Dampak kami, suara mereka
Peran seorang penggerak di Provinsi Sumatra Selatan dalam mengawal transisi energi berkeadilan untuk Indonesia
Seorang tokoh provinsi menguatkan langkah persiapan transisi energi berkeadilan di Sumatra Selatan guna mendukung komitmen Indonesia terhadap energi terbarukan.
15 Januari 2026
PALEMBANG, Sumatra Selatan, Indonesia (Kisah ILO) - Provinsi Sumatra Selatan sedang bertransisi menuju masa depan yang kurang bergantung pada batu bara dan semakin mengandalkan pekerja terampil serta peluang ekonomi berkelanjutan. Sejalan dengan perubahan ini, provinsi tersebut mendirikan Forum Konsultasi Daerah (FKD) untuk Percepatan Transformasi Ekonomi pada tahun lalu. Dibentuk secara resmi melalui Keputusan Gubernur, FKD mengumpulkan pemerintah daerah, pengusaha, serikat pekerja, universitas, masyarakat sipil dan media untuk bersama-sama membangun arah perekonomian provinsi.
Provinsi saat ini sedang mengembangkan Peta Jalan Pengembangan Keterampilan untuk Transisi Energi Berkeadilan, yang dirancang untuk memperkuat koordinasi antar kementerian dan memastikan program peningkatan dan penyesuaian keterampilan mampu mempersiapkan kemampuan pekerja yang terkena dampak. Peta jalan ini bertujuan untuk membekali mereka dengan kompetensi yang diperlukan dalam beradaptasi dengan dunia kerja yang terus berubah.
Berdiri di garis depan upaya ini adalah Hari Wibawa, Kepala Bidang Ekonomi dan Pendanaan Pembangunan di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Sebagai putra daerah Sumatra Selatan, Hari memainkan peran sentral dalam memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan dan mendorong agenda transisi berkeadilan di provinsi ini.
“Ini bukan topik baru bagi saya,” ujar dia. “Saya telah mendalami isu rumah kaca dan energi terbarukan sejak 2014, saat masih bekerja di Dinas Pertanian. Saya memahami betapa krusialnya transisi berkeadilan bagi provinsi kami, yang selama ini bergantung pada produksi dan pertambangan batu bara.”
Bagaimanapun juga, Sumatra Selatan harus siap. Kerja sama kami dengan ILO telah membantu mempersiapkan provinsi ini untuk transisi yang adil dan kini kita harus memastikan keberlanjutannya dalam jangka panjang.
Hari Wibawa, Kepala Bidang Ekonomi dan Pendanaan Pembangunan di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)
Selama tiga tahun terakhir, Hari, lulusan Universitas Sriwijaya dengan jurusan pertanian, telah berperan aktif, didukung oleh proyek Inisiatif Inovasi Kawasan untuk Transisi Energi Berkeadilan (IKI-JET) ILO, dalam mempercepat peralihan Sumatra Selatan dari batu bara ke energi terbarukan dan aktivitas ekonomi berkelanjutan lainnya. Melalui FKD, ia mencatat, provinsi telah mengidentifikasi 13 sektor potensial untuk pengembangan, memperkuat kolaborasi antar kementerian dan memperluas pemahaman tentang transisi berkeadilan dan energi terbarukan di kalangan pemerintah, akademisi dan masyarakat sipil.
“Saat ini, kita memiliki kesadaran yang kuat di tingkat-tingkat ini, yang sangat penting selama tahap persiapan,” kata Hari. “Dari 13 sektor potensial, kopi dan pariwisata telah dipilih sebagai prioritas di luar batu bara, dengan dukungan teknis dari ILO. Langkah selanjutnya adalah meningkatkan kesadaran publik dan pemangku kepentingan tentang dua sektor ini.”
Mempersiapkan generasi mendatang menjalani transisi
Kendati menjadi provinsi penghasil kopi terbesar di Indonesia berdasarkan luas wilayah, Hari menuturkan bahwa kopi Sumatra Selatan masih relatif tidak dikenal di kalangan konsumen domestik. Sektor pariwisata pun memiliki potensi yang belum sepenuhnya tergarap untuk mendukung diversifikasi ekonomi di luar sektor batu bara.
Untuk alasan ini, Hari kini bekerja sama dengan perguruan tinggi guna meningkatkan pemahaman mengenai transisi berkeadilan dan energi terbarukan di sektor pendidikan, mendorong penyesuaian kurikulum yang mencerminkan praktik bisnis ramah lingkungan. Ia juga mempromosikan kopi dan pariwisata sebagai sektor yang menjanjikan untuk lapangan kerja di masa depan.
Kita perlu mempersiapkan generasi muda untuk mengenali peluang di dua sektor ini. Pertanyaan kunci adalah apakah pekerja masa depan kita siap. Kita harus mengubah pola pikir mereka agar dapat mengembangkan jenis pekerjaan yang tersedia di sektor-sektor yang sedang berkembang ini.
Hari menekankan bahwa Dinas Tenaga Kerja Provinsi Sumatra Selatan memainkan peran penting dalam mempersiapkan pekerja. “Fokus utama kami adalah memperkuat balai-balai pelatihan pemerintah agar dapat membekali pekerja dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk beradaptasi dengan perubahan yang tak terhindarkan ini. Kita harus mempersiapkan pekerja lokal kita.”
Memastikan keberlanjutan program
Selain dinas tenaga kerja, perwakilan perusahaan, asosiasi bisnis dan serikat pekerja juga terlibat aktif dalam FKD. Peran serta mereka telah membantu Bappeda mengidentifikasi kebutuhan tenaga kerja. “Asosiasi bisnis telah menyatakan kesiapan mereka untuk menjalani transisi berkeadilan ini, sementara serikat pekerja memberikan masukan berharga mengenai hak-hak pekerja, perlindungan sosial dan mata pencarian. Isu-isu yang menjadi inti dari transisi yang adil,” ungkap Hari.
Dia juga memanfaatkan organisasi media massa secara strategis. Menyadari peran vital media dalam penyebaran informasi dan pendidikan publik, Hari aktif berpartisipasi dalam program pelatihan jurnalis bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Palembang.
“Media sangat penting karena mereka dapat membantu mendidik masyarakat tentang dampak sosial dan lingkungan, serta keadilan dalam distribusi energi. Kami juga melibatkan perwakilan media dalam FKD. Masukan mereka sangat penting karena isu lingkungan dan mata pencarian menjadi perhatian utama masyarakat di Sumatra Selatan,” pungkas Hari.
Kepemimpinan lokal sangat penting untuk mengubah komitmen iklim menjadi perubahan nyata. Pendekatan proaktif Sumatra Selatan menunjukkan bagaimana provinsi dapat memimpin transformasi ekonomi yang berkelanjutan dan tangguh.
Muce Mochtar, Koordinator Proyek Nasional ILO untuk Transisi Energi Berkeadilan
Menyadari adanya keterbatasan waktu dari dukungan ILO ini, Hari menekankan komitmen pemerintah provinsi untuk melanjutkan dan mempertahankan upaya transisi berkeadilan dan energi terbarukan. “Bagaimanapun juga, Sumatra Selatan harus siap. Kerja sama kami dengan ILO telah membantu mempersiapkan provinsi ini untuk transisi yang adil dan kini kita harus memastikan keberlanjutannya dalam jangka panjang.”
Mengapresiasi komitmen dan kemajuan Provinsi Sumatra Selatan, Muce Mochtar, Koordinator Proyek Nasional ILO untuk Transisi Energi Berkeadilan, menyatakan: “Kepemimpinan lokal sangat penting untuk mengubah komitmen iklim menjadi perubahan nyata. Pendekatan proaktif Sumatra Selatan, melalui FKD, peta jalan keterampilan dan keterlibatan pemangku kepentingan yang luas, menunjukkan bagaimana provinsi dapat memimpin transformasi ekonomi yang berkelanjutan dan tangguh.”
Artikel ini disusun oleh ILO dan diterbitkan bersama oleh Just Energy Transition in Coal Regions Knowledge Hub sebagai bagian dari Proyek IKI JET.
Related content
Transisi energi berkeadilan
Sumatra Selatan menapaki transisi energi yang adil melalui sektor kopi dan pariwisata
Transisi energi berkeadilan
Menuju Indonesia tanpa batu bara: Provinsi Sumatra Selatan mendorong pengembangan keterampilan untuk transisi energi berkeadilan