Dialog kebijakan
Akal imitasi (AI) dan non-diskriminasi di tempat kerja
AI sedang mengubah lanskap tempat kerja dengan cepat, mempengaruhi berbagai kelompok demografis. Menurut penelitian ILO, satu dari empat pekerja terpapar AI generatif pada suatu titik dalam karier mereka, dengan 3,3% tenaga kerja global termasuk dalam kelompok ini. Yang patut diperhatikan, risiko otomatisasi berdampak tidak proporsional pada karier perempuan, dengan 4,7% perempuan bekerja di peran dengan risiko tinggi dibandingkan dengan 2,4% laki-laki. Perbedaan ini terutama menonjol di negara-negara berpendapatan tinggi, di mana 9,6% tenaga kerja perempuan bekerja di bidang yang sangat terotomatisasi, dibandingkan dengan 3,5% untuk laki-laki.
Latar belakang
Kemajuan teknologi, terutama dalam bidang AI, sedang mengubah lanskap tempat kerja dengan cepat, di mana paparan terhadap AI generatif mempengaruhi satu dari empat pekerja secara global. Terdapat ketimpangan gender yang signifikan, di mana 4,7% pekerjaan perempuan berisiko terotomatisasi dibandingkan dengan 2,4% untuk laki-laki, terutama di negara-negara berpendapatan tinggi. Potensi AI untuk diskriminasi algoritmik ditekankan oleh kasus-kasus di mana data pelatihan yang bias menyebabkan hasil yang tidak menguntungkan bagi calon perempuan dalam proses perekrutan. Meskipun demikian, survei IBM tahun 2023 menunjukkan bahwa 42% perusahaan menggunakan AI untuk perekrutan dan penilaian kinerja. Di Indonesia, ketidaksetaraan gender tetap ada, dengan partisipasi tenaga kerja perempuan hanya 56,42% dibandingkan 84,66% untuk laki-laki. Sebagian besar orang dengan disabilitas juga menghadapi hambatan ekonomi, banyak yang bekerja secara informal dan mendapatkan penghasilan lebih rendah. Meskipun teknologi dapat memitigasi atau memperburuk ketidaksetaraan ini, teknologi bantu dan analisis machine learning menjanjikan untuk meningkatkan inklusi di tempat kerja. Forum ini bertujuan untuk mengatasi tantangan ini dan menjajaki strategi memanfaatkan AI untuk menguntungkan semua pekerja.
Tujuan
Dialog kebijakan ini mengumpulkan pejabat pemerintah, pemberi kerja, organisasi pekerja, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, dan ahli AI untuk:
- Menjelajahi potensi AI dalam mengurangi (atau memperburuk) ketidaksetaraan dan diskriminasi di tempat kerja
- Mengidentifikasi cara memanfaatkan AI untuk membantu mengidentifikasi bias dan mendorong keputusan yang paling tidak diskriminatif
- Mengembangkan ide-ide untuk:
- memaksimalkan potensi AI dalam meningkatkan akses terhadap pekerjaan yang layak bagi berbagai kelompok pekerja,
- melindungi pekerja di sektor-sektor berisiko dari pemutusan hubungan kerja,
- menjamin akses yang adil terhadap kesempatan peningkatan keterampilan dan pelatihan ulang,
- membangun sistem AI yang mempromosikan kesetaraan daripada merusaknya.
Peserta
Acara ini bertujuan untuk melibatkan peserta dari berbagai latar belakang, termasuk:
- Kementerian pemerintah
- Kedutaan besar
- Perusahaan/bisnis yang maju dalam teknologi dan AI di Indonesia
- Lembaga PBB lain
- Pemimpin serikat pekerja
- Lembaga akademik dan penelitian
- Media
Format
Acara ini akan melanjutkan diskusi panel sebelumnya dengan menawarkan eksplorasi yang lebih mendalam melalui presentasi yang dipimpin oleh ahli, diskusi panel interaktif, dan sesi tanya jawab. Sesi jejaring selama istirahat dan makan siang akan memfasilitasi koneksi yang bermakna dan pertukaran pengetahuan.
Presentasi (dalam bahasa Inggris)
Related content
Siaran pers
AI untuk kesetaraan di tempat kerja di Indonesia: Memanfaatkan teknologi untuk ciptakan tempat kerja yang adil, inklusif dan layak
Proyek
Mewujudkan keuntungan perdagangan bebas dari diskriminasi gender dan pekerja anak (RealGains)
Program
Akselerator Global ILO untuk Proyek Transisi Adil dalam Pekerjaan dan Perlindungan Sosial
Relevant projects
Proyek
Mewujudkan keuntungan perdagangan bebas dari diskriminasi gender dan pekerja anak (RealGains)
Program
Akselerator Global ILO untuk Proyek Transisi Adil dalam Pekerjaan dan Perlindungan Sosial