a woman

Pengusaha perempuan mendorong pertumbuhan hijau dan penciptaan lapangan kerja di Indonesia

Di Indonesia, dengan dukungan dari ILO, seorang pengusaha perempuan mengubah tradisi menjadi bisnis yang berkembang, menciptakan lapangan kerja dan mendorong praktik berkelanjutan.

15 April 2026

Dwi Kuntari, Owner of green business of Jamu Deka in Yogyakarta, Indonesia. © Rizki Nasution/ILO
Content also available in: English

YOGYAKARTA, Indonesia (Berita ILO) - Dwi Kuntari, seorang pengusaha berusia 32 tahun, telah lama memiliki ketertarikan terhadap jamu, minuman herbal tradisional Indonesia yang dikenal memiliki manfaat kesehatan dan kebugaran. Tumbuh dalam keluarga yang menjual bahan-bahan jamu, ia mengenal dekat manfaat jamu sejak usia dini. Ketertarikannya juga semakin kental saat ia dinobatkan sebagai “Ms Jamu” di bangku sekolah menengah atas.

“Saya sejak kecil memang tertarik dengan jamu. Ketika sakit, nenek sering membawakan jeruk nipis yang dicampur kecap. Dari situlah saya mulai senang membuat jamu,” kisah Dwi.

Didorong oleh ketertarikan tersebut, ia mendirikan Jamu Deka pada 2016 di Muntilan, Magelang, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berawal dari hanya dua varian produk, kini usahanya telah berkembang menjadi lebih dari 16 produk, mulai dari jamu kering, minuman herbal cair hingga sirup herbal – sebagian dikemas dengan sentuhan modern untuk menjangkau konsumen muda.

Bottles
© Dwi Kuntari
© Dwi Kuntari
Beragam variasi produk Jamu Deka di Yogyakarta, Indonesia.

Inovasi menjadi salah satu kekuatan utama Jamu Deka. Di tengah banyak produsen yang masih mengandalkan resep konvensional, Dwi mengombinasikan bahan-bahan tradisional dengan buah dan sayuran seperti wortel, tomat dan lemon. Produk unggulannya antara lain minuman beras kencur yang dipadukan dengan lidah buaya berjenama “Belovera” serta minuman berbahan asam jawa yang dipasarkan dengan label “Gulas.”

“Pendekatan kreatif ini menjadi salah satu strategi agar jamu tidak lagi dipandang kuno, melainkan sebagai minuman sehat yang trendi dan relevan dengan gaya hidup masa kini,” jelasnya.

Bagi Dwi, menjalankan bisnis jamu bukan semata-mata soal keuntungan. “Visi saya adalah menjaga tradisi minuman herbal Indonesia sekaligus memberdayakan peracik jamu di sekitar Muntilan,” tambahnya.

Bergerak menuju praktik bisnis yang lebih hijau

Six people
© Dwi Kuntari
© Dwi Kuntari
Salah satu kelas jamu yang diselenggarakan oleh Jamu Deka di Yogyakarta Indonesia.

Partisipasinya dalam program pariwisata hijau yang didukung oleh ILO menjadi sebuah titik balik. Sebagai salah satu dari 172 usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sektor pariwisata yang mengikuti pelatihan selama lima hari dan pendampingan bisnis selama tiga bulan yang diselenggarakan ILO bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata, Dwi berhasil meningkatkan keterampilan manajemen usahanya sekaligus mengadopsi praktik yang lebih berkelanjutan. Inisiatif ini merupakan bagian dari Kemitraan Aksi untuk Ekonomi Hijau (PAGE), yang mendorong pendekatan ekonomi hijau, rendah karbon dan sirkular untuk mendukung pengembangan usaha dan penciptaan pekerjaan layak.

“Sebelumnya saya mengerjakan semuanya sendiri. Pelatihan ini mengubah pola pikir saya. Saya sadar bahwa untuk berkembang, kita membutuhkan tim,” ujarnya.

Keuntungan kami meningkat signifikan, dari sekitar 1–2 persen menjadi 17 persen. Sekarang kami memiliki tim yang lebih kuat dan pencatatan keuangan dilakukan secara digital dan manual.

Sejak saat itu, usahanya berkembang baik dari sisi skala maupun dampak. Ia mulai mengganti kemasan plastik dengan botol kaca, memperbaiki sistem pencatatan keuangan serta menciptakan lapangan kerja baru dengan membentuk tim yang mencakup staf administrasi, media sosial dan produksi.

“Keuntungan kami meningkat signifikan, dari sekitar 1–2 persen menjadi 17 persen,” ungkapnya. “Sekarang kami memiliki tim yang lebih kuat dan pencatatan keuangan dilakukan secara digital dan manual.”

Dwi juga melakukan diversifikasi usaha dengan membangun divisi kebun herbal, yang menghasilkan pendapatan tambahan melalui produksi kompos, pengembangan bibit serta wisata edukasi. Upaya ini tidak hanya memperkuat ketahanan usaha, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan.

Saat ini, Jamu Deka melayani konsumen domestik dari berbagai segmen pasar, termasuk segmen premium, serta telah menjangkau pasar di negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Perjalanan Dwi menunjukkan bagaimana UMKM, dengan dukungan keterampilan dan kemitraan yang tepat, dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

“Kami bangga dengan kemitraan dan visi bersama ini untuk memperkuat citra pariwisata Indonesia sekaligus meningkatkan mata pencarian melalui pariwisata yang hijau dan berkelanjutan,” ujar Simrin Singh, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste.

Related content

Pariwisata hijau sebagai fondasi masa depan UMKM Indonesia
Nine people standing on the stage

Siaran pers

Pariwisata hijau sebagai fondasi masa depan UMKM Indonesia