Mempromosikan inklusivitas di tempat kerja

Perusahaan berbagi praktik baik untuk membuka peluang yang lebih besar bagi penyandang disabilitas

Sebagai tindak lanjut revitalisasi Jejaring Bisnis dan Disabilitas Indonesia (JBDI), ILO dan para mitranya berbagi praktik dan manfaat mempekerjakan penyandang disabilitas.

21 Desember 2020

Content also available in: English
Menindaklanjuti revitalisasi Jejaring Bisnis dan Disabilitas Indonesia (JBDI), ILO bekerja sama dengan Difalink mengumpulkan sekitar 100 perusahaan dan lembaga untuk mempromosikan peluang kerja yang inklusif dan setara bagi penyandang disabilitas.

Melalui acara virtual bertajuk “Unlock the Untapped Market: Differently Abled People” pada 15 Desember, dua perusahaan memaparkan program inklusif mereka dan manfaat yang diperoleh dari mempekerjakan penyandang disabilitas.

Marwan Setiawan, Manajer Rekrumen dan Kajian Alfamart, mengatakan bahwa perusahaan telah mempekerjakan sekitar 700 pekerja dengan disabilitas, yang bertugas di toko atau gudang. Alfamart memulai prakarsa inklusif ini pada 2016 untuk memenuhi peraturan pemerintah mengenai disabilitas.

“Ini menuntut kami untuk membangun prosedur perekrutan dan pelatihan kerja dari awal. Kami menjalin kerja sama dengan komunitas disabilitas untuk membantu mengembangkan program pelatihan dan mendapatkan kandidat pekerja yang berpotensi,” kata Marwan.

Kami juga belajar bahwa pekerja dengan disabilitas dapat menjadi panutan bagi rekan kerja yang non-disabilitas. Mereka juga memotivasi kinerja rekan kerja di tim mereka menjadi lebih baik."

Marwan Setiawan, Manajer Rekrumen dan Kajian Alfamart
Alfamart merupakan jaringan toko swalayan dari Indonesia, dengan lebih dari 10.000 gerai di seluruh Asia Tenggara. Usaha ini dibangun pada 1989 dan Alfamart baru-baru ini menjadi anggota JBDI.

Prakarsa yang sama juga dilakukan Think Web, agensi digital terkemuka di negeri ini. Ramya Prajna Sashinu, Co-CEO Think Web, menyatakan bahwa perusahaan telah mempekerjakan dua pekerja disabilitas netra sebagai penulis dan editor konten. Perusahaan bekerja sama dengan komunitas netra, Yayasan Mitra Netra, untuk mendapatkan pekerja yang mumpuni bagi sektor digital.

Mereka kompeten seperti pekerja lainnya. Mereka dapat melakukan semua penugasan, kecuali yang membutuhkan visual. Kami bahkan tidak perlu melakukan penyesuaian di kantor."

Ramya Prajna Sashinu, Co-CEO Think Web
“Mereka kompeten seperti pekerja lainnya. Mereka dapat melakukan semua penugasan, kecuali yang membutuhkan visual. Kami bahkan tidak perlu melakukan penyesuaian di kantor,” kisah Ramya yang mengingatkan para perusahaan peserta bahwa mereka akan kehilangan peluang untuk merekrut pekerja berpotensi dengan talenta dan keterampilan yang besar jika tidak membuka kesempatan bagi pekerja dengan disabilitas.

Sepakat, Marwan menegaskan bahwa pekerja dengan disabilitas terbukti loyal, berdedikasi dan fokus. “Kami juga belajar bahwa pekerja dengan disabilitas dapat menjadi panutan bagi rekan kerja yang non-disabilitas. Mereka juga memotivasi kinerja rekan kerja di tim mereka menjadi lebih baik,” ia menambahkan.

Kesetaraan bagi orang dengan kesulitan belajar

Orang dengan kesulitan belajar terlihat sama dengan orang lainnya. Mereka memiliki pendidikan, talenta dan keterampilan yang baik."

Ages Soerjana, Konselor Sekolah Talenta, Yayasan Peduli Anak Spesial (YPAS)
Acara ini juga memperkenalkan perusahaan dengan disabilitas yang tidak kasat mata dalam bentuk kesulitan belajar. Ages Soerjana, Konselor Sekolah Talenta, Yayasan Peduli Anak Spesial (YPAS), menjelaskan mengenai kesulitan belajar seperti Attention Deficit Disorder (ADD), Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD), Dyslexia dan Dysgraphia.

“Orang dengan kesulitan belajar terlihat sama dengan orang lainnya. Mereka memiliki pendidikan, talenta dan keterampilan yang baik. Namun, sebagai contoh orang dengan ADD, mereka memiliki kesulitan untuk berkonsentrasi dan menjalankan satu tugas. Ini artinya pekerja dengan ADD membutuhkan instruksi yang jelas secara tertulis atau visual,” ia menjelaskan.

Untuk memberikan pemahaman yang lebih baik menenai potensi dan talenta orang dengan kesulitan belajar, dua video pendek yang mengisahkan dua pekerja dengan kesulitan belajar ditayangkan. Video-video ini mendokumentasikan perjalanan Evan Perdamean, seorang IT programmer dan Fadhli Erlanda, seorang staf keuangan, yang memperlihatkan keterampilan dan kemampuan dalam berkontribusi pada pencapaian tujuan perusahaan tempat mereka bekerja.


Acara ini ditutup dengan prakarsa bersama antara Difalink dan YPAS, dengan dukungan dari ILO, untuk menghubungkan perusahaan dengan orang dengan disabilitas. Difalink akan membantu perusahaan dari rekrutmen, pelatihan, pendampingan dan penempatan orang dengan disabilitas dan kesulitan belajar.

“Kami akan memberikan bantuan penuh kepada perusahaan secara bebas biaya untuk menghubungkan orang dengan disabilitas dengan perusahaan dan sebaliknya. Kami terfokus pada sektor-sektor terkait dengan jasa, desain grafis, sinematografi dan digital. Kami ingin memperlihatkan bahwa penyandang disabilitas memiliki talenta yang belum tereksplorasi yang akan bermanfaat bagi perusahaan,” ujar Ni Komang Ayu Suriani, pendiri dan CEO Difalink.

Related content

Perusahaan berupaya ciptakan tempat kerja inklusif melalui Jejaring Bisnis dan Disabilitas Indonesia

Mempromosikan inklusivitas di tempat kerja

Perusahaan berupaya ciptakan tempat kerja inklusif melalui Jejaring Bisnis dan Disabilitas Indonesia

Berkesulitan belajar: Menciptakan lingkungan pendidikan inklusif di pendidikan tinggi

Berkesulitan belajar: Menciptakan lingkungan pendidikan inklusif di pendidikan tinggi