Digitalisasi dan inklusi keuangan

ILO tingkatkan efisiensi dengan peningkatan digital untuk lembaga keuangan pedesaan di Jawa Tengah, Indonesia

Dengan dukungan ILO, bank-bank wilayah yang kurang terlayani di Indonesia meningkatkan efisiensi, memperluas akses keuangan, dan meningkatkan kualitas pekerjaan melalui inovasi digital.

13 Juli 2025

Content also available in: English

PATI, Jawa Tengah, Indonesia (Berita ILO) - Sri Hatiningsih, seorang Staf Administrasi Kredit di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Artha Huda Abadi (AHA) , dengan tekun meninjau dan memproses aplikasi kredit dari nasabah BPR AHA. Bank yang berkantor pusat di Pati, Jawa Tengah ini utamanya mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.

Kini, ia menyelesaikan evaluasi dan memfinalisasi persetujuan kredit dalam hitungan menit. "Dulu saya butuh setidaknya 30 menit untuk memproses setiap klien. Sekarang, saya hanya butuh lima menit," jelas Sri. Kecepatan dan efisiensi ini dimungkinkan oleh peningkatan terbaru pada sistem perbankan inti (core banking system/CBS) BPR AHA.

Sejak akhir 2024, BPR AHA telah menerima dukungan teknis untuk meningkatkan CBS dari proyek ILO yang dikenal dengan nama Mempromosikan Usaha Kecil dan Menengah melalui Akses Pelaku Wirausaha terhadap Jasa Keuangan (Promise II Impact), yang didukung oleh Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO). Intervensi ini merupakan bagian dari strategi Promise II Impact yang lebih luas untuk mengintegrasikan UMKM ke dalam ekosistem rantai nilai dan memperluas akses ke layanan keuangan digital di wilayah yang kurang terlayani.

Pembaruan sistem CBS ini, secara signifikan, menyederhanakan proses aplikasi dan meningkatkan efisiensi bank. Penilaian kredit secara real-time dan aplikasi pinjaman antarmuka yang disederhanakan kini memungkinkan staf untuk memverifikasi informasi nasabah dengan cepat, mengurangi kelambatan administratif dan meminimalisir kesalahan dokumentasi.

Hanya dalam waktu enam bulan, BPR AHA telah mencapai pertumbuhan yang signifikan, dengan menghimpun 591 nasabah kredit baru dan 299 nasabah tabungan dan deposito baru. Angka-angka ini tidak hanya mencerminkan peningkatan kapasitas tetapi juga inklusi yang lebih luas yang menjangkau pekerja informal, wirausaha mikro, dan rumah tangga pedesaan yang sebelumnya terpinggirkan karena keterbatasan agunan, riwayat keuangan, atau literasi digital.

Salah satu klien yang puas adalah M. Islam, seorang distributor makanan ringan dan pemasok tepung tapioka. Sebagai pelanggan setia sejak 2019, ia bercerita bahwa pengajuan pinjaman sebelumnya membutuhkan waktu hingga dua minggu. "Sekarang saya bisa menyelesaikan semuanya dalam satu minggu dan pengiriman dokumen pun bisa secara daring. Ini membantu menyederhanakan perencanaan bisnis saya," ujarnya.

M. Islam, nasabah setia BPR Nusamba Cepiring, kini berhasil mendapatkan pinjaman usaha dalam seminggu, mendongkrak usaha distribusi makanan ringan dan tapioka miliknya.

H. Dliaul Khaq, Direktur BPR AHA, menegaskan, peningkatan CBS ini terjadi di saat yang krusial, bertepatan dengan adanya regulasi baru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK),yang memperkenalkan standar akuntansi yang lebih kompleks. Sistem baru ini menggantikan tugas-tugas manual yang memakan waktu, yang sebelumnya rentan terhadap inkonsistensi akibat ketidakstabilan jaringan dan kesalahan sistem. Sistem ini mengumpulkan dan melaporkan data otomatis secara real-time, dan ini memastikan penyampaian data yang tepat waktu dan akurat.

Selain kepatuhan, peningkatan CBS telah meningkatkan akuntabilitas kelembagaan dalam layanan klien dan pengembangan bisnis. Ini juga telah meningkatkan manajemen beban kerja dan keselamatan kerja secara signifikan.

Sejak peningkatan ini, kecepatan transaksi yang lebih cepat dan keandalan sistem yang lebih baik telah mengurangi lembur, memungkinkan pekerja menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dan menjaga keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan yang lebih sehat. Pergeseran ini telah meningkatkan moral staf, mengurangi kelelahan, dan mendukung kondisi kerja yang lebih aman dan berkelanjutan sebagai aspek kunci dari pekerjaan yang layak.

H. Dliaul Khaq, Direktur BPR AHA

Transformasi ini secara signifikan mendorong budaya tempat kerja yang inklusif dan berbasis data. Kini, staf dilatih untuk menggunakan dasbor dan alat analitik secara real-time, dan ini menggeser pengambilan keputusan dari intuisi ke pendekatan berbasis bukti. Pergeseran ini telah memperkuat transparansi, kolaborasi lintas departemen, dan kepercayaan operasional, sekaligus memberdayakan karyawan untuk memantau kinerja, mengantisipasi kebutuhan klien, dan mendorong inovasi.

Djuhari Sitorus, Koordinator Program Proyek Promise II Impact ILO, memuji komitmen dan kemajuan BPR AHA dalam memperluas akses bagi nasabah di daerah terpencil dan pedesaan melalui digitalisasi. “Kemitraan antara ILO dan BPR AHA menunjukkan bagaimana investasi digital yang terarah dalam perbankan pedesaan dapat mendorong perbaikan sistemik yang meningkatkan efisiensi, mendorong kerja layak, dan menciptakan lebih banyak peluang bagi UMKM di wilayah-wilayah yang kurang terlayani.”

Related content

Inovasi digital tingkatkan keuangan pedesaan dan dukung UMKM lokal di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia

Digitalisasi dan inklusi keuangan

Inovasi digital tingkatkan keuangan pedesaan dan dukung UMKM lokal di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia