Transisi energi berkeadilan
Belajar dari ILO: Melihat pelatihan tenaga kerja dari perspektif Transisi Energi Berkeadilan
Lokakarya ILO tentang transisi energi yang berkeadilan bersama Universitas Airlangga memberi perspektif baru bagi seorang aparatur pemerintah tentang peran pelatihan dalam mempersiapkan masyarakat untuk belajar, beradaptasi dan berkembang menghadapi perubahan.
27 Agustus 2026
KUBU RAYA, Kalimantan Barat, Indonesia (Berita ILO) – Mengikuti secara daring lokakarya bertajuk “Masa Depan Transisi Energi Indonesia: Memastikan Tidak Ada Pekerja yang Tertinggal” yang diselenggarakan pada Juli lalu oleh ILO melalui proyek Inisiatif Inovasi Kawasan untuk Transisi Energi Berkeadilan (IKI-JET) Indonesia bersama Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) Universitas Airlangga (UNAIR) memberikan perspektif baru bagi saya tentang masa depan dunia kerja.
Sebagai Penelaah Teknis Kebijakan pada Bidang Pelatihan Tenaga Kerja, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, awalnya saya melihat isu transisi energi lebih banyak berkaitan dengan energi terbarukan dan perubahan teknologi. Namun, lokakarya ini membuat saya memahami bahwa transisi energi juga sangat erat kaitannya dengan masa depan pekerja.
Mempersiapkan masa depan dunia kerja bukan hanya tentang menciptakan pekerjaan baru. Yang lebih utama adalah mempersiapkan manusianya agar mampu belajar, beradaptasi dan tumbuh bersama perubahan.
Salah satu pertanyaan yang paling membekas bagi saya disampaikan oleh Muce Mochtar, Koordinator Program IKI-JET ILO: “Kalau tambang batu bara dan PLTU itu dipensiunkan, para pekerja yang bekerja di sana mau ke mana?” Pertanyaan sederhana tersebut membuat saya melihat transisi energi dari sisi yang berbeda.
Ketika suatu industri berubah atau aktivitasnya berkurang, para pekerja yang selama ini bergantung pada industri tersebut juga harus menghadapi perubahan. Sementara itu, tidak semua pekerja memiliki keterampilan atau kesempatan yang sama untuk berpindah ke pekerjaan baru.
Mereka membutuhkan akses terhadap pelatihan, termasuk peningkatan keterampilan (upskilling) dan pelatihan keterampilan baru (reskilling), serta perlindungan sosial dan kesempatan untuk memasuki pekerjaan baru. Bagi saya, di sinilah makna Transisi Energi Berkeadilan menjadi lebih nyata: Perubahan menuju energi yang lebih bersih perlu berjalan seiring dengan upaya memastikan tidak ada pekerja yang tertinggal.
Melihat kembali peran pelatihan tenaga kerja
Lokakarya ini juga membuat saya melihat kembali pekerjaan yang saya lakukan sehari-hari. Selama ini, ketika memikirkan program pelatihan tenaga kerja, perhatian saya lebih banyak tertuju pada hal-hal praktis: apakah kompetensi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan industri, apakah peserta dapat terserap ke dunia kerja dan apakah pelatihan memberikan manfaat ekonomi bagi mereka.
Namun, setelah mengikuti lokakarya ini, saya mulai melihat pelatihan dalam konteks yang lebih luas. Pelatihan bukan hanya tentang membantu seseorang mendapatkan pekerjaan, tetapi juga tentang mempersiapkan pekerja menghadapi perubahan. Ketika industri bertransformasi, keterampilan yang dibutuhkan pun ikut berubah.
Karena itu, saya semakin tertarik untuk memperdalam pemahaman tentang keterampilan hijau atau green skills. Saya mulai melihat bahwa pertanyaannya bukan hanya pekerjaan apa yang dapat disebut sebagai pekerjaan hijau atau green jobs, tetapi juga bagaimana pekerjaan yang sudah ada dapat ikut bertransformasi seiring berkembangnya ekonomi hijau.
Pengalaman ini membuat saya mulai mengajukan pertanyaan baru ketika memikirkan program pelatihan: Apakah keterampilan yang dipelajari peserta hari ini masih akan relevan ketika mereka memasuki dunia kerja beberapa tahun mendatang?
Pertanyaan ini menjadi penting bagi pekerjaan saya. Program pelatihan perlu membantu pekerja bukan hanya memenuhi kebutuhan pekerjaan saat ini, tetapi juga membangun kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi dan berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain ketika dunia kerja berubah.
Pada akhirnya, manfaat terbesar yang saya dapatkan dari lokakarya ini adalah perubahan cara pandang. Saya datang untuk belajar tentang transisi energi, tetapi pulang dengan pemahaman yang lebih kuat tentang peran pelatihan tenaga kerja dalam menghadapi perubahan dunia kerja.
Bagi saya, prinsip “tidak seorang pun tertinggal” kini memiliki arti yang lebih konkret. Transisi yang adil bukan hanya tentang menciptakan pekerjaan hijau, tetapi juga memastikan bahwa para pekerja, termasuk mereka yang memiliki keterampilan terbatas dan akses pelatihan yang lebih sedikit, mendapatkan kesempatan untuk belajar dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan.
Mempersiapkan masa depan dunia kerja bukan hanya tentang menciptakan pekerjaan baru. Yang lebih utama adalah mempersiapkan manusianya agar mampu belajar, beradaptasi dan tumbuh bersama perubahan.
Berangkat dari pengalaman mengikuti lokakarya ILO bersama Universitas Airlangga secara daring mengenai transisi energi berkeadilan yang diadakan di Surabaya, Jawa Timur pada Juli 2026, Winni Disney, aparatur pemerintah bidang pelatihan tenaga kerja di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat membagikan refleksi mengenai peran pelatihan kerja yang tidak hanya memberikan keterampilan baru, tetapi juga mempersiapkan pekerja agar mampu tumbuh bersama perubahan.
Artikel ini merupakan bagian dari Jejaring Muda ILO, wadah bagi generasi muda Indonesia untuk menyampaikan gagasan dan perspektif mereka tentang berbagai isu ketenagakerjaan.
Related content
Siaran pers
Generasi muda kunci Transisi Energi Berkeadilan di Indonesia
Transisi energi berkeadilan
Generasi muda ikut mendorong transisi energi berkeadilan di Indonesia