juli 2026. Lebih dari 120 mahasiswa bergabung dengan perwakilan pemerintah, usaha kecil dan menengah (UKM), akademisi serta mitra pembangunan untuk mendiskusikan satu pertanyaan besar: bagaimana transisi Indonesia menuju ekonomi hijau akan mengubah dunia kerja dan bagaimana generasi muda dapat memastikan tidak ada pekerja yang tertinggal?
Pertanyaan demi pertanyaan mengemuka sepanjang lokakarya. Apakah energi terbarukan mampu menciptakan cukup banyak pekerjaan layak? Bagaimana pemerintah, pengusaha dan pekerja dapat bekerja sama mewujudkan transisi yang berkeadilan? Keterampilan apa yang perlu dimiliki generasi muda agar mampu berkembang di ekonomi hijau? Berbagai pertanyaan tersebut menjadi landasan diskusi yang berlangsung dinamis sepanjang acara.
Indonesia memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada masa depan yang berkelanjutan... Tantangannya adalah mempercepat adopsi teknologi dan inovasi sehingga potensi ini dapat menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat, komunitas dan generasi mendatang.
Tahta Amrillah, Ph.D., dosen dan pakar energi terbarukan dari Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin UNAIR
Lokakarya bertajuk Masa Depan Transisi Energi Indonesia: Memastikan Tidak Ada Pekerja yang Tertinggal diselenggarakan oleh ILO melalui proyek Inisiatif Inovasi Kawasan untuk Transisi Energi Berkeadilan (IKI-JET) bersama UNAIR. Kegiatan ini bertujuan membantu peserta memahami peluang dan tantangan transisi menuju ekonomi rendah karbon, sekaligus menyoroti peran penting kaum muda dalam mendorong solusi yang inovatif dan inklusif.
Membuka sesi diskusi, Tahta Amrillah, Ph.D., dosen dan pakar energi terbarukan dari Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin UNAIR, mengajak peserta melihat berbagai inovasi energi bersih yang berkembang di dunia. Ia memaparkan beragam teknologi, mulai dari panel surya, panas bumi, teknologi katalis hingga bahan bakar berbasis air dan kendaraan listrik. Meski perkembangan teknologi berlangsung pesat, ia menilai Indonesia masih memiliki ruang yang sangat besar untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan, terutama mengingat melimpahnya sumber daya alam yang dimiliki.
"Indonesia memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada masa depan yang berkelanjutan karena kekayaan sumber daya laut dan hutannya. Tantangannya adalah mempercepat adopsi teknologi dan inovasi sehingga potensi ini dapat menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat, komunitas dan generasi mendatang," ujarnya.
Transisi energi berkeadilan tidak hanya tentang mengganti satu sumber energi dengan sumber energi lainnya. Ini juga tentang mempersiapkan manusia untuk pekerjaan masa depan.
Muce Mochtar, Koordinator Program IKI-JET ILO
Melengkapi perspektif teknologi, Muce Mochtar, Koordinator Program IKI-JET ILO, mengingatkan bahwa inti dari transisi energi bukan hanya soal perubahan teknologi, tetapi juga tentang manusia yang akan menjalani perubahan tersebut. Ia mengajak peserta membayangkan tantangan yang dihadapi daerah-daerah yang selama ini bergantung pada industri batu bara. Ketika ekonomi mulai beralih ke sektor-sektor baru, siapa yang akan mendampingi para pekerja untuk beradaptasi? Siapa yang akan menyediakan pelatihan ulang, peningkatan keterampilan dan sertifikasi yang mereka perlukan? Jika daerah mengembangkan sektor baru seperti pariwisata berkelanjutan, apakah tersedia tenaga kerja yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan?
"Transisi energi berkeadilan tidak hanya tentang mengganti satu sumber energi dengan sumber energi lainnya. Ini juga tentang mempersiapkan manusia untuk pekerjaan masa depan," kata Muce. "ILO mendukung pemerintah daerah di Sumatra Selatan dan Kalimantan Timur untuk mendiversifikasi ekonomi mereka dengan mengidentifikasi sektor-sektor pertumbuhan baru. Pada saat yang sama, kami mempertemukan pemerintah, organisasi pengusaha dan pekerja, akademisi serta pemangku kepentingan lainnya melalui forum konsultasi daerah dan dialog sosial."
Saya pulang tidak hanya membawa catatan, tetapi juga perspektif baru: bahwa menjadi bagian dari solusi masa depan juga berarti belajar untuk lebih peka terhadap mereka yang paling rentan tertinggal dalam proses perubahan ini.
Lathifa Drupadi, mahasiswi berusia 19 tahun
Diskusi dalam lokakarya ini memberikan kesan mendalam bagi peserta dari berbagai latar belakang. Salah satunya adalah Elly Rismina, yang mewakili pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Baginya, lokakarya ini menunjukkan bahwa penerapan praktik usaha yang lebih berkelanjutan tidak selalu membutuhkan teknologi yang canggih atau mahal.
“Lokakarya ini meningkatkan kesadaran saya mengenai energi terbarukan dan pentingnya peran UMKM dalam mendukung transisi. Dalam usaha saya sendiri, saya sudah mulai mendaur ulang limbah menjadi aksesori dan berbagai produk lainnya dengan menggunakan teknik yang praktis dan terjangkau. Lokakarya ini mendorong saya untuk terus mengembangkan praktik usaha yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Bagi Lathifa Drupadi, mahasiswi berusia 19 tahun, lokakarya ini memberikan perspektif yang berbeda. Ia semakin memahami sisi kemanusiaan dari transisi yang berkeadilan dan bagaimana perubahan di sektor energi dapat berdampak langsung terhadap pekerja dan keluarga mereka.
“Sebelumnya, saya melihat transisi yang berkeadilan lebih sebagai pembahasan kebijakan atau sebatas statistik energi. Namun, di balik setiap pabrik yang tutup dan setiap tambang yang berhenti beroperasi, ada manusia nyata—pekerja yang kehidupan dan keluarganya bergantung pada pekerjaan tersebut,” ujar Lathifa. “Saya pulang tidak hanya membawa catatan, tetapi juga perspektif baru: bahwa menjadi bagian dari solusi masa depan juga berarti belajar untuk lebih peka terhadap mereka yang paling rentan tertinggal dalam proses perubahan ini.”
Sebagai penutup, ILO meluncurkan kemitraan dengan mahasiswa UNAIR untuk terlibat dalam kampanye media sosial mengenai transisi energi berkeadilan. Melalui inisiatif ini, mahasiswa terpilih akan memproduksi konten media sosial dan artikel untuk meningkatkan kesadaran di kalangan teman sebaya, keluarga dan masyarakat mengenai peluang serta tantangan transisi energi yang adil.
Kampanye tersebut merupakan bagian dari Jejaring Muda ILO, sebuah inisiatif yang mendorong keterlibatan generasi muda dalam berbagai isu ketenagakerjaan. Melalui jaringan ini, kaum muda didorong menjadi agen perubahan dan menyuarakan berbagai isu penting, mulai dari keselamatan dan kesehatan kerja, perlindungan sosial, hingga akal imitasi (AI), pekerjaan hijau dan pekerjaan masa depan. Hingga saat ini, Jejaring ini telah menjalin kerja sama dengan sejumlah universitas, termasuk UNAIR, Jaringan Universitas Nasional Indonesia (NUNI), Universitas Esa Unggul, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Diponegoro (Undip).
Lokakarya ini telah meningkatkan kesadaran saya tentang energi terbarukan dan peran penting yang dapat dimainkan UKM dalam mendukung transisi ini.
Elly Rismina, pemilik UKM
Related content
Siaran pers
Generasi muda kunci Transisi Energi Berkeadilan di Indonesia
Siaran pers
Generasi muda Sumatra Selatan perkuat Transisi Energi Berkeadilan di Indonesia melalui inovasi dan kolaborasi
Transisi energi berkeadilan
Kaum muda Sumatra Selatan menatap masa depan Indonesia yang lebih hijau tanpa batu bara
Transisi energi berkeadilan
Belajar dari ILO: Melihat pelatihan tenaga kerja dari perspektif Transisi Energi Berkeadilan
Siaran pers
ILO dan BPVP Samarinda perkuat keterampilan generasi muda untuk Transisi Energi Berkeadilan di Indonesia
Transisi energi berkeadilan
Mempersiapkan tenaga kerja masa depan Kalimantan Timur, Indonesia untuk transisi berkeadilan