A group of people

Transisi energi berkeadilan

Keterampilan kewirausahaan bantu masyarakat Indonesia bangun mata pencarian di luar batu bara

Melalui proyek Inisiatif Inovasi Kawasan untuk Transisi Energi Berkeadilan (IKI-JET), tiga pelatih membantu pekerja dan masyarakat di Indonesia membangun mata pencarian baru melalui kewirausahaan.

14 Agustus 2026

ILO entrepreneurship training for trade unions using the GET Ahead training package in Surabaya, East Java, Indonesia. © Ariel Prananda/ILO
Content also available in: English

SURABAYA, Jawa Timur, Indonesia (Berita ILO) - Seiring Indonesia bergerak menuju ekonomi rendah karbon, banyak pekerja dan masyarakat di daerah yang bergantung pada industri batu bara perlu menemukan sumber mata pencarian baru. Kewirausahaan menjadi salah satu jalan untuk memastikan transisi energi berlangsung secara adil dan inklusif dengan membekali masyarakat keterampilan serta kepercayaan diri untuk memulai atau mengembangkan usaha di sektor-sektor ekonomi yang berkelanjutan.

Untuk mendukung upaya tersebut, proyek Inisiatif Inovasi Kawasan untuk Transisi Energi Berkeadilan (IKI-JET) ILO melatih 20 mitra lokal dari Sumatra Selatan dan Kalimantan Timur—dua provinsi penghasil batu bara terbesar di Indonesia—menjadi pelatih kewirausahaan melalui Pelatihan untuk Pelatih (ToT) pada April 2026.

Membangun kapasitas para mitra merupakan investasi jangka panjang... kami memperkuat kepemilikan lokal serta menciptakan sumber daya yang akan terus memberi manfaat bagi pekerja dan masyarakat di Kalimantan Timur dan Sumatra Selatan.

Muce Mochtar, Koordinator Proyek IKI-JET ILO di Indonesia

Menggunakan paket pelatihan Gender dan Kewirausahaan Bersama (GET Ahead) ILO, para peserta mempelajari manajemen usaha praktis dan keterampilan lunak, termasuk komunikasi, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Yang terpenting, mereka belajar cara penyampaian pelatihan melalui pembelajaran partisipatif yang mendorong diskusi, berbagi pengalaman dan dukungan sebaya.

"Membangun kapasitas para mitra merupakan investasi jangka panjang. Dengan membekali pelatih dari lembaga pemerintah, serikat pekerja dan pemangku kepentingan lokal lainnya dengan keterampilan kewirausahaan dan metode pelatihan partisipatif, kami memperkuat kepemilikan lokal serta menciptakan sumber daya yang akan terus memberi manfaat bagi pekerja dan masyarakat di Kalimantan Timur dan Sumatra Selatan," ungkap Muce Mochtar, Koordinator Proyek IKI-JET ILO di Indonesia.

Menciptakan ruang belajar bersama

A woman
© Ariel Prananda/ILO
© Ariel Prananda/ILO
Erny Y. Silalahi, Pejabat Fungsional Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia.

Pariwisata selalu menjadi minat Erny Y. Silalahi. Lahir dan besar di Kalimantan Timur, ia merupakan lulusan pertama Program Studi Pariwisata Universitas Mulawarman sebelum melanjutkan studi magister Manajemen Pariwisata di Brisbane, Australia.

Kini, sebagai Pejabat Fungsional Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Kalimantan Timur, Erny telah menghabiskan 18 tahun merancang dan menyelenggarakan berbagai pelatihan. Ia merasa sudah memahami seperti apa pelatihan yang efektif.

Namun pandangannya berubah ketika mengikuti Pelatihan Pelatih Kewirausahaan ILO. “Ketika saya memasuki ruang pelatihan, tidak ada meja, tidak ada slide presentasi dan tidak ada materi pelatihan. Saya hanya melihat kursi-kursi yang disusun melingkar," kenangnya. "Saya bertanya-tanya apa yang akan kita lakukan selama lima hari."

Peserta yang biasanya pendiam dan pemalu menjadi lebih terbuka. Mereka aktif menyampaikan pendapat dan belajar satu sama lain. Metode ini benar-benar mendorong partisipasi.

Alih-alih berpusat pada ceramah, pelatihan mengedepankan dialog, diskusi, latihan praktis dan saling berbagi pengalaman. Melalui pendekatan tersebut, peserta tidak hanya mempelajari kewirausahaan, tetapi juga keterampilan memfasilitasi pelatihan.

Terinspirasi oleh metode tersebut, Erny langsung menerapkannya dalam pekerjaannya. Hingga kini, ia telah memfasilitasi tiga pelatihan kewirausahaan bagi pelaku usaha pariwisata, komunitas sektor kelapa sawit dan perwakilan serikat pekerja.

"Peserta yang biasanya pendiam dan pemalu menjadi lebih terbuka,” katanya. Mereka aktif menyampaikan pendapat dan belajar satu sama lain. Metode ini benar-benar mendorong partisipasi."

Saat ini, Erny rutin memadukan video, studi kasus dan diskusi kelompok dalam setiap pelatihannya. Ke depan, ia juga berencana mengintegrasikan materi kewirausahaan ke dalam berbagai pelatihan pariwisata.

"Saya ingin peserta tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga mampu mengembangkan ide menjadi usaha yang berkelanjutan," pungkasnya.

Menginspirasi melalui pengalaman

A woman
© Ariel Prananda/ILO
© Ariel Prananda/ILO
Martha Indah Fajarwati, instruktur Balai Pelatihan Kerja Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Selatan.

Bagi Martha Indah Fajarwati, instruktur Balai Pelatihan Kerja Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Sumatera Selatan, pelatihan GET Ahead memperkenalkan cara baru dalam melibatkan peserta. "Pelatihannya lebih interaktif, mudah dipahami dan mendorong peserta untuk saling berbagi pengalaman," ujarnya.

Sejak mengikuti pelatihan, Martha telah memfasilitasi pelatihan kewirausahaan bagi masyarakat di Kota Palembang dan Kabupaten Musi Banyuasin yang banyak bekerja di sektor kelapa sawit. "Peserta mengatakan pelatihan ini menyenangkan, menarik, sekaligus praktis. Mereka bahkan meminta agar pelatihan serupa kembali diadakan karena menikmati proses belajar bersama."

Keterampilan teknis saja tidak cukup. Peserta juga membutuhkan keterampilan kewirausahaan dan keuangan untuk dapat menata penghidupan yang berkelanjutan.

Hubungan yang terjalin selama pelatihan pun terus berlanjut. Martha menceritakan bagaimana pengalaman seorang peserta yang sukses mengembangkan usaha peternakan burung puyuh menginspirasi peserta lain dari desa berbeda untuk mencoba usaha serupa. Hingga kini, mereka tetap terhubung melalui grup WhatsApp untuk saling berbagi pengalaman, memberikan dukungan dan memperbarui perkembangan usaha masing-masing.

Terinspirasi oleh dampak yang ia lihat dari pelatihan tersebut, Martha kini berupaya mengintegrasikan kewirausahaan ke dalam program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) serta mendorong pembentukan pusat informasi di balai pelatihan provinsi sebagai ruang belajar bersama bagi kaum muda dan para lulusan pelatihan.

Ia juga berencana mengintegrasikan materi kewirausahaan ke dalam seluruh 12 program pelatihan vokasi yang diselenggarakan balai tersebut. "Keterampilan teknis saja tidak cukup," tegasnya. "Peserta juga membutuhkan keterampilan kewirausahaan dan keuangan untuk dapat menata penghidupan yang berkelanjutan."

Mendukung perencanaan pembangunan yang lebih baik

A woman
© Ariel Prananda/ILO
© Ariel Prananda/ILO
Etsa Prametsary W. Pratama, pelatihan ini menjadi titik balik yang membawanya keluar dari rutinitas sebagai staf Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalimantan Timur.

Bagi Etsa Prametsary W. Pratama, pelatihan ini menjadi titik balik yang membawanya keluar dari rutinitas sebagai staf Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalimantan Timur. Lulusan Ekonomi Pembangunan Universitas Gadjah Mada itu selama ini lebih akrab dengan penyusunan dokumen perencanaan dan kebijakan publik daripada berdiri di depan kelas.

"Pekerjaan saya sehari-hari lebih banyak di balik meja, menyusun dokumen perencanaan pembangunan daerah," ujarnya. "Ini adalah pengalaman pertama saya menjadi seorang pelatih."

Sebagai peserta termuda—dan satu-satunya perwakilan Generasi Z—ia sempat khawatir apakah gagasan-gagasannya akan dianggap serius. "Namun kekhawatiran itu hilang karena semua orang menghargai perspektif saya dan terbuka terhadap ide-ide yang saya sampaikan," kenangnya.

Kini saya semakin memahami bahwa perencanaan pembangunan harus benar-benar mencerminkan kebutuhan masyarakat di daerah. Perspektif ini akan membantu saya mendukung penyusunan kebijakan yang lebih responsif dan inklusif bagi Kalimantan Timur.

Usai menyelesaikan pelatihan, Etsa dipercaya menjadi ko-fasilitator dalam pelatihan kewirausahaan bagi pelaku pariwisata, pekerja sektor kelapa sawit dan perwakilan serikat pekerja. Kesempatan itu memberinya pengalaman baru yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Saya memang senang berbicara di depan umum," katanya. "Melalui pelatihan ini, ILO memberi saya kesempatan untuk keluar dari rutinitas di depan laptop, berinteraksi langsung dengan masyarakat dan belajar dari berbagai sektor."

Berinteraksi langsung dengan para peserta tidak hanya meningkatkan kepercayaan diri, tetapi juga memperluas cara pandangnya. Ia terinspirasi oleh seorang pelaku pariwisata muda yang mengembangkan kebun edukasi sekaligus membangun komunitas pendongeng bagi anak-anak di sebuah desa wisata. Ia juga terkesan dengan seorang pengusaha berpengalaman di sektor kelapa sawit yang terus melahirkan ide-ide bisnis baru meski usahanya telah mapan.

Pengalaman tersebut turut memperkaya perspektifnya sebagai perencana pembangunan daerah. "Kini saya semakin memahami bahwa perencanaan pembangunan harus benar-benar mencerminkan kebutuhan masyarakat di daerah," tukasnya. "Perspektif ini akan membantu saya mendukung penyusunan kebijakan yang lebih responsif dan inklusif bagi Kalimantan Timur."

Related content

Serikat pekerja Indonesia bangun keterampilan kewirausahaan untuk dukung transisi energi berkeadilan
A group of people sitting on the floor

Kewirausahaan

Serikat pekerja Indonesia bangun keterampilan kewirausahaan untuk dukung transisi energi berkeadilan