Two persons

Pekerjaan hijau

UMKM di Indonesia terapkan praktik ramah lingkungan untuk tumbuh dan membuka peluang baru

Mulai dari mengolah lidah buaya menjadi usaha minim limbah hingga menghadirkan jamu tradisional dengan sentuhan modern, para pelaku usaha kecil di Indonesia menemukan bahwa praktik yang lebih ramah lingkungan dapat membantu mereka memanfaatkan sumber daya secara lebih bertanggung jawab, memperkuat usaha, sekaligus membuka peluang baru.

18 September 2026

Two owners of green SMEs in Yogyakarta, Indonesia. © ILO
Content also available in: English
Meet entrepreneurs who are turning new skills into sustainable businesses in Indonesia.

YOGYAKARTA, Indonesia (Berita ILO) - Semuanya bermula dari sebuah gagasan sederhana: memanfaatkan lahan di sekitar rumah dengan lebih baik. Bersama kelompok tani Kencana Asri Kadipaten di Yogyakarta, Rahardyan Chandra mulai membudidayakan lidah buaya yang selama ini kurang dimanfaatkan. Dengan dukungan istrinya, ia kemudian mengolah tanaman tersebut menjadi minuman siap konsumsi dengan merek Gawe Sae.
Apa yang awalnya merupakan upaya untuk mengembangkan usaha, perlahan menjadi kesempatan untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara lebih optimal sekaligus berbagi manfaat dengan masyarakat sekitar.

“Awalnya, kami hanya menggunakan daging lidah buaya. Namun, seiring berkembangnya usaha, kami menyadari hampir semua bagiannya bisa diolah dan dimanfaatkan,” kata Chandra. “Sekarang, usaha kami praktis hampir tidak menghasilkan limbah. Bahkan botol bekasnya masih bisa didaur ulang melalui bank sampah.”

Perubahan dalam usaha Chandra tidak hanya terlihat dari cara ia memanfaatkan lidah buaya. Ia juga membenahi pengelolaan usaha dan keuangannya.

“Sekarang administrasi kami jauh lebih tertata. Dulu kami hanya menggunakan surat jalan sederhana. Sekarang kami sudah memahami pencatatan keuangan yang baik,” ujarnya. “Kami mencetak faktur dengan format standar, membangun jejaring dan, syukurlah, pasar kami kini sudah meluas hingga ke luar kota.”

Praktik ramah lingkungan, peluang baru

A woman
© ILO
© ILO
Dwi Kuntari, pemiliki Jamu Deka, bisnis hijau di Yogyakarta, Indonesia, sedang menata produk-produknya.

Dwi Kuntari menempuh perjalanan serupa melalui usahanya, Jamu Deka. Berangkat dari kecintaannya terhadap jamu, minuman herbal tradisional Indonesia, Dwi ingin memperkenalkannya kepada generasi muda dengan cara yang lebih sesuai dengan gaya hidup masa kini. Dalam prosesnya, ia mulai menerapkan praktik usaha yang lebih ramah lingkungan, tidak hanya dengan mengubah kemasan, tetapi juga membenahi cara mengelola dan mengembangkan usahanya.

Hanya dalam beberapa bulan, dari September hingga Desember 2025, Dwi mulai melihat perkembangan positif dalam usahanya, termasuk peningkatan pendapatan. Sejak itu, Jamu Deka mulai mengikuti berbagai kegiatan terkait ekspor melalui asosiasi usaha dan program pemerintah. Ia juga memperoleh kesempatan untuk membawa produknya ke Malaysia dan Thailand pada 2026.

Usahanya juga membentuk divisi kebun baru yang membuka berbagai kegiatan ekonomi tambahan, mulai dari produksi kompos dan pembibitan tanaman hingga wisata edukasi di kebun herbal miliknya.

Banyak sekali yang berubah. Pendapatan kami meningkat dari 2 persen menjadi 17 persen. Kami juga memperluas tim dengan menambah staf administrasi, tim media sosial, dan staf produksi. Kemasan produk kini terlihat lebih eksklusif dan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. Pencatatan keuangan kami juga jauh lebih tertata.

Dwi Kuntari

Mendukung UMKM untuk tumbuh lebih hijau

Bottles
© ILO
© ILO
Contoh produk-produk ramah lingkungan oleh UKM di Yogyakarta, Indonesia.

Chandra dan Dwi merupakan bagian dari pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang telah mengikuti pelatihan pariwisata hijau yang diselenggarakan ILO bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Melalui Partnership for Action on Green Economy (PAGE), ILO mendorong penerapan pendekatan ekonomi hijau, rendah karbon dan sirkular yang dapat membantu usaha berkembang sekaligus memanfaatkan sumber daya secara lebih bertanggung jawab dan menciptakan pekerjaan layak.

Hingga Desember 2025, program ini telah menghasilkan 19 pelatih bersertifikat dan mengembangkan modul pelatihan komprehensif yang mencakup kewirausahaan, literasi keuangan dan pariwisata hijau. Empat proyek percontohan di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sumatra Utara dan Nusa Tenggara Barat, menjangkau 172 UMKM sektor pariwisata. Program ini telah direplikasi di 12 provinsi dan menjangkau lebih dari 950 UMKM.

UMKM sering kali belum menyadari bahwa pencatatan keuangan yang baik merupakan salah satu persyaratan penting ketika mengajukan pembiayaan usaha untuk mengembangkan bisnis mereka.

Hanif Andi Al Ansori, pelatih dan mentor pariwisata hijau

Salah satu bagian penting dari pendekatan ini adalah membantu pelaku usaha kecil memahami bahwa menjadi lebih ramah lingkungan juga berjalan seiring dengan penguatan dasar-dasar pengelolaan usaha.

Hanif Andi Al Ansori, pelatih dan mentor pariwisata hijau, mencontohkan pentingnya pengelolaan keuangan. “Pencatatan keuangan yang kami ajarkan sebenarnya sangat sederhana, tetapi justru hal-hal seperti inilah yang diperhatikan oleh bank,” ujarnya. “UMKM sering kali belum menyadari bahwa pencatatan keuangan yang baik merupakan salah satu persyaratan penting ketika mengajukan pembiayaan usaha untuk mengembangkan bisnis mereka.”

Membawa praktik hijau ke tingkat masyarakat

Two persons sitting
© ILO
© ILO
Rahardyan Chandra, pemilik UKM di Yogyakarta, Indonesia, tidak hanya mempelajari praktik usaha hijau, tapi juga pengelolaan keuangan.

Perubahan juga mulai terasa di tingkat masyarakat. Di Kampung Wisata Jagalan yang berada di kawasan bersejarah Kotagede, Yogyakarta, praktik pariwisata hijau mulai diterapkan dalam cara masyarakat menyambut dan melayani wisatawan.

Ismail, pengelola Kampung Wisata Jagalan, mengatakan salah satu perubahan sederhana yang dilakukan adalah mengurangi penggunaan minuman dalam kemasan botol. “Dulu, ketika ada tamu datang, kami biasa menyajikan minuman kemasan botol. Sekarang kami beralih menyajikan minuman lokal dari Kotagede Jagalan, seperti jus jambu dan wedang secang, dengan menggunakan gelas,” ujarnya.

Ke depan, saya berharap semakin banyak orang yang memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah mereka dan mudah-mudahan bisa menjadi produktif juga.

Rahardyan Chandra

Kampung wisata tersebut juga mendorong pengunjung untuk menghindari penggunaan botol plastik sekali pakai dengan menyediakan tumbler atau mengimbau mereka membawa tumbler sendiri. Perubahan seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi usaha kecil dan masyarakat, langkah tersebut menunjukkan bagaimana kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi bagian dari praktik usaha sehari-hari sekaligus membuka peluang bagi produk dan usaha lokal.

Bagi Chandra, langkah selanjutnya adalah mendorong lebih banyak orang untuk melihat potensi sumber daya yang sebenarnya sudah tersedia di sekitar mereka. “Ke depan, saya berharap semakin banyak orang yang memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah mereka dan mudah-mudahan bisa menjadi produktif juga,” katanya.

Sementara itu, Dwi melihat kolaborasi sebagai kunci untuk membawa usahanya berkembang lebih jauh. “Strategi kami adalah berkolaborasi untuk mempercepat pertumbuhan usaha,” ujarnya. “Semoga tahun depan pasar kami bisa semakin luas, bahkan mungkin kami bisa melakukan ekspor.”

Bagi kedua pelaku usaha ini, menjadi lebih ramah lingkungan bukan sekadar mengurangi limbah atau mengganti kemasan. Langkah tersebut juga berarti menemukan nilai baru dari sumber daya yang sudah tersedia, memperbaiki cara mereka mengelola usaha, dan membuka akses menuju pasar-pasar baru.

Pengalaman mereka menunjukkan bahwa bagi usaha kecil, praktik yang lebih ramah lingkungan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana dan praktis: memanfaatkan apa yang sudah tersedia, mengelola sumber daya dengan lebih bijak, dan secara bertahap membangun usaha yang lebih kuat untuk masa depan.

Related content

Pengusaha perempuan mendorong pertumbuhan hijau dan penciptaan lapangan kerja di Indonesia
a woman

Pengusaha perempuan mendorong pertumbuhan hijau dan penciptaan lapangan kerja di Indonesia