Hari Dunia Menentang Pekerja Anak 2016

Perjalanan menuju suplai pasokan yang bebas pekerja anak

Memalsukan usia dan meminjam ijazah bukan lagi rahasia bagi pelamar kerja di bawah umur di pabrik-pabrik garmen. Mereka harus bekerja untuk membantu keluarga kendati harus menjalani kehidupan yang keras mengingat pekerja anak tidak memiliki waktu untuk bermain, bersekolah atau menjadi seorang anak.

10 Juni 2016

Content also available in: English
Erna, 16 tahun, harus bangun pukul 5 dini hari dan bersiap-siap berangkat bekerja di pabrik garmen di Sukabumi, Jawa Barat. Ia selalu menggunakan rias wajah agar penampilannya terlihat lebih dewasa. Memalsukan usia dan meminjam ijazah bukan lagi rahasia bagi pelamar kerja di bawah umur di pabrik-pabrik garmen. Mereka harus bekerja untuk membantu keluarga kendati harus menjalani kehidupan yang keras mengingat pekerja anak tidak memiliki waktu untuk bermain, bersekolah atau menjadi seorang anak.

Kisah Erna merupakan bagian dari penayangan video pendek saat peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak 2016 di @America di Jakarta pada 8 Juni. Mengusung tema “Menanggulangi Pekerja Anak dalam Rantai Pasokan”, peringatan ini diselenggarakan bersama oleh ILO dan Kedutaan Amerika Serikat (AS) di Jakarta.

Erna merupakan salah seorang dari 168 juta pekerja anak yang terlibat dan menjadi bagian rantai pasokan global dan domestik. Rantai pasokan merupakan serangkaian kegiatan/proses yang melibatkan produksi dan distribusi sebuah produk. Dengan globalisasi, rantai pasokan menjadi semakin kompleks, melibatkan para pekerja, usaha kecil dan perusahaan di seluruh dunia.

Francesco d’Ovidio, Direktur ILO di Indonesia, menegaskan bahwa dalam rantai pasokan, pekerja anak umumnya melakukan pekerjaan di bengkel kecil atau rumah tanpa sepengetahuan perusahaan-perusahaan di tingkat rantai tertinggi sehingga sulit untuk diidentifikasi dan ditanggulangi.

“Jika kita pergi ke pabrik garmen atau sepatu atau makanan, kita mungkin tidak menemukan pekerja anak di sana. Namun, kita harus ingat kendati rantai terakhir dalam rantai pasokan kemungkinan terbebas dari pekerja anak, kita harus melihat rantai-rantai sebelumnya untuk memastikan tidak adanya kekerasan yang tersembuyi di sepanjang proses rantai pasokan,” kata dia saat sesi diskusi..

Assessment and Remediation Manager GAP Indonesia, Toni Wahid, mengakui bahwa pemalsuan umur kerap terjadi di sektor garmen. Dari ribuan pelamar kerja, perusahaan akan menemukan sekitar 20 hingga 30 persen anak-anak di bawah umur yang mempergunakan identitas palsu. Dengan hanya beberapa ratus ribu rupiah, seorang anak usia 15 tahun dapat memperoleh dokumen yang menyatakan dia berusia lebih dari 18 tahun.

“Kami tidak menoleransi pekerja anak. Kami melakukan verifikasi ganda dan menetapkan kriteria ketat untuk mengecek dokumen dalam proses pelamaran guna memastikan seluruh 93 pabrik yang dioperasikan GAP di Sukabumi, Jakarta dan Jawa Tengah tidak mempekerjakan anak,” kata Toni.

Selanjutnya, perusahaan-perusahaan multinasional kemungkinan terkait hal ini melalui rantai pasokan internasional - melalui fasilitas sendiri, pemasok atau subkontraktor mereka - atau hanya karena beroperasi di daerah di mana perburuhan anak biasa terjadi. Karenanya, Morgan C. Hall, Staf Bidang Politik di Kedutaan AS untuk Indonesia, mendukung pemerintah Indonesia agar secara aktif mengawasi rantai pasokan sebagai upaya menanggulangi pekerja anak dalam rantai pasokan.

“Pemerintah AS telah menjalin kerjasama erat dengan para pemimpin dunia dan organisasi yang terkait untuk menemukan solusi dalam menanggulangi masalah pekerja anak. Kami bekerja sama dengan ILO, misalnya, untuk menghapuskan pekerja anak di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.”

Untuk solusi jangka panjang, Laurend Sinaga, Pejabat Sementara Direktur Norma Kerja, Perempuan dan Anak, Kementerian Ketenagakerjaan, berharap lebih banyak perusahaan swasta terfokus pada program tanggung jawab sosial perusahaan mengenai pendidikan. “Melalui program-program pendidikan ini, anak akan memiliki akses yang lebih luas atas pendidikan sehingga mereka tidak harus bekerja. Pemerintah tidak dapat menanggulangi masalah pekerja anak sendirian. Untuk mengakhiri pekerja anak dalam rantai pasokan, kita harus bekerja bersama. Ini merupakan tanggung jawab bersama,” ia menegaskan.

Seluruh rantai pasokan, dari pertanian hingga manufaktur, jasa hingga konstruksi, berisiko terhadap pelibatan pekerja anak. Diperkirakan sekitar 59 persen pekerja anak berada di sektor pertanian, diikuti 32 persen di sektor jasa (termasuk pekerjaan rumah tangga) dan 7 persen di industri manufaktur.

Lebih dari 230 orang menghadiri peringatan ini, mencakup pejabat pemerintah, penggiat buruh, organisasi pengusaha, organisasi internasional dan nasional, pelajar, mahasiswa dan media massa. Untuk menandai Hari Dunia ini, perwakilan dari pemerintah, pengusaha, pekerja, ILO dan kedutaan AS menggunting gambar pekerja anak dari miniatur yang menggambarkan rantai pasokan.

“Pengguntingan ini mencerminkan komitmen simbolis dari para aktor ketengakerjaan Indonesia yang menyerukan aksi bersama untuk mencegah anak terlibat dalam pekerjaan berbahaya, terutama dalam rantai pasokan,” Arum Ratnawati, Kepala Penasihat Teknis ILO untuk Pekerja Anak menjelaskan.

Related content

Menanggulangi pekerja anak dalam rantai pasokan di Indonesia

Hari Dunia Menentang Pekerja Anak

Menanggulangi pekerja anak dalam rantai pasokan di Indonesia