A man sitting

Dampak kami, suara mereka

Masa depan hijau setelah batu bara di mata seorang anak muda Sumatra Selatan

Menandai Hari Pemuda Internasional, sebuah inisiatif ILO menginspirasi seorang mahasiswa di Sumatra Selatan untuk melihat peluang di luar batu bara dan menatap masa depan yang lebih hijau bagi provinsinya.

12 Agustus 2026

M. Afif Khairi, an International Relations student at Sriwijaya University in Indonesia. © Ariel Prananda/ILO
Content also available in: English

PALEMBANG, Sumatra Selatan, Indonesia (ILO News) - Tanpa ragu, M. Afif Khairi, 22 tahun, mengacungkan tangan, antusias untuk menyampaikan pendapatnya. Ketika mendapat kesempatan berbicara, ia dengan percaya diri menjelaskan bahwa transisi energi berkeadilan juga menjadi fokus skripsinya—topik yang sangat dekat dengan minatnya pada isu lingkungan dan pengembangan masyarakat. Ia pun berharap transisi tersebut dapat berjalan secara konsisten dan terencana dengan baik, bukan sekadar mengalihkan ketergantungan provinsi dari batu bara ke mineral kritis lainnya.

Pesan [dalam acara] itu mengingatkan bahwa sembari menatap masa depan, kita juga harus mulai mempersiapkan diri sejak hari ini.

Afif merupakan salah seorang dari lebih dari 100 mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) yang mengikuti lokakarya yang diselenggarakan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), melalui proyek Inisiatif Inovasi Kawasan untuk Transisi Energi Berkeadilan (IKI-JET) bekerja sama dengan Unsri. Diselenggarakan di Palembang, Sumatra Selatan, pada 5 Agustus, lokakarya ini memberikan kesempatan kepada para mahasiswa untuk mendiskusikan transisi provinsi mereka menuju ekonomi yang lebih hijau.

Lokakarya ini mempertemukan mahasiswa dan berbagai pemangku kepentingan untuk melihat transisi energi lebih jauh dari sekadar peralihan bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Para peserta diajak memikirkan apa arti transisi tersebut bagi pekerjaan, keterampilan dan mata pencarian, serta bagaimana generasi muda dapat berkontribusi pada masa depan Sumatra Selatan yang lebih hijau—sebuah provinsi yang perekonomiannya telah lama bergantung pada batu bara.

A boat
© Antara Foto/Nova Wahyudi
© Antara Foto/Nova Wahyudi
Kapal tongkang membawa batu bara di sepanjang sungai Musi di Palembang, Sumatra Selatan, Indonesia. 07/2023

Bagi Afif, isu ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-harinya. Tumbuh besar di Prabumulih, sekitar 100 kilometer barat daya Palembang, ia terbiasa melihat truk-truk pengangkut batu bara melintas di sekitar tempat tinggalnya. Sejak kecil, aktivitas pengangkutan batu bara beserta debu yang ditimbulkannya menjadi pemandangan yang tidak asing baginya.

Afif mengenang bahwa ketika ia duduk di bangku SMP, pemerintah daerah telah membangun jalan khusus bagi truk-truk pengangkut batu bara. Namun, ketika kemudian ia melanjutkan pendidikan di Unsri, batu bara tetap menjadi pemandangan yang akrab. Kali ini, ia melihat bagaimana batu bara tidak hanya diangkut melalui jalan raya, tetapi juga menggunakan kereta api dan jalur sungai.

“Kereta api digunakan untuk mengangkut batu bara dalam jumlah besar, sementara layanan angkutan penumpang masih terbatas. Kondisi ini memengaruhi konektivitas antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Debu batu bara juga dapat memberikan dampak buruk terhadap lingkungan sekitar,” ujarnya.

Saya baru mengetahui besarnya potensi sektor kopi di Sumatra Selatan. Saya sangat mengapresiasi upaya untuk mengembangkan sektor pertanian sebagai bagian dari diversifikasi ekonomi provinsi.

Dalam lokakarya tersebut, Afif mempelajari berbagai upaya yang dilakukan pemerintah provinsi bersama para pemangku kepentingan melalui Forum Konsultasi Daerah, sebuah wadah dialog sosial untuk membahas dampak transisi energi terhadap dunia kerja sekaligus menggali peluang pengembangan sektor-sektor ekonomi alternatif. Dengan dukungan ILO, sektor kopi dan pariwisata telah diidentifikasi sebagai dua sektor prioritas untuk mendukung diversifikasi ekonomi Sumatra Selatan.

“Saya baru mengetahui besarnya potensi sektor kopi di Sumatra Selatan. Saya sangat mengapresiasi upaya untuk mengembangkan sektor pertanian sebagai bagian dari diversifikasi ekonomi provinsi,” ungkap Afif. “Saya berharap pemerintah dan para pemangku kepentingan lainnya dapat terus mengembangkan sektor kopi di sepanjang rantai nilai, dari hulu hingga hilir, dengan tetap menjaga lingkungan, termasuk hutan kita.”

A group of people
© M. Afif Khairi
© M. Afif Khairi
M. Afif Khairi berpartisipasi dalam program pengembangan masyarakat.

Perhatian Afif juga tertuju pada para pekerja yang pekerjaan dan mata pencariannya dapat terdampak oleh transisi. Baginya, suara para pekerja dan keluarga mereka perlu menjadi bagian dari proses tersebut.

“Tidak semua orang dapat dengan mudah beradaptasi atau mengikuti perubahan di sektor-sektor baru. Para pekerja membutuhkan kebijakan yang jelas dan konsisten serta mempertimbangkan aspirasi mereka,” tambahnya.

“Bagi anak muda seperti Afif yang tumbuh dengan melihat langsung dampak batu bara di komunitas mereka, transisi energi berkeadilan bukanlah isu yang jauh dari kehidupan mereka. Ini menyangkut pekerjaan mereka di masa depan, lingkungan tempat mereka tinggal, serta masa depan provinsi mereka. Karena itu, suara dan partisipasi generasi muda menjadi penting seiring Sumatra Selatan mempersiapkan diri menghadapi perubahan,” ujar Muce Mochtar, Koordinator Proyek IKI-JET ILO di Indonesia.

Ada satu pesan dari lokakarya ini yang terus membekas dalam ingatan Afif. Hari Wibawa, Kepala Bidang Perekonomian dan Pendanaan Pembangunan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sumatra Selatan, menyampaikan sebuah pesan kepada para peserta: “Masa depan bukan milik mereka yang menunggu perubahan, melainkan mereka yang berani mempersiapkannya mulai hari ini.”

“Pesan itu benar-benar membekas bagi saya,” tutur Afif. “Pesan itu mengingatkan bahwa sembari menatap masa depan, kita juga harus mulai mempersiapkan diri sejak hari ini.”

Afif sendiri telah mulai mengambil langkah. Ia baru-baru ini mulai bekerja di sebuah perusahaan sosial, yang memberinya kesempatan untuk terus belajar sekaligus berkontribusi pada isu-isu yang menjadi perhatiannya. Bagi dia, mempersiapkan masa depan kini bukan lagi sekadar sesuatu yang dibicarakan dalam lokakarya atau dikaji dalam skripsinya. Ia telah mulai menerapkannya dalam langkah nyata.

Bagi anak muda seperti Afif yang tumbuh dengan melihat langsung dampak batu bara di komunitas mereka, transisi energi berkeadilan bukanlah isu yang jauh dari kehidupan mereka. Ini menyangkut pekerjaan mereka di masa depan, lingkungan tempat mereka tinggal, serta masa depan provinsi mereka.

Muce Mochtar, Koordinator Proyek IKI-JET ILO di Indonesia

Related content

Kaum muda Sumatra Selatan menatap masa depan Indonesia yang lebih hijau tanpa batu bara
A person standing

Transisi energi berkeadilan

Kaum muda Sumatra Selatan menatap masa depan Indonesia yang lebih hijau tanpa batu bara

Generasi muda Sumatra Selatan perkuat Transisi Energi Berkeadilan di Indonesia melalui inovasi dan kolaborasi
Two persons

Siaran pers

Generasi muda Sumatra Selatan perkuat Transisi Energi Berkeadilan di Indonesia melalui inovasi dan kolaborasi