A group of people

Belajar dari ILO: Cara saya mempersiapkan mahasiswa menuju masa depan energi berkeadilan

Terinspirasi dari lokakarya ILO, seorang dosen Universitas Sriwijaya melihat bagaimana pendidikan dapat mendorong perubahan dan mempersiapkan mahasiswa untuk berkontribusi pada masa depan yang lebih hijau dan berkeadilan.

17 September 2026

International Relations students at Sriwijaya University in South Sumatra, Indonesia. © Juliantina
Content also available in: English

PALEMBANG, Sumatra Selatan, Indonesia (Berita ILO) – Saat mengikuti lokakarya Menggerakkan Masa Depan: Tantangan dan Peluang di Era Transisi Energi di Universitas Sriwijaya (Unsri), yang diselenggarakan pada Agustus lalu oleh ILO melalui proyek Inisiatif Inovasi Kawasan untuk Transisi Energi Berkeadilan (IKI-JET), bekerja sama dengan Universitas Sriwijaya di Palembang, Sumatra Selatan, saya pulang dengan sebuah pertanyaan besar: Apa yang dapat saya lakukan sebagai dosen untuk membantu mempersiapkan mahasiswa saya menghadapi transisi ini?

Sebagai dosen Sastra Inggris di Jurusan Hubungan Internasional Unsri, kesan pertama saya terhadap lokakarya tersebut adalah betapa kuatnya pendekatan yang berpusat pada manusia dalam setiap diskusi. Terlalu sering pembahasan mengenai energi hanya berfokus pada megawatt, emisi dan investasi. Namun, kali ini pembahasan justru dimulai dari manusianya.

Bagi saya, percakapan yang dimulai dalam lokakarya ILO kini harus terus berlanjut di ruang-ruang kelas, masyarakat dan ruang digital kita.

Ini sangat relevan bagi Sumatra Selatan, sebuah provinsi tempat banyak keluarga menggantungkan mata pencarian pada industri batu bara. Dalam lokakarya tersebut, para mahasiswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan jujur tentang masa depan pekerjaan orang tua mereka dan bagaimana transisi energi dapat memengaruhi masa depan mereka sendiri.

Diskusi ini membuat konsep-konsep yang sebelumnya terasa abstrak, seperti “transisi berkeadilan” dan “perlindungan sosial”, menjadi jauh lebih nyata dan mendesak bagi saya. Dari lokakarya tersebut, saya memahami bahwa transisi energi yang berkeadilan harus menyeimbangkan tiga dimensi penting: keberlanjutan lingkungan, peluang ekonomi dan keadilan sosial.

Mengembangkan energi terbarukan saja tidak cukup jika kita mengabaikan para pekerja yang mungkin kehilangan pekerjaan seiring dengan perubahan ekonomi yang bergantung pada batu bara. Lokakarya ini membantu saya memahami dengan lebih baik mengapa pekerjaan layak dan dialog sosial harus menjadi bagian utama dari proses transisi.

Komunikasi sebagai bagian dari transisi

A group of people
© Juliantina
© Juliantina
Juliantina dengan para mahasiswanya, membawa isu transisi berkeadilan ke ruang kelas di Universitas Sriwijaya di Sumatra Selatan, Indonesia.

Saya juga memperoleh pemahaman yang lebih jelas mengenai peran pendidikan. Perguruan tinggi seperti Unsri memiliki tanggung jawab untuk membekali mahasiswa tidak hanya dengan pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan untuk berpikir kritis mengenai keadilan, inklusi serta dampak transformasi ekonomi terhadap berbagai kelompok masyarakat.

Selain itu, saya semakin memahami pentingnya komunikasi. Diskusi dalam lokakarya menyoroti perlunya mengomunikasikan transisi energi berkeadilan dengan cara yang mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Pelajaran ini berkaitan langsung dengan bidang yang saya tekuni.

Kini saya melihat peran saya dengan cara yang berbeda. Saya dapat membantu mempersiapkan mahasiswa yang mampu menjembatani kesenjangan antara kebijakan dan masyarakat—mahasiswa yang mampu memahami perubahan, mengomunikasikannya secara efektif dan memastikan berbagai suara didengar.

Sebelum mengikuti lokakarya, saya memahami “transisi energi” terutama sebagai peralihan dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan. Kini, saya melihatnya sebagai proses transformasi yang jauh lebih luas, yang membutuhkan kepercayaan, dialog dan kekuatan cerita. Saya menyadari bahwa transisi energi bukan hanya proyek rekayasa atau ekonomi. Transisi energi juga merupakan proyek komunikasi dan budaya.

Dalam bidang Hubungan Internasional, kami mempersiapkan mahasiswa yang kelak dapat menjadi diplomat, bekerja di organisasi nonpemerintah, menjadi aparatur pemerintah ataupun pembuat kebijakan. Di masa depan, mereka mungkin akan terlibat dalam perundingan kesepakatan iklim, menyusun ringkasan kebijakan dan menjelaskan berbagai isu kompleks kepada masyarakat. Tanpa komunikasi yang efektif, kebijakan terbaik sekalipun akan sulit diterapkan.

Tinggal dan mengajar di Palembang membuat isu ini terasa sangat dekat bagi saya. Banyak mahasiswa saya berasal dari masyarakat yang terdampak atau bergantung pada industri batu bara. Kita tidak dapat berbicara mengenai energi terbarukan tanpa mengakui realitas yang mereka hadapi. Pada saat yang sama, kita memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan mereka menyambut berbagai peluang baru yang mungkin muncul dari proses transisi.

Membawa transisi berkeadilan ke ruang kelas

A woman
© Juliantina
© Juliantina
Juliantina, S.S., M.S., dosen Sastra Inggris di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sriwijaya, Indonesia.

Perspektif baru ini mendorong saya untuk memikirkan bagaimana pembelajaran dari lokakarya tersebut dapat saya terapkan dalam pengajaran. Saya telah menyusun tiga rencana.

Pertama, saya akan memperbarui mata kuliah Keterampilan Menulis bagi mahasiswa Hubungan Internasional dengan menambahkan modul “Menulis untuk Kebijakan Iklim dan Energi”. Mahasiswa akan berlatih menyusun ringkasan kebijakan mengenai transisi yang berkeadilan di Sumatra Selatan, siaran pers untuk proyek energi terbarukan, serta pesan-pesan untuk kampanye digital. Lokakarya ILO akan menjadi salah satu studi kasus yang digunakan.

Kedua, saya akan mengintegrasikan sastra dan metode bercerita ke dalam pembelajaran mengenai isu-isu tersebut. Kami akan menganalisis puisi, pidato dan narasi tentang pekerjaan, tanah dan lingkungan. Selanjutnya, mahasiswa akan menyusun kisah mereka dari sudut pandang masyarakat yang terdampak. Saya percaya sastra dapat menumbuhkan empati, dan empati merupakan landasan penting untuk memastikan bahwa transformasi berlangsung secara adil dan inklusif.

Ketiga, saya berencana memperkuat kemitraan antara kampus dan masyarakat. Antusiasme mahasiswa selama lokakarya menunjukkan bahwa generasi muda ingin terlibat. Saya berharap dapat bekerja sama dengan organisasi lokal untuk mengembangkan kampanye digital yang dipimpin mahasiswa mengenai literasi energi dan perlindungan sosial. Kegiatan ini akan memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa sekaligus membuka ruang bagi mereka untuk berkontribusi kepada masyarakat.

Lokakarya ILO mengajarkan kepada saya bahwa teknologi saja tidak cukup untuk mewujudkan masa depan yang berkeadilan. Kita juga membutuhkan kata-kata, kisah dan dialog. Kini saya melihat peran saya dengan cara yang berbeda. Saya dapat membantu mempersiapkan mahasiswa yang mampu menjembatani kesenjangan antara kebijakan dan masyarakat—mahasiswa yang mampu memahami perubahan, mengomunikasikannya secara efektif dan memastikan berbagai suara didengar.

Bagi saya, percakapan yang dimulai dalam lokakarya ILO kini harus terus berlanjut di ruang-ruang kelas, masyarakat dan ruang digital kita.

Berangkat dari pengalamannya mengikuti lokakarya ILO mengenai transisi energi berkeadilan bersama Universitas Sriwijaya di Palembang, Sumatra Selatan, pada Agustus 2026, Juliantina, S.S., M.S., dosen Sastra Inggris di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sriwijaya, merefleksikan bagaimana pendidikan dapat membantu mempersiapkan mahasiswa untuk memahami, beradaptasi, dan berkontribusi terhadap perubahan dunia kerja.

Artikel ini merupakan bagian dari Jejaring Muda ILO, sebuah wadah bagi generasi muda Indonesia untuk berbagi gagasan dan perspektif mengenai isu ketenagakerjaan dan dunia kerja.

Related content

Generasi muda Sumatra Selatan perkuat Transisi Energi Berkeadilan di Indonesia melalui inovasi dan kolaborasi
Two persons

Siaran pers

Generasi muda Sumatra Selatan perkuat Transisi Energi Berkeadilan di Indonesia melalui inovasi dan kolaborasi

Kaum muda Sumatra Selatan menatap masa depan Indonesia yang lebih hijau tanpa batu bara
A person standing

Transisi energi berkeadilan

Kaum muda Sumatra Selatan menatap masa depan Indonesia yang lebih hijau tanpa batu bara

Masa depan hijau setelah batu bara di mata seorang anak muda Sumatra Selatan
A man sitting

Dampak kami, suara mereka

Masa depan hijau setelah batu bara di mata seorang anak muda Sumatra Selatan

Belajar dari ILO: Melihat pelatihan tenaga kerja dari perspektif Transisi Energi Berkeadilan
Four people standing

Transisi energi berkeadilan

Belajar dari ILO: Melihat pelatihan tenaga kerja dari perspektif Transisi Energi Berkeadilan