Dampak kami, suara mereka
Generasi muda Indonesia membangun keterampilan untuk Transisi Energi Berkeadilan
Program pelatihan teknisi pembangkit listrik tenaga surya membekali generasi muda Indonesia dengan keterampilan untuk meraih peluang kerja baru sekaligus berkontribusi pada transisi energi berkeadilan di Indonesia.
30 September 2026
SAMARINDA, Kalimantan Timur, Indonesia (Berita ILO) – Bersemangat untuk memperoleh keterampilan baru dan mengikuti perkembangan peluang kerja yang muncul seiring dengan transisi energi berkeadilan, Ahmad Fadhillah, 25 tahun, mengikuti program pelatihan Teknisi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pertama di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Samarinda, Kalimantan Timur. Ia merupakan satu dari 23 peserta angkatan pertama program pelatihan selama 28 hari yang berlangsung dari awal Agustus hingga pertengahan September.
Diluncurkan pada Juli, program ini bertujuan meningkatkan kualitas dan relevansi pelatihan vokasi di bidang energi terbarukan sekaligus mengembangkan tenaga kerja yang terampil dan kompeten untuk mendukung transisi Indonesia menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
BPVP Samarinda mendapatkan dukungan melalui Fase II Proyek Renewable Energy Skills Development (RESD), yang dilaksanakan sebagai bagian dari kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Swiss serta didanai oleh Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO).
“Saya baru-baru ini mengetahui tentang program tenaga surya yang baru diluncurkan di Bali. Saya berharap ini bisa menjadi langkah awal saya untuk masuk ke industri ini dan, ke depannya, saya juga berharap mendapatkan kesempatan untuk bekerja di luar negeri.
Ketertarikan Ahmad terhadap isu lingkungan dimulai sejak duduk di bangku SMA, ketika mengambil jurusan IPA. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di bidang Teknik Lingkungan dan menyelesaikan empat semester sebelum memilih jalur yang berbeda. Namun, ketertarikannya terhadap isu lingkungan dan energi terbarukan tidak pernah surut.
“Saat ini saya mengikuti pelatihan vokasi dan saya bangga menjadi bagian dari angkatan pertama program pelatihan Teknisi PLTS di BPVP Samarinda,” ungkap Ahmad. “Saya sangat ingin mendapatkan pekerjaan layak di sektor yang sedang berkembang ini.”
Setelah menyelesaikan pelatihan dan memperoleh sertifikasi, Ahmad berharap dapat memulai kariernya di Bali, di mana perkembangan investasi di bidang energi surya menarik perhatiannya.
“Saya baru-baru ini mengetahui tentang program tenaga surya yang baru diluncurkan di Bali. Saya berharap ini bisa menjadi langkah awal saya untuk masuk ke industri ini dan, ke depannya, saya juga berharap mendapatkan kesempatan untuk bekerja di luar negeri,” katanya.
Pada Agustus, Pemerintah Indonesia mengumumkan program PLTS 100 GW dan inisiatif Sistem Penyimpanan Energi Baterai (BESS). Pengumuman tersebut bertepatan dengan dimulainya pembangunan proyek PLTS berkapasitas 305 MWp dan BESS 1 GWh milik PLN di Gilimanuk, Bali. Program yang lebih luas ini diharapkan mendukung berbagai inisiatif, mulai dari pengurangan penggunaan pembangkit listrik berbasis diesel dan perluasan elektrifikasi perdesaan hingga penguatan jaringan listrik dan penyediaan energi bagi kawasan industri.
Bagi Rosmala Dewi Pramitha, 23 tahun, ketertarikannya untuk menekuni energi terbarukan sebagian terinspirasi oleh ayahnya yang berprofesi sebagai teknisi listrik. Sebelum mengikuti pelatihan, Rosmala bekerja sebagai guru lepas di Bontang sebelum pindah ke Samarinda, ibu kota Provinsi Kalimantan Timur. Ia tertarik mengikuti program pelatihan Teknisi PLTS, terutama setelah melihat sosialisasi BPVP Samarinda yang mendorong perempuan untuk turut berpartisipasi dalam pelatihan tersebut.
Dengan latar belakang pendidikan IPA di SMA, Rosmala dapat mengikuti materi teori dalam program tersebut dengan baik. Namun, ia mengakui bahwa sesi praktik, khususnya yang berkaitan dengan rangkaian instalasi listrik, membutuhkan upaya dan latihan tambahan.
“Sebagai satu-satunya perempuan di kelas, awalnya saya pemalu,” ujarnya. “Namun, semua teman sekelas sangat mendukung dan selalu membantu ketika saya membutuhkan bantuan.”
Seperti Ahmad, Rosmala melihat pelatihan ini sebagai jalan untuk membangun karier di sektor energi terbarukan. Setelah menyelesaikan program dan memperoleh sertifikasi, ia berharap dapat mengikuti program pemagangan di perusahaan PLTS dan pada akhirnya mendapatkan pekerjaan di sektor tersebut.
Saya siap bekerja di sektor ini. Saya mendapat dukungan dari orang tua dan saya percaya bahwa perempuan memiliki kemampuan dan potensi yang sama untuk bekerja di bidang energi surya, termasuk dalam pemasangan dan pengelolaan sistem kelistrikan.
Bagi Ahmad dan Rosmala, pelatihan ini lebih dari sekadar kesempatan untuk memperoleh keterampilan teknis. Program ini membuka jalan menuju sektor energi terbarukan yang terus berkembang sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkontribusi secara langsung terhadap transisi Indonesia menuju masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Muce Mochtar, Koordinator ILO untuk proyek Inisiatif Inovasi Kawasan untuk Transisi Energi Berkeadilan (IKI-JET), menekankan pentingnya memperkuat kemitraan dengan lembaga pelatihan vokasi seperti BPVP Samarinda untuk membekali tenaga kerja dengan keterampilan yang dibutuhkan seiring dengan transformasi sektor energi Indonesia.
“Seiring dengan percepatan transisi Indonesia menuju energi terbarukan, kita perlu memastikan bahwa para pekerja memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk memanfaatkan peluang kerja baru yang muncul. Melalui proyek IKI-JET, ILO bekerja sama dengan mitra seperti BPVP Samarinda untuk memperkuat pengembangan keterampilan yang relevan dan membantu memastikan transisi yang inklusif, khususnya bagi generasi muda dan perempuan,” ujar Muce.
IKI-JET merupakan salah satu upaya ILO dalam mendukung Indonesia mempercepat transisi energi berkeadilan dari batu bara menuju energi terbarukan dan kegiatan ekonomi berkelanjutan lainnya. Dengan fokus pada tingkat daerah, proyek ini mendukung pengembangan rencana dan langkah-langkah transisi yang mempertimbangkan dampaknya terhadap pekerja, masyarakat dan perekonomian setempat, sehingga peralihan menuju energi yang lebih bersih dapat menciptakan peluang kerja yang layak dan memastikan tidak ada yang tertinggal.
Additional details
References
- DOI: N/A
Related content
Siaran pers
ILO dan BPVP Samarinda perkuat keterampilan generasi muda untuk Transisi Energi Berkeadilan di Indonesia
Transisi energi berkeadilan
Mempersiapkan tenaga kerja masa depan Kalimantan Timur, Indonesia untuk transisi berkeadilan