COVID-19: Mendukung perusahaan, pekerjaan dan pendapatan

UKM Indonesia mengubah pandemi menjadi peluang bisnis baru

Usaha kecil dan menengah (UKM) yang berpartisipasi dalam Pelatihan SCORE ILO membagikan perjalanan usaha mereka dalam bertahan dari pandemi. Mereka menemukan peluang bisnis baru kendati menghadapi banyak tantangan.

3 November 2020

Content also available in: English
Pandemi COVID-19 telah melanda usaha kecil dan menengah di seluruh dunia, termasuk Indonesia, yang paling parah. Dagadu Djokja, merek garmen ikonik asal Yogyakarta, misalnya, tidak pernah membayangkan pandemi menurunkan omzet mereka ke angka 1 persen. “Kami mencapai titik di mana kami tidak tahu harus berbuat apa,” ujar Spika Virgino, pendiri Dagadu, berbagi pengalaman bisnisnya.

Bersama empat perusahaan lainnya, Dagadu Djokja berbagi tentang bagaimana mereka dapat bertahan dari pandemi dengan menerapkan apa yang mereka pelajari dari mengikuti program pelatihan ILO untuk Kesinambungan Daya Saing dan Tanggung Jawab Perusahaan (SCORE) dalam webinar interaktif pada 27 Oktober 2020.

Agustus lalu kami telah mencapai pemulihan dari toko luring kami hingga 85 persen dan mulai tahun depan, kami akan mengekspor alat pelindung diri ke luar negeri. Dengan begitu, kami bisa menjaga bisnis, toko dan pekerja kami."

Spika Virgino, pendiri Dagadu
Acara ini diselenggarakan bekerja sama dengan BEDO, mitra pelatihan program SCORE ILO sejak 2015. Program SCORE ILO mempromosikan produktivitas, daya saing dan peningkatan kondisi kerja usaha kecil dan menengah di 11 negara, termasuk Indonesia.

Belajar tentang pentingnya kerja sama di tempat kerja, upaya pertama yang dilakukan Dagadu adalah mengumpulkan semua pekerja dan staf untuk meninjau kondisi yang terjadi secara terbuka. Mereka membahas bagaimana operasi dapat dibuat lebih efisien, anggaran yang harus dipotong dan bagaimana beralih ke usaha daring.

“Budaya kerja saling mendukung yang tercipta melalui keterbukaan menginspirasi kami untuk mencari solusi bersama. Bisnis dan pemasaran daring telah membantu kami dalam mengelola usaha kami,” kata Spika.

Menyadari kualitas produk Dagadu, peluang besar datang dari investor yang menawarkan pengalihan usaha dari pembuatan kaos hingga alat pelindung diri. Alhasil, Dagadu mengalami peningkatan pendapatan hingga 200 persen.

Bersama-sama kami memutuskan untuk memanfaatkan bahan mentah yang kami miliki dengan sebaik-baiknya dan mengubahnya menjadi produk yang banyak diminati selama pandemi seperti masker."

Anindyah, salah satu pendiri Lawe
“Agustus lalu kami telah mencapai pemulihan dari toko luring kami hingga 85 persen dan mulai tahun depan, kami akan mengekspor alat pelindung diri ke luar negeri. Dengan begitu, kami bisa menjaga bisnis, toko dan pekerja kami,” ungkap Spika.

Lawe Indonesia, sebuah perusahaan sosial komunitas yang berfokus pada pakaian tradisional, berbagi cerita serupa. Saat pandemi melanda, kata Anindyah, salah satu pendiri Lawe, tim manajemen mulai mengumpulkan seluruh pekerja untuk menganalisis situasi. Setelah mengikuti Pelatihan SCORE, Lawe melakukan perbaikan dalam pengelolaan dan pencatatan produk, bahan baku dan stoknya.

“Karena kami memiliki produk dan sistem manajemen penyimpanan yang baik, kami dapat dengan cepat mengidentifikasi aset kami. Bersama-sama kami memutuskan untuk memanfaatkan bahan mentah yang kami miliki dengan sebaik-baiknya dan mengubahnya menjadi produk yang banyak diminati selama pandemi seperti masker. Kami juga mulai melakukan penjualan ritel melalui platform daring guna memastikan penjualan produk,” ujarnya.

Indo Risakti, produsen dekorasi rumah berorientasi ekspor yang menggunakan bahan daur ulang, waktu menghadapi pembatalan pesanan, penundaan pembayaran dan pesanan tidak terkirim. “Saya merasa awan gelap menyelimuti kami selama tiga bulan pertama dari Maret hingga Mei. Kami mengalami penurunan pendapatan antara 60 hingga 70 persen,” kata Windu Sinaga, pendiri Indo Risakti.

Berdasarkan apa yang kami pelajari dari SCORE, kami mengembangkan tiga tahapan: melindungi, memulihkan dan melengkapi kembali. Di setiap tahap, kami menjaga komunikasi terbuka dan memperkuat kolaborasi internal kami."

Achmad Kurnia, pemilik Siji
Untungnya, berdasarkan apa yang mereka pelajari dari SCORE, perusahaan sudah memiliki mekanisme komunikasi yang baik antara manajemen dan pekerja. Dengan demikian, kedua belah pihak memiliki pemahaman yang sama tentang kondisi perusahaan dan apa artinya bagi tenaga kerja.

Sama seperti perusahaan lain, Indo Risakti mulai mengalihkan produknya ke pasar domestik dan daring. Alhasil, mereka mulai menyaksikan peningkatan pendapatan di bulan Juni dan mereka bahkan menambah jumlah pekerja.

“Fokus pada pasar domestik dan daring benar-benar membuahkan hasil. Kami bahkan memiliki pembeli baru. Tahun depan kami akan membidik pasar domestik dan ekspor dan kami akan membuka divisi pemasaran daring,” jelas Windu.

Senada dengan Indo Risakti, Siji, penyedia peralatan rumah tangga di Yogyakarta, terfokus pada pasar ekspor sebelum COVID-19, yang telah menurunkan penjualan hingga 30 persen. Mereka juga bergeser ke pasar domestik dan ritel.

“Berdasarkan apa yang kami pelajari dari SCORE, kami mengembangkan tiga tahapan: melindungi, memulihkan dan melengkapi kembali. Di setiap tahap, kami menjaga komunikasi terbuka dan memperkuat kolaborasi internal kami. Kami juga meninjau stok dan bahan baku dan meningkatkan efisiensi operasi dengan menekan tingkat penolakan produk di bawah 3 persen,” kata Achmad Kurnia, pemilik Siji.

Januar Rustandie, Manajer Program SCORE ILO Indonesia, mengapresiasi inovasi dan kreativitas yang ditunjukkan oleh para perusahaan tersebut dan memperkenalkan modul pelatihan baru. “Kami telah memperluas program pelatihan kami. Sebagai tanggapan atas krisis ini, kami sekarang menawarkan Perencanaan Keberlanjutan Usaha guna mendukung lebih banyak usaha mikro, kecil dan menengah dalam menetapkan kembali arah usaha mereka.”