Three persons

Hari Penyandang Disabilitas Internasional

Merayakan inklusivitas dan kreativitas melalui tradisi batik Indonesia

Prakarsa batik ramah lingkungan, yang dikelola oleh salah satu mitra ILO dalam mempromosikan inklusivitas, memberikan jalan menuju kemandirian dan kewirausahaan bagi orang dengan kesulitan belajar.

3 Desember 2025

Audrey Demitry Elaine is an illustrator and designer at the Special Child Care Foundation (YPAS) in Indonesia. © Yoel Abednego/YPAS
Content also available in: English

JAKARTA, Indonesia (Kisah ILO) - Audrey Demitry Elaine, bersama rekan-rekannya dari Yayasan Peduli Anak Spesial (YPAS), dengan sepenuh hati mencurahkan kreativitas dan dedikasi untuk mewarnai motif batik, sebagai warisan budaya dan karya seni Indonesia, yang disiapkan untuk Sayembara Desain Batik. Acara ini diselenggarakan oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bekerja sama dengan Kementerian Ekonomi Kreatif dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), menandai 75 tahun keanggotaan Indonesia di ILO.

Sebagai salah satu mitra ILO dalam mempromosikan inklusi, YPAS mendukung anak-anak dengan kesulitan belajar seperti Attention Deficit Disorder (ADD), Attention Deficit-Hyperactivity Disorder (ADHD), Disleksia dan Disgrafia. Kondisi-kondisi ini kerap disebut sebagai disabilitas tersembunyi karena tidak langsung terlihat, namun dapat memengaruhi proses belajar dan aktivitas sehari-hari.

Dengan terlibat dalam teknik pembuatan batik berkelanjutan ini, mereka pun memperoleh keterampilan berharga, kepercayaan diri dan rasa inklusi serta bisa berkontribusi pada pelestarian warisan budaya Indonesia.

Arini Suwarno, Ketua YPAS

“Individu dengan kesulitan belajar terlihat sama dengan individu lainnya. Mereka memiliki pendidikan, talenta dan keterampilan yang baik. Namun, sebagai contoh individu dengan ADD, mereka memiliki kesulitan untuk berkonsentrasi dan menjalankan satu tugas. Ini artinya pekerja dengan ADD membutuhkan instruksi yang jelas secara tertulis atau visual,” ujar Arini Suwarno, Ketua YPAS.

Salah satu prakarsa yang dilakukan YPAS adalah pengembangan Batik Guta Tamarin. Teknis membatik ini dikenal juga sebagai batik dingin karena menggunakan bubuk biji asam atau tamarin sebagai pengganti lilin malam tradisional. Bubuk ini diolah menjadi pasta kental yang dicampur dengan air panas dan minyak nabati atau margarin, yang lalu dilukiskan pada kain untuk membentuk motif sebelum proses pewarnaan dengan menggunakan alat seperti piping bag atau plastik segitiga.

Seven people standing
© YPAS
© YPAS
YPAS’s batik design earned 9th place among the top ten finalists in the Batik Design Competition in Indonesia. 8/2025

Menampilkan Batik Guta Tamarin, YPAS ikut serta dalam proses sayembara selama empat bulan dari April hingga Agustus, yang meliputi pengiriman karya, presentasi dan sejumlah putaran seleksi yang dinilai oleh perwakilan dari Kementerian Ekonomi Kreatif, Apindo dan ILO. Desain batik YPAS meraih peringkat ke-9 di antara sepuluh finalis teratas.

Menggunakan warna-warna hangat, karya seni ini menggambarkan seorang perempuan yang sedang membuat batik seraya memegang telepon pintar, disertai burung cendrawasih. Elemen-elemen ini mencerminkan peran perempuan dalam dunia kerja, pengembangan digitalisasi usaha dan pentingnya pekerjaan hijau dan berkelanjutan.

“Inisiatif ini memberdayakan individu dengan kesulitan belajar dengan memberikan mereka kesempatan untuk berpartisipasi dalam kerajinan kreatif dan bermakna secara budaya. Dengan menggunakan Batik Guta Tamarin, proses membatik menjadi lebih sederhana, murah, aman dan ramah lingkungan,” Arini menambahkan. “Dengan terlibat dalam teknik pembuatan batik berkelanjutan ini, mereka pun memperoleh keterampilan berharga, kepercayaan diri dan rasa inklusi serta bisa berkontribusi pada pelestarian warisan budaya Indonesia.”

Batik design
© Yoel Abednego/YPAS
© Yoel Abednego/YPAS
Batik Guta Tamarin merupakan teknik yang juga dikenal sebagaik batik dingin di Indonesia.

Audrey, lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) dari Universitas Pelita Harapan, memiliki minat besar dalam desain dan ilustrasi. Melalui keterlibatannya dengan YPAS, ia bersyukur dapat menemukan cara untuk mengejar minatnya pada seni dan kreativitas.

“Saya telah berusaha mencari pekerjaan, tetapi bagi seseorang dengan ADD, hal ini tidak mudah, karena saya kesulitan dalam berinteraksi sosial dan berkomunikasi,” ujarnya. Audrey menjelaskan bahwa kendati latar belakang akademis dan keterampilan kreatifnya kuat, tantangan dalam mempertahankan fokus, beradaptasi dengan lingkungan kerja yang cepat dan menavigasi komunikasi di tempat kerja sering kali membuat pencarian pekerjaan menjadi lebih sulit.

Sebelum bergabung dalam kompetisi batik ini, Audrey sempat memperoleh pengalaman berharga sebagai salah satu ilustrator untuk publikasi ILO tentang Perencanaan Keuangan Keluarga pada 2023. Proyek tersebut memperkenalkannya pada disiplin bekerja dengan jadwal, tenggat waktu, proses terstruktur dan instruksi spesifik.

“Saya masih ingat, saya sempat merasa kewalahan. Saya kesulitan dengan struktur dan persyaratan detail. Namun, mentor saya benar-benar membantu dan saya senang bisa menyelesaikan pekerjaan itu,” kenangnya.

Saya telah berusaha mencari pekerjaan, tetapi bagi seseorang dengan ADD, hal ini tidak mudah, karena saya kesulitan dalam berinteraksi sosial dan berkomunikasi

Audrey Demitry Elaine, seorang ilustrator dan desainer

Pengalaman awal ini memperkuat konsistensinya dan mempersiapkannya untuk tantangan di masa depan. Ketika kesempatan datang untuk bergabung dengan tim sayembara ini, dia senang dapat bekerja bersama rekan-rekannya, termasuk M. Farhandi Haidar, lulusan DKV dari Universitas Tarumanegara. Bagi Farhandy, kompetisi ini memungkinkan dia untuk menyalurkan kecintaannya pada menggambar seraya belajar beradaptasi dengan lingkungan kerja yang terstruktur dan menerima tanggung jawab.

Komitmen Audrey telah berkembang melalui program batik. Saat ini, sebagai salah seorang desainer utama, ia menghasilkan hingga lima desain batik setiap dua hari. Desain-desain ini diubah menjadi syal, sarung bantal, sapu tangan dan produk-produk lainnya, memadukan kreativitas dengan keahlian kerajinan.

Menatap ke depan, Arini mengutarakan harapannya agar keterampilan batik ini dapat memberdayakan individu dengan kesulitan belajar, tidak hanya sebagai sarana ekspresi diri tetapi juga sebagai jalan menuju kemandirian dan kewirausahaan. Bagi Audrey, aspirasinya sederhana namun mendalam: ia berharap dapat tetap konsisten dalam mengejar pekerjaan dan minatnya.