Three people sitting on the stage

Hari Dunia Menentang Pekerja Anak

Advokat sebaya menyuarakan penolakan terhadap pekerja anak di sektor pertanian dan memperjuangkan hak anak

ILO mendukung inisiatif yang ditunjukkan oleh forum dan komite penasihat bagi anak untuk mencapai masa depan di mana setiap anak memiliki akses terhadap pendidikan dan terbebas dari pekerja anak.

13 Juni 2025

Anjani, a 17-year-old peer-to-peer child advocate from the Children’s Advisory Committee of Damang Malilo Village, Deli Serdang, North Sumatra shows how to play the board game on child labour. 6/2025 © ILO
Content also available in: English
Fun Wednesday event to celebrate the World Day against Child Labour
© ILO
© ILO
Perayaan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak bertajuk “Rabu Seru: Berani Bermimpi dan Berani Bercita-cita sejak Dini" di Jakarta pada 11 Juni 2025.

JAKARTA, Indonesia (Berita ILO) - Suara riang anak-anak bergema saat bernyanyi, menarikan meriahnya Jaipongan dan berbagi mimpi dengan penuh antusias, memenuhi lantai empat Perpustakaan Nasional Indonesia di Jakarta dengan energi dan harapan. Pada 11 Juni, mereka bergandengan tangan dengan perwakilan dari pemerintah, perusahaan, organisasi masyarakat sipil, forum anak dan komite penasihat anak untuk merayakan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak, yang menegaskan kembali komitmen mereka untuk masa depan di mana setiap anak memiliki akses terhadap pendidikan dan terbebas dari pekerja anak.

Kami bekerja sama dengan pemerintah daerah dan desa untuk menyelenggarakan pertemuan dengan anak-anak di daerah sekitar, membantu mereka belajar tentang pekerja anak, hak anak dan pentingnya pendidikan.

Anjani, seorang aktivis anak sebaya berusia 17 tahun dari Komite Pembina Anak Desa Damang Malilo, Deli Serdang, Sumatera Utara

Acara ini diselenggarakan bersama oleh JARAK, Aliansi Penghapusan Pekerja Anak, dan Pusat Penelitian Perlindungan Anak, dengan dukungan dari Proyek Mewujudkan Manfaat Perdagangan tanpa Diskriminasi Gender dan Pekerja Anak (RealGains) ILO. Dengan tema yang menginspirasi “Rabu Seru: Berani Bermimpi dan Berani Bercita-cita sejak Dini,” acara ini menjadi perayaan semarak sebuah harapan yang memperkuat perjuangan melawan pekerja anak sekaligus menawarkan ruang kreatif bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri dan membentuk masa depan dengan segala kemungkinan.

Didanai oleh Pemerintah Kanada, Proyek RealGains yang baru-baru ini diluncurkan bertujuan untuk meningkatkan perdagangan dan investasi di sektor ekspor tertentu dengan mengatasi defisit dalam Prinsip-prinsip dan Hak-hak Mendasar di Tempat Kerja, khususnya yang terkait dengan diskriminasi berbasis gender dan pekerja anak. Proyek ini juga memperkuat upaya nasional untuk menghapus pekerja anak di perkebunan kelapa sawit melalui pencegahan, penegakan hukum dan pemantauan yang lebih baik.

Gesyha Ayunda Zilfania yang berusia 15 tahun dari Forum Anak di Desa Kesilir, Jember, Jawa Timur, melakukan penerbangan pertamanya ke Jakarta. Di hadapan para hadirin, ia menceritakan perjalanannya sebagai advokat sebaya yang bersemangat memperjuangkan hak-hak anak demi mengakhiri pekerja anak. Ia menyoroti kenyataan keras di mana banyak anak di komunitasnya terpaksa membantu keluarga mereka di perkebunan tembakau, terutama selama musim panen, yang bertepatan dengan liburan sekolah di bulan Juli.

“Bekerja di perkebunan tembakau bisa berbahaya bagi anak-anak dan kebanyakan dari mereka tidak punya pilihan selain membantu orang tua, alih-alih menghabiskan liburan mereka untuk kegiatan kreatif dan edukatif,” kata Gesyha .

Dengan dukungan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Forum Anak Kesilir telah mengembangkan layanan terpadu bagi remaja, meningkatkan kesadaran tentang bahaya pekerja anak dan hak anak. “Anak-anak perlu mengetahui hak-hak mereka, menyuarakan aspirasi dan memiliki keberanian untuk melaporkan insiden pekerja anak,” tambahnya.

Three people sitting on the stage
© ILO
© ILO
Anjani, seorang aktivis anak sebaya berusia 17 tahun dari Komite Pembina Anak Desa Damang Malilo, Deli Serdang, Sumatera Utara, menunjukkan cara memainkan permainan papan mengenai pekerja anak. 6/2025

Anjani, seorang aktivis anak sebaya berusia 17 tahun dari Komite Pembina Anak Desa Damang Malilo, Deli Serdang, Sumatera Utara, berbagi cerita serupa. Di area perkebunan kelapa sawit ini, anak-anak setempat harus bekerja bersama orang tua mereka, memanen dan mengumpulkan buah kelapa sawit.

“Kami bekerja sama dengan pemerintah daerah dan desa untuk menyelenggarakan pertemuan dengan anak-anak di daerah sekitar, membantu mereka belajar tentang pekerja anak, hak anak dan pentingnya pendidikan," ujar Anjani. "Untuk mendorong lebih banyak partisipasi, kami juga telah mengembangkan permainan papan tentang pekerja anak agar sesi kami lebih menyenangkan dan menarik.”

Kita harus bersama-sama mengatasi kemiskinan pengetahuan dan budaya. Kita pun dapat menyuarakan aspirasi yang memastikan tidak ada tempat bagi anak-anak untuk bekerja, terutama dalam bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak.

Dede Sudono, Koordinator Proyek RealGains ILO

Acara ini juga menyoroti pengalaman anak-anak di desa nelayan Cilincing, yang terletak di wilayah pesisir Jakarta Utara. Atli dan Yahya bekerja mengumpulkan dan membersihkan kerang untuk dijual di lingkungan mereka. “Kami memberikan separuh pendapatan untuk kebutuhan keluarga dan separuhnya lagi untuk ditabung,” ungkap Yahya.

Dengan dukungan dari Rumah Belajar Jala Samudera Yayasan Mandiri, Atli dan Yahya telah kembali bersekolah melalui program paket pendidikan pemerintah. Mereka pun menerima bantuan transportasi dari Kementerian Ketenagakerjaan, yang memudahkan mereka mendatangi rumah belajar. Atli saat ini sedang menyelesaikan kelas enam, sementara Yahya kelas empat.

Rinaldi Umar, Direktur Pengawasan Norma Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan, sangat mengapresiasi inisiatif penghapusan pekerja anak di Indonesia pada acara tersebut. "Merupakan impian kita semua untuk melihat Indonesia terbebas dari pekerja anak. Tanggung jawab utama anak-anak adalah bersekolah, belajar dan mengembangkan keterampilan untuk masa depan mereka. Bersama dengan semua pemangku kepentingan terkait, pemerintah telah melaksanakan berbagai program dan bertujuan untuk memperluasnya hingga menjangkau sektor informal," katanya.

Sementara Dede Sudono, Koordinator Proyek RealGains ILO mengapresiasi peran Forum Anak dan Komite Penasihat Anak dalam mengadvokasi tidak hanya anak-anak tetapi juga orang tua dan pemerintah daerah tentang pekerja anak dan hak anak, khususnya di sektor pertanian. “Kita harus bersama-sama mengatasi kemiskinan pengetahuan dan budaya. Kita pun dapat menyuarakan aspirasi yang memastikan tidak ada tempat bagi anak-anak untuk bekerja, terutama dalam bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak,” pungkasnya.

Related content

Perjalanan inspiratif Gesyha: Seorang advokat muda yang bertekad mengakhiri pekerja anak
A teen girl standing in front of the banner

Hari Dunia Menentang Pekerja Anak

Perjalanan inspiratif Gesyha: Seorang advokat muda yang bertekad mengakhiri pekerja anak

ILO bermitra dengan PAACLA akui prakarsa memerangi pekerja anak di sektor pertanian
Awards

Hari Dunia Menentang Pekerja Anak

ILO bermitra dengan PAACLA akui prakarsa memerangi pekerja anak di sektor pertanian

Proyek baru RealGains mendukung kesetaraan gender, penghapusan pekerja anak dan hak-hak pekerja di Indonesia
A man standing pointing to the presentation

Proyek baru RealGains mendukung kesetaraan gender, penghapusan pekerja anak dan hak-hak pekerja di Indonesia

Relevant projects

Mewujudkan keuntungan perdagangan bebas dari diskriminasi gender dan pekerja anak (RealGains)
a woman worker pushed a pickup truck that will be uploaded with palm oil fruits

Proyek

Mewujudkan keuntungan perdagangan bebas dari diskriminasi gender dan pekerja anak (RealGains)