Indonesia mencapai 60 persen keberlanjutan dalam Tinjauan Program Pekerjaan Layak
ILO dan konstituen tripartitnya bersama-sama meninjau kemajuan pada tiga bidang prioritas Program Nasional Pekerjaan Layak (DWCP) Indonesia untuk periode 2020–2025.
18 Agustus 2025
JAKARTA, Indonesia (Berita ILO) - Enam puluh persen hasil dari Program Nasional Pekerjaan Layak (DWCP) Indonesia 2020–2025 terbukti berkelanjutan dan terus memberikan dampak jangka panjang setelah proyek berakhir. Hampir separuhnya (47%) menghasilkan reformasi besar, sementara 38 persen berkontribusi pada peningkatan bertahap dan 15 persen pada perubahan transformatif. Hal ini merupakan bukti nyata dari dampak program yang berkelanjutan dan transformatif yang dipaparkan dalam Tinjauan Kemajuan Negara ILO.
Diluncurkan pada 2020 untuk menanggapi lanskap kerja yang terus berkembang pesat, DWCP Indonesia berupaya mengatasi perubahan regulasi ketenagakerjaan melalui tiga prioritas strategis: 1. Dialog sosial yang efektif yang mendorong keberlanjutan bisnis dan kesejahteraan pekerja; 2. Penciptaan lapangan kerja dan kesempatan kerja bagi kaum muda; dan 3. Peningkatan perlindungan bagi kelompok pekerja rentan.
Tinjauan Kemajuan ILO mengungkapkan bahwa dari total 212 hasil yang dicapai, 94 selaras dengan Prioritas 1, 68 dengan Prioritas 2 dan 50 dengan Prioritas 3. Hasil ini menyoroti pendekatan yang seimbang dan terarah untuk memajukan pekerjaan layak di seluruh negeri.
Ke depannya, kita harus bersiap menghadapi tantangan-tantangan yang muncul, termasuk dinamika politik, perubahan iklim dan pesatnya perkembangan teknologi, untuk membangun dunia kerja yang lebih adaptif dan tangguh.
Chairul Saleh, Direktur Produktivitas Ketenagakerjaan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
Diselenggarakan di Jakarta pada 12 Agustus 2025, Tinjauan Kemajuan menyoroti bahwa perubahan paling signifikan didorong oleh pemerintah, yang mencakup 45 persen dari total perubahan, sementara organisasi pekerja dan pemberi kerja berkontribusi sebesar 14 persen. Kendati terdapat kemajuan, tantangan utama tetap ada. Prioritas 1 menghadapi keterlibatan bipartit dan tripartit yang terbatas, sementara Prioritas 2 tidak melihat kemajuan nyata dalam mengembangkan sistem informasi pasar tenaga kerja yang berorientasi pada keterampilan masa depan. Selain itu, Prioritas 3 terhambat oleh tidak adanya strategi terpadu di antara para pemangku kepentingan, yang menyebabkan upaya yang terfragmentasi dan potensi terjadinya tumpang tindih di berbagai hasil.
Chairul Saleh, Direktur Produktivitas Ketenagakerjaan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), menyambut baik upaya ILO dan mitra tripartitnya dalam melakukan tinjauan kemajuan yang komprehensif dan hasil-hasilnya yang menggembirakan. Ia mencatat bahwa hasil-hasil tersebut sangat selaras dengan indikator kinerja utama Kemenko Perekonomian.
"Ke depannya, kita harus bersiap menghadapi tantangan-tantangan yang muncul, termasuk dinamika politik, perubahan iklim dan pesatnya perkembangan teknologi, untuk membangun dunia kerja yang lebih adaptif dan tangguh. Di Kemenko Perekonomian, kami sedang menjajaki peluang di sektor pekerjaan hijau, dengan fokus khusus pada identifikasi dan pengembangan keterampilan yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhannya," ujar Chairul.
Meskipun hasilnya menggembirakan dan menginspirasi, masih ada area-area yang perlu kita tingkatkan melalui kerja sama berkelanjutan. Upaya ini harus dilanjutkan dalam siklus DWCP berikutnya.
Simrin Singh, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste
Umpan balik dari sekitar 70 konstituen tripartit yang berpartisipasi menyoroti beberapa masalah utama, yakni kebutuhan untuk menerjemahkan hasil menjadi perbaikan nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, kesenjangan yang terus-menerus dalam koordinasi dengan pemerintah daerah, pentingnya tindakan tindak lanjut yang konkret demi mempertahankan kemajuan, kondisi kerja saat ini yang mengharuskan pekerja untuk melakukan beragam tugas secara bersamaan dan memastikan bahwa semua hasil selaras dengan kerangka kerja perencanaan pembangunan jangka panjang.
Simrin Singh, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, mengapresiasi semangat kolaborasi yang tercermin dalam Tinjauan Kemajuan ini. Ia menekankan, “DWCP adalah program nasional Indonesia, dengan peran ILO hanya sebagai fasilitator. Meskipun hasilnya menggembirakan dan menginspirasi, masih ada area-area yang perlu kita tingkatkan melalui kerja sama berkelanjutan. Upaya ini harus dilanjutkan dalam siklus DWCP berikutnya.”
Related content
ILO bekerja sama dengan konstituen tripartit mendokumentasikan kemajuan DWCP berbasis bukti di Indonesia