Hari Dunia Menentang Pekerja Anak
Perjalanan inspiratif Gesyha: Seorang advokat muda yang bertekad mengakhiri pekerja anak
Seorang pemimpin Forum Anak berusia 15 tahun di Desa Kesilir, Jember, Jawa Timur, berbagi perjalanannya dalam mendobrak tradisi dan mengadvokasi hak anak atas pendidikan dan kreativitas.
19 Juni 2025
Dengan semangat yang tak tergoyahkan dan antusiasme yang tak terbatas, Gesyha Ayundya Zilfana, siswi SMA berusia 15 tahun, naik ke panggung, berbagi kisah perjalanannya sebagai advokat hak anak dan perjuangan mendesak untuk mengakhiri pekerja anak. Berbicara di acara nasional selama dua hari untuk memperingati Hari Dunia Menentang Pekerja Anak di Jakarta, ia memikat hadirin dengan kisahnya yang inspiratif, sebuah perjalanan yang juga menandai debut nasional dan penerbangan pertamanya dari Desa Kesilir, Jember, Jawa Timur.
“Saya sangat gembira bisa berada di sini, berbagi semua yang telah saya lakukan bersama teman-teman di Forum Anak di desa saya. Ini juga pertama kalinya saya terbang! Saya suka meski saya akui sempat merasa sedikit takut saat lepas landas dan mendarat,” kisahnya dengan mata berbinar kegembiraan
Pemerintah harus memastikan anak-anak bersekolah, bukan bekerja. Satu kasus pekerja anak saja sudah terlalu banyak. Kita tidak bisa menutup mata. Indonesia harus maju, anak-anaknya juga harus maju.
Gesyha Ayundya Zilfana
Di acara pertama, yang diselenggarakan pada 11 Juni dan bertajuk Rabu Seru: Berani Bermimpi dan Berani Bercita-cita sejak Dini, Gesyha menyampaikan pesan yang kuat, menyoroti kenyataan keras di desanya. Acara ini diselenggarakan oleh JARAK, Aliansi untuk Penghapusan Pekerja Anak, dan Pusat Penelitian Perlindungan Anak, dengan dukungan dari ILO melalui Proyek Mewujudkan Manfaat Perdagangan tanpa Diskriminasi Gender dan Pekerja Anak (RealGains).
Didanai oleh Pemerintah Kanada, Proyek RealGains yang baru-baru ini diluncurkan bertujuan untuk meningkatkan perdagangan dan investasi di sektor ekspor tertentu dengan mengatasi defisit dalam Prinsip-prinsip dan Hak-hak Mendasar di Tempat Kerja, khususnya yang terkait dengan diskriminasi berbasis gender dan pekerja anak. Proyek ini juga memperkuat upaya nasional untuk menghapus pekerja anak di perkebunan kelapa sawit melalui pencegahan, penegakan hukum dan pemantauan yang lebih baik.
Gesyha, menyoroti perjuangan yang dihadapi banyak anak di komunitasnya, bagaimana mereka berkewajiban untuk membantu keluarga di perkebunan tembakau, terutama selama musim panen, yang bertepatan dengan liburan sekolah di bulan Juli. “Bekerja di perkebunan tembakau dapat berbahaya bagi anak-anak, karena mereka harus memanjat tumpukan hasil panen tembakau yang tinggi. Sebagian besar dari mereka tidak punya pilihan selain membantu orang tua, alih-alih menghabiskan liburan dengan terlibat dalam kegiatan kreatif dan edukatif," ungkapnya. Kata-katanya ini menyentuh hati para hadirin, menegaskan urgensi masalah ini.
Pada acara kedua pada 12 Juni, Gesyha bergabung dalam diskusi panel bersama para pakar dari Kementerian Hak Asasi Manusia, Jaringan Global Compact, Kemitraan untuk Aksi Melawan Pekerja Anak di Pertanian (PAACLA) dan ILO. Sesi tersebut merupakan bagian dari Penghargaan PAACLA perdana, yang memberikan penghargaan kepada tujuh perusahaan pertanian yang berkomitmen untuk menghapus pekerja anak dan memberdayakan masyarakat. Acara yang diselenggarakan oleh PAACLA, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kementerian Ketenagakerjaan, dengan dukungan dari Proyek RealGains ILO, menggarisbawahi urgensi perlindungan anak.
“Pemerintah harus memastikan anak-anak bersekolah, bukan bekerja. Satu kasus pekerja anak saja sudah terlalu banyak. Kita tidak bisa menutup mata. Indonesia harus maju, anak-anaknya juga harus maju,” tegasnya, seraya berbagi harapan untuk masa depan selama diskusi panel.
Aspirasi penuh semangat menentang pekerja anak
Gesyha, sebagai ketua Forum Anak di Desa Kesilir, telah menjadi advokat yang bersemangat sejak didirikannya forum tersebut tiga tahun lalu. Forum tersebut telah membawa perubahan transformatif di komunitasnya karena menawarkan program pendidikan yang menantang dirinya dan teman-temannya untuk tumbuh dan berkembang.
Sebelum bergabung, dia seorang anak yang pendiam dan pemalu, tidak terbiasa berbicara di depan umum atau berinteraksi dengan orang lain. "Dulu saya pemalu dan tidak tahu bagaimana berbicara dengan orang lain. Namun di sekolah menengah pertama, saya belajar berbicara di depan umum dan berlatih, lagi dan lagi, hingga saya menemukan keberanian dan suara saya," tuturnya, mengenang perubahan dirinya.
Secara tradisional, anak-anak diharapkan untuk membantu menghidupi keluarga, meringankan beban orang tua mereka. Namun pada saat yang sama, kita harus mengakui bahwa anak-anak memiliki hak untuk menjalani masa kanak-kanak, belajar dan mengembangkan keterampilan mereka melalui pendidikan dan kreativitas
Gesyha dan rekan-rekannya di Forum Anak menerima peran sebagai pelopor dan pelapor, yang mendorong perubahan di komunitas mereka. "Sebagai pelopor, kami memulai tindakan positif dan menginspirasi anak-anak lain. Sebagai pelapor, kami memperkuat pentingnya hak-hak anak dan memberi tahu pihak berwenang tentang kasus-kasus pekerja anak," jelasnya dengan penuh tekad.
Ia dengan bangga menyampaikan bahwa Forum tersebut telah membangun sistem layanan terpadu bagi remaja, sebuah pelantar yang memberdayakan anak muda setempat untuk tidak hanya memimpin dan melaporkan, tetapi juga memahami hak-hak mereka dan menyuarakan aspirasi mereka dengan berani. Prakarsa ini telah mengubah kaum muda menjadi pendukung masa depan mereka sendiri.
Seorang calon pemimpin masa depan
Selain memberdayakan anak-anak, sistem ini juga memperkuat kolaborasi dengan orang tua dan pemerintah desa. "Secara tradisional, anak-anak diharapkan untuk membantu menghidupi keluarga, meringankan beban orang tua mereka. Namun pada saat yang sama, kita harus mengakui bahwa anak-anak memiliki hak untuk menjalani masa kanak-kanak, belajar dan mengembangkan keterampilan mereka melalui pendidikan dan kreativitas," tegasnya.
Untuk memberdayakan masyarakat, Forum telah meluncurkan inisiatif kerajinan tangan yang unik: sandal jepit karet yang diukir dan dicat dengan tangan. "Belajar mengukir itu menantang. Butuh waktu berhari-hari untuk menyelesaikan sepasang sandal. Namun, ini bukan hanya tentang kreativitas, ini tentang memperkuat masyarakat kita dan menciptakan peluang yang berarti dan menguntungkan," Gesyha berbagi, sambil memamerkan karyanya dengan bangga.
Jadi, apa rencana selanjutnya bagi pemimpin muda yang bersemangat ini? “Saya akan belajar bahasa Inggris!” katanya seraya terkekeh. “Orang tua saya sangat mendukung dan selalu mengingatkan untuk meluangkan waktu buat belajar agar dapat membagikan visi saya kepada semua orang.”
Kedepannya, ia berhasrat untuk membentuk masa depan Indonesia. Pada 2027, setelah lulus SMA, ia berharap dapat mendaftar di sekolah kedinasan. “Saya mulai sekolah dasar saat berusia lima tahun dan ingin bergabung dengan generasi pejabat pemerintah berikutnya, yang akan mendorong pembangunan ke depan. Visi Indonesia Emas 2045 membutuhkan anak-anak yang berpendidikan dan sebagai pemimpin masa depan, kita harus siap dan memastikan akses untuk semua,” pungkasnya dengan penuh tekad.
Related content
Hari Dunia Menentang Pekerja Anak
Advokat sebaya menyuarakan penolakan terhadap pekerja anak di sektor pertanian dan memperjuangkan hak anak
Hari Dunia Menentang Pekerja Anak
ILO bermitra dengan PAACLA akui prakarsa memerangi pekerja anak di sektor pertanian
Proyek baru RealGains mendukung kesetaraan gender, penghapusan pekerja anak dan hak-hak pekerja di Indonesia
Relevant projects
Proyek
Mewujudkan keuntungan perdagangan bebas dari diskriminasi gender dan pekerja anak (RealGains)