Digitalisasi dan inklusi keuangan

Inovasi digital tingkatkan keuangan pedesaan dan dukung UMKM lokal di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia

Didukung ILO, sebuah bank perkreditan rakyat di Pati, Jawa Tengah, Indonesia telah meningkatkan layanan keuangannya, memberdayakan klien untuk mengelola keuangan mereka dengan lebih baik, memperkuat bisnis lokal, dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

18 Juli 2025

Content also available in: English

PATI, Jawa Tengah, Indonesia (Berita ILO) - Siti Musyarofah, seorang ibu dua anak, adalah nasabah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Artha Huda Abadi (AHA) di Pati, Jawa Tengah sejak tahun 2022. Selama tiga tahun terakhir, ia telah menggunakan BPR AHA untuk mengelola tabungan keluarganya, yang diambil dari gajinya sebagai guru dan usaha alat tulis kecil milik suaminya yang dijalankan dari rumah.

Siti Musyarofah (tengah) bersama suami dan staf kredit BPR AHA di depan toko alat tulis milik suaminya.

Ia mengenang enam bulan lalu dimana aktifitas perbankan rutin mengharuskan perjalanan dan antre berjam-jam. Namun, dengan penerapan sistem perbankan inti (core banking system/CBS) baru BPR AHA, perjalanan jauh tersebut kini tak lagi diperlukan. Kini, ia dapat mengelola rekeningnya dengan mudah melalui mobile banking.

"Sekarang, saya merasa lebih terlayani. Saya bisa langsung mengakses rekening saya dan melihat catatan secara langsung. Pembaruan rutin mengenai produk dan literasi keuangan yang dibagikan oleh BPR AHA juga telah memperkuat kepercayaan saya kepada bank ini," ujarnya.

Melalui layanan perbankan selulernya, Siti kini dapat mengelola keuangannya dengan mudah kapan pun dan di mana pun. Akses ke layanan keuangan digital ini telah memperkuat perannya dalam pengambilan keputusan keluarga dan mendukung kemandirian finansialnya. "Saya sekarang dapat mengelola keuangan keluarga dengan mudah, mendukung bisnis keluarga dengan melacak pendapatan dan pengeluaran, serta membuat keputusan yang tepat waktu," ujarnya.

Sejak akhir 2024, BPR AHA telah menerima dukungan teknis untuk meningkatkan CBS melalui proyek ILO yang dikenal dengan nama Mempromosikan Usaha Kecil dan Menengah melalui Akses Pelaku Wirausaha terhadap Jasa Keuangan (Promise II Impact). Proyek ini didukung oleh Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO). Peningkatan ini memungkinkan bank untuk memperkenalkan penilaian kredit secara real-time, aplikasi pinjaman yang disederhanakan, komunikasi WhatsApp yang terintegrasi, serta layanan perbankan seluler dan daring yang mudah digunakan.

Sekarang, saya merasa lebih terlayani. Saya bisa langsung mengakses rekening saya dan melihat catatan secara langsung.

Siti Musyarofah, nasabah BPR AHA

Hasilnya, waktu transaksi menurun drastis dari rata-rata 30 menit menjadi hanya 5 menit. Ini memungkinkan staf dan klien untuk lebih fokus pada pertumbuhan dan produktivitas. Selain mmberikan kecepatan dan kenyamanan, perbankan digital mengurangi kebutuhan akan kunjungan fisik, antrean panjang, dan proses berbasis kertas, sehingga meningkatkan keselamatan kerja, mengurangi limbah kertas, dan membantu para wirausahawan berkonsentrasi pada pengembangan bisnis mereka.

M. Islam, klien lama sejak 2019 dan distributor makanan ringan serta tepung tapioka, telah merasakan langsung manfaat dari peningkatan sistem ini. Ia mengenang bagaimana pengajuan pinjaman dulunya membutuhkan waktu tunggu yang lama dan ketidakpastian, serta plafon kredit yang terbatas.

Plafon pinjaman juga meningkat dari 300 juta menjadi 500 juta Rupiah. Ini sangat membantu perencanaan dan perkembangan bisnis saya.

M. Islam, klien lama BPR AHA

Kini, setelah penyempurnaan sistem, bank dapat mengevaluasi kelayakan kredit nasabah yang tidak memiliki catatan keuangan formal atau agunan substansial dengan lebih akurat. Bagi pekerja informal dan wirausahawan seperti Islam, hal ini membuka pintu bagi akses keuangan yang lebih besar dan peluang bagi pertumbuhan bisnis serta penciptaan lapangan kerja lokal.

"Sebelumnya, prosesnya bisa memakan waktu dua minggu. Sekarang, saya bisa menyelesaikan semuanya dalam satu minggu dan mengirimkan dokumen secara daring. Plafon pinjaman juga meningkat dari 300 juta menjadi 500 juta Rupiah. Ini sangat membantu perencanaan dan perkembangan bisnis saya," ujarnya.

Berkat kemajuan ini, ia tidak hanya mengembangkan usahanya, istrinya juga mengembangkan usaha lelang emasnya. Ini meningkatkan pendapatan rumah tangga mereka dan berkontribusi terhadap perekonomian lokal.

Related content

ILO tingkatkan efisiensi dengan peningkatan digital untuk lembaga keuangan pedesaan di Jawa Tengah, Indonesia

Digitalisasi dan inklusi keuangan

ILO tingkatkan efisiensi dengan peningkatan digital untuk lembaga keuangan pedesaan di Jawa Tengah, Indonesia