Ekonomi perawatan

Perjalanan saya melawan tradisi sebagai bapak rumah tangga

Dengan karier istrinya yang menawarkan peluang lebih besar, Phadli Hasyim Harahap di Indonesia mengambil keputusan berani untuk mengambil peran sebagai bapak rumah tangga—menantang norma-norma tradisional dan ekspektasi budaya.

16 Juli 2025

Phadli Hasyim Harahap © ILO
Content also available in: English
A care work documentary video titled "A journey of a-stay-home-father".

Nama saya Phadli Hasyim Harahap. Saya seorang ayah berusia 39 tahun dengan dua anak dan saat ini menjadi bapak rumah tangga.

Pagi saya dimulai lebih awal—biasanya sekitar pukul 4:30 hingga 5:00. Saya memulai hari dengan menyiapkan sarapan untuk anak sulung saya yang sudah bersekolah. Pada pukul 6:15 pagi, saat dia bersiap-siap, saya menyiapkan seragamnya. Dia berangkat ke sekolah dengan ojek.

Segera setelah itu, saya mengalihkan perhatian saya ke anak saya yang lebih kecil, yang biasanya bangun antara pukul 07.00 dan 08.00. Setelah dia bangun, saya memandikannya agar dia bisa memulai harinya dengan rapi dan bersih. Saya kemudian menyiapkan sarapan sederhana—biasanya hanya telur atau nuget. Saya memasak dan menyuapinya.

Masa transisi menjadi bapak rumah tangga dipenuhi dengan berbagai macam emosi. Awalnya, saya merasa canggung dan bahkan malu.

Saya sudah menikah sejak 2011. Pada tahun-tahun awal, saya bekerja sebagai peneliti lepas, yang sering kali bepergian ke luar kota. Tentu saja, istri saya tinggal di rumah untuk merawat anak-anak kami.

Namun keadaan mulai berubah ketika anak sulung kami berusia empat tahun. Istri saya menerima tawaran pekerjaan dari sebuah LSM lokal, dan jadwalnya dengan cepat menjadi lebih padat dibandingkan saya. Seiring dengan bertambahnya tanggung jawab profesionalnya, saya secara bertahap mengambil alih lebih banyak tugas pengasuhan anak dan rumah tangga.

© ILO
© ILO
Phadli Hasyim Harahap dan anak keduanya di Indonesia. 6/2025

Pada saat pandemi COVID-19 muncul, kontrak saya hampir selesai. Untungnya, saya mendapatkan pekerjaan lain, tetapi mengharuskan kami untuk pindah. Dari sudut pandang karier, posisi istri saya lebih menjanjikan, terutama setelah dia pindah ke sebuah LSM internasional. Setelah mempertimbangkan dengan matang, kami sepakat bahwa ia akan terus bekerja di luar rumah.

Masa transisi menjadi bapak rumah tangga dipenuhi dengan berbagai macam emosi. Awalnya, saya merasa canggung dan bahkan malu. Tiba-tiba, saya bertanggung jawab untuk semua pekerjaan rumah tangga—menyetrika, mencuci, memasak. Butuh waktu untuk menyesuaikan diri.

Jadi, setelah saling berbicara, kami memutuskan bahwa istri saya, dengan prospek karier yang lebih besar, akan terus bekerja sementara saya fokus merawat anak-anak kami.

Kami tidak pernah terpikir untuk mempekerjakan seorang pekerja rumah tangga, karena kami yakin dapat mengatur semuanya sendiri. Dalam hal makanan dan pendidikan, kami yakin bahwa sebagai orang tua, kami membuat pilihan yang terbaik dan sehat untuk anak-anak kami.

Secara sosial, peran ini membawa tantangan tersendiri. Keluarga saya—terutama ayah, kakak ipar dan ipar-ipar saya yang lain—sering kali menunjukkan kekhawatirannya. Saya orang Batak, sebuah budaya yang dikenal dengan struktur sosial yang patriarkis, di mana laki-laki umumnya memegang lebih banyak otoritas dalam urusan keluarga dan masyarakat.

Tidak umum bagi laki-laki untuk tidak bekerja. Semua kakak laki-laki saya memiliki pekerjaan, dan saya menjadi pengecualian. Saat saya pulang ke kampung halaman, mereka sering kali bertanya dan meminta, “Ayo, cari pekerjaan apa saja.”

A man holding a broom
© ILO
© ILO
Phadli Hasyim Harahap membersihkan rumah di Indonesia. 6/2025

Mencuci pakaian telah menjadi bagian dari rutinitas saya. Menariknya, setiap kali saya menjemur pakaian—terutama pakaian istri saya—ibu-ibu tetangga sering lewat dan menanyakan hal yang sama: “Tidak bekerja bekerja hari ini?” atau “Istrinya di mana?”

Padahal mereka tahu saya ada di rumah setiap hari. Mungkin melihat seorang laki-laki menjemur cucian tetap saja terasa aneh untuk mereka.

Setelah anak kedua kami lahir, saya ditawari kesempatan untuk melakukan penelitian di luar kota. Namun dengan jadwal kerja istri saya yang padat, tidak memungkinkan baginya untuk tinggal di rumah, jadi saya menolak tawaran tersebut.

Kami belajar dari pengalaman, jika kami berdua bekerja, kehidupan kami menjadi kacau dan sering melahirkan perselisihan. Jadi, setelah saling berbicara, kami memutuskan bahwa istri saya, dengan prospek karier yang lebih besar, akan terus bekerja sementara saya fokus merawat anak-anak kami.

Inilah hidup kami. Inilah pilihan yang kami buat—membesarkan anak-anak kami sendiri.

Related content

Kampanye ekonomi perawatan Indonesia melalui film dokumenter

Ekonomi perawatan

Kampanye ekonomi perawatan Indonesia melalui film dokumenter