ILO dukung pengembangan pemimpin serikat pekerja perempuan di industri garmen

Program pelatihan ILO memberdayakan anggota serikat pekerja perempuan, mendorong mereka untuk mengambil peran kepemimpinan dan mendukung pengakuan isu-isu perempuan dalam perjanjian kerja bersama perusahaan.

16 Agustus 2023

Content also available in: English
Dua puluh satu pengurus perempuan dari Serikat Pekerja Nasional (SPN) dan Federasi Serikat Buruh untuk Industri Garmen, Tekstil, Kulit dan Sentra Industri dari Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (Garteks KSBSI) berkumpul di Semarang, Jawa Tengah. Mereka berpartisipasi dalam program pelatihan ILO selama dua hari tentang kepemimpinan perempuan dari tanggal 25-26 Juli.

Menggunakan metode partisipatif, para peserta duduk dalam susunan berbentuk U di mana mereka dapat saling berbagi secara terbuka tentang perjuangan, pengalaman, dan harapan mereka. Mereka mengakui bahwa struktur organisasi serikat yang maskulin, penerimaan sosial yang rendah terhadap kegiatan perempuan dalam serikat dan tanggung jawab keluarga yang ada mempersulit mereka untuk berpartisipasi penuh dalam kegiatan serikat.

engan memberdayakan dan memperkuat keterampilan kepemimpinan anggota komite perempuan dari organisasi serikat pekerja tingkat pabrik, mereka dapat lebih terlibat dalam peran pengambil keputusan dan posisi kepemimpinan untuk mendukung kebutuhan, suara dan akses perempuan."

Nurus S. Mufidah, Koordinator Proyek ILO untuk Proyek Penguatan Hubungan Industrial
Program pelatihan tersebut menandai gelombang terakhir dari rangkaian pelatihan kepemimpinan perempuan yang diselenggarakan oleh Proyek Penguatan Hubungan Industrial di Indonesia ILO bekerja sama dengan Biro Aktivitas Pekerja (ACTRAV) dan Better Work Indonesia (BWI)—sebuah program bersama ILO dan International Finance Cooperation. Dua pelatihan sebelumnya dilakukan di Jabodetabek dan Jawa Barat, menjangkau total 66 orang peserta.

Difasilitasi oleh para pelatih BWI, program pelatihan ini menggunakan manual pelatihan BWI yang khusus dibuat untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan perempuan di industri garmen. Manual pelatihan terdiri dari lima topik sebagai berikut: Kepemimpinan, kepercayaan diri, komunikasi untuk tindakan, manajemen percakapan serta pembinaan kelompok.

Nurus S. Mufidah, Koordinator Proyek ILO untuk Proyek Penguatan Hubungan Industrial, menyatakan bahwa serangkaian pelatihan ini bertujuan untuk mempromosikan keterwakilan dan kepemimpinan inklusif dalam organisasi serikat pekerja. “Dengan memberdayakan dan memperkuat keterampilan kepemimpinan anggota komite perempuan dari organisasi serikat pekerja tingkat pabrik, mereka dapat lebih terlibat dalam peran pengambil keputusan dan posisi kepemimpinan untuk mendukung kebutuhan, suara dan akses perempuan.”

Dalam membantu para peserta memperkuat kepercayaan diri dan peran kepemimpinan mereka, pelatihan ini memberikan sesi simulasi yang terkait dengan masalah dan aktivitas sehari-hari. Selama sesi ini mereka belajar bagaimana memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pola komunikasi di tempat kerja dan di dalam organisasi serikat pekerja, bagaimana mengatur pertemuan dan bagaimana membuat pengambilan keputusan yang efektif.

Mei Suryaning Safitri, 27 tahun, yang juga ketua serikat pekerja di perusahaan alas kaki di Semarang, mengatakan bahwa pelatihan selama dua hari telah mengubah dirinya menjadi percaya diri dan memiliki keyakinan yang kuat akan kemampuannya. “Perempuan bisa menjadi pemimpin dan program pelatihan ini telah mengajarkan saya untuk lebih tegas. Keterampilan memimpin tidak berdasarkan gender, tetapi berdasarkan kemampuan,” tukasnya.

Perempuan bisa menjadi pemimpin dan program pelatihan ini telah mengajarkan saya untuk lebih tegas. Keterampilan memimpin tidak berdasarkan gender, tetapi berdasarkan kemampuan."

Mei Suryaning Safitri, Pekerja garmen berusia 27 tahun
Sementara itu Ira R. Dewi, pekerja garmen berusia 43 tahun dengan pengalaman 17 tahun, mengaku bahwa program pelatihan tersebut telah mengajarkannya untuk menjadi pendengar yang seksama. “Salah satu kualitas kepemimpinan yang saya pelajari adalah menjadi pendengar yang baik. Hal ini terlihat mudah, namun sulit untuk dilakukan. Saya akan menggunakan kualitas ini untuk meyakinkan rekan kerja perempuan saya agar berani memperjuangkan hak-hak pekerja mereka,” ujarnya.

Setiap program pelatihan diakhiri dengan sesi refleksi di mana para peserta berkumpul dalam sebuah lingkaran, memikirkan apa yang bisa mereka lakukan selanjutnya. Mayoritas peserta menyatakan bahwa perempuan setara dengan laki-laki dan juga berhak mengambil peran kepemimpinan.

Program pelatihan ini, Nurus berharap, dapat memberdayakan perempuan agar dapat terlibat secara aktif dalam serikat pekerja mereka dan berpartisipasi dalam negosiasi untuk memasukkan kepentingan perempuan ke dalam perjanjian kerja bersama perusahaan. “Partisipasi aktif perempuan akan memastikan dimasukkannya berbagai masalah perempuan seperti hak menyusui, cuti melahirkan, jam kerja yang fleksibel, penyesuaian beban kerja untuk ibu hamil dan mekanisme yang efektif untuk menangani dan mencegah pelecehan seksual di tempat kerja."

Didanai oleh Pemerintah Kanada, Proyek Penguatan Hubungan Industrial ILO di Indonesia membangun kapasitas pekerja sektor garmen dan perwakilan mereka untuk secara efektif mengatur dan mewakili semua pekerja di sektor garmen Indonesia dan berpartisipasi lebih aktif dan inklusif dalam advokasi kebijakan nasional utama.

Related content

Dari ibu rumah tangga menjadi pemimpin serikat pekerja

Kepemimpinan perempuan

Dari ibu rumah tangga menjadi pemimpin serikat pekerja