Ekonomi perawatan
Layanan penitipan anak memungkinkan seorang ibu pekerja informal merawat dan menafkahi keluarganya
Inilah perjalanan hidup Siti Riyanti, seorang ibu pekerja dengan dua anak yang mampu menghidupi keluarga dan mengasuh putra-putranya dengan dukungan layanan penitipan anak yang berkualitas dan terjangkau.
20 November 2023
Ibu mertuanya hanya mampu merawat putra pertamanya yang berusia 10 tahun sepulang sekolah. Ini berarti Siti perlu mencari tempat penitipan anak bagi putra bungsunya dan tidak mudah menemukan tempat penitipan anak di dekat pabrik agar ia dapat sampai di tempat kerja tepat waktu.
“Penting bagi saya untuk mempertahankan pekerjaan saya. Saya harus menjaga kinerja kerja saya di bagian lem karena saya tidak mungkin tidak bekerja,” ujarnya.
Dia merasa beruntung ketika menemukan sebuah rumah di lingkungan pabrik yang menawarkan layanan penitipan anak yang terjangkau. Dia hanya diminta menyiapkan makanan dan camilan untuk putranya sendiri. “Rutinitas saya setiap pagi, setelah menyiapkan makanan, adalah mengantar putra pertama saya ke sekolah dan menjemputnya bersama putra bungsu saya dari rumah neneknya sepulang kerja.”Layanan penitipan anak ini memungkinkan saya untuk bekerja dan menghidupi keluarga saya, sekaligus membantu putra saya untuk belajar dan tumbuh.."
Siti Riyanti
Namun, hal itu hanya berlangsung kurang dari seminggu. Ia merasa curiga ketika putranya selalu menangis dalam perjalanan menuju tempat penitipan anak. Pada hari keenam, dia memutuskan untuk datang ke penitipan anak tersebut saat istirahat makan siang untuk mengecek kondisi putra bungsunya.
“Saya baru sampai di teras saat mendengar anak saya diomeli secara kasar. Saya masuk ke dalam dan melihat anak saya tidur di lantai tanpa tikar maupun kasur. Saya sangat terhenyak,” kisahnya seraya menahan air mata dengan emosi. “Bahkan setelah enam tahun berlalu, saya tetap merasa emosi mengingat bagaimana anak saya diperlakukan dengan buruk. Saya tidak punya banyak uang, tapi saya tidak bisa membiarkan siapa pun menyakiti anak saya.”
Dia kemudian meminta cuti kerja selama dua hari untuk mencari layanan penitipan anak yang baik dan layak. Namun pada kenyataannya: Biaya penitipan anak yang baik tidak terjangkau. Dia hanya mampu membayar penitipan anak dengan pelayanan yang buruk.
Saat diterpa rasa kehabisan waktu dan putus asa, salah satu rekan kerjanya merekomendasikan sebuah tempat penitipan anak yang baru dibuka bernama Rumah Bahagia yang terletak di sekitar tempat tinggalnya. Penitipan anak Rumah Bahagia merupakan penitipan anak berbasis komunitas yang dikelola oleh Lembaga Solidaritas Buruh Surabaya (ISBS) dengan sasaran pekerja dan buruh pabrik perempuan yang memiliki anak kecil di bawah usia 7 tahun.
“Saya menjalani proses wawancara, dan saya menceritakan kondisi saya yang sangat membutuhkan layanan penitipan anak agar bisa bekerja menghidupi keluarga,” kenang Siti yang kini berusia 44 tahun.
Siti merasa lega ketika putra bungsunya akhirnya dapat diterima di tempat penitipan anak Rumah Bahagia dan menjadi bagian dari program pendidikan Rumah Bahagia. Beberapa bulan kemudian, Siti mendapat informasi bahwa putranya mengalami kesulitan mengikuti perintah dan instruksi.
Dengan bantuan Rumah Bahagia, putranya diuji dan didiagnosis lamban belajar. “IQ anak saya 76, di bawah 100. Saya tidak begitu paham maksudnya. Namun, staf penitipan anak Rumah Bahagia meyakinkan saya bahwa mereka akan membantu anak saya mengatasi kesulitan belajarnya,” ungkap Siti.
Merasa nyaman dengan anaknya diasuh di tempat penitipan anak, Siti pun dapat terfokus pada pekerjaannya bahkan mendapat pekerjaan baru di tahun 2017 dengan penghasilan lebih tinggi sebagai petugas kebersihan di sebuah pujasera. Dia bahkan mampu membayar biaya penitipan anak sebesar Rp 300.000.ILO telah mendukung Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam pengembangan Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional mengenai Ekonomi Perawatan di Indonesia dan prioritas pertama yang diidentifikasi adalah layanan penitipan anak. Investasi pada layanan penitipan anak semesta dan perawatan jangka panjang di Indonesia akan menciptakan hampir 10,4 juta lapangan kerja pada 2035."
Early Dewi Nuriana, Staf ILO untuk Ekonomi Perawatan
Namun ketika pandemi COVID-19 terjadi pada awal tahun 2020, Siti kehilangan pekerjaan dan tidak mampu lagi membayar biaya penitipan anak. “Saya meminta keringanan, dan saya diperbolehkan membayar berapapun yang saya mampu,”katanya. Dia berusaha keras untuk membayar semampunya hingga ia sama sekali tidak mampu membayar.
Saat putranya berusia tujuh tahun dan lulus dari Rumah Bahagia untuk masuk SD, Siti bersyukur putranya bisa mengikuti sistem pendidikan umum.
Saat ini, putra bungsunya sudah duduk di bangku kelas 4 SD dan mendapat penilaian baik dari gurunya. Para guru juga memuji kemauan belajar, sopan santun dan etikanya. Siti dilaporkan bahwa putranya bahkan memberikan contoh yang baik kepada teman-temannya, seperti mendorong mereka untuk meminta maaf jika berbuat kesalahan, meminta izin, menjaga kebersihan dan mengulurkan tangan.
“Layanan penitipan anak ini memungkinkan saya untuk bekerja dan menghidupi keluarga saya, sekaligus membantu putra saya untuk belajar dan tumbuh. Rumah Bahagia telah mengajarkannya untuk disiplin, mandiri dan berakhlak baik. Para gurunya juga menilai dia dapat mengikuti sebagian besar pembelajaran dan kesulitannya hanya pada tulisan tangan,” ujar Siti, yang kini berprofesi sebagai pengendara ojek daring, dengan bangga.
Early Dewi Nuriana, Staf ILO untuk Ekonomi Perawatan, mengatakan bagi orang tua yang bekerja untuk mendapatkan penghasilan atau ingin bekerja, perawatan anak merupakan persoalan yang hampir bersifat umum. Layanan penitipan anak tidak hanya meningkatkan akses perempuan terhadap pekerjaan, namun juga meningkatkan peluang kerja dalam perawatan anak.
“ILO telah mendukung Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam pengembangan Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional mengenai Ekonomi Perawatan di Indonesia dan prioritas pertama yang diidentifikasi adalah layanan penitipan anak. Investasi pada layanan penitipan anak semesta dan perawatan jangka panjang di Indonesia akan menciptakan hampir 10,4 juta lapangan kerja pada 2035,” kata Early.
Related content
Ekonomi perawatan
Layanan penitipan anak berbasis perusahaan meningkatkan loyalitas dan produktivitas pekerja