Memberdayakan petani kopi: Pelatihan kesadaran akan gigitan ular oleh ILO Vision Zero Fund dan Nestlé Indonesia

ILO Vision Zero Fund dan Nestlé Indonesia bersama-sama meningkatkan pengetahuan dan melindungi petani kopi Indonesia dari gigitan ular sebagai bahaya biologis yang signifikan.

19 Februari 2025

Content also available in: English

LAMPUNG, Indonesia (Berita ILO) - Menurut perkiraan WHO, setiap tahunnya, 5,4 juta orang di seluruh dunia digigit ular, sebagian besar dari mereka tinggal di daerah pedesaan di daerah tropis dan sub-tropis dan bekerja di pertanian. Selain pekerja pertanian, anak-anak juga berisiko tinggi. Estimasi juga menunjukkan bahwa sekitar 81.000 hingga 138.000 orang di seluruh dunia meninggal setiap tahunnya akibat gigitan ular berbisa dan 400.000 orang lainnya mengalami cacat permanen akibat gigitan ular.

Seperti yang saya pelajari dalam pelatihan ini, kita harus tetap tenang dan menghindari gerakan cepat ketika bertemu ular di lapangan. Ular tidak dapat melihat dengan baik tetapi mereka bereaksi terhadap gerakan.

Eci Atona, seorang petani kopi dari Kecamatan Sekincau, Lampung Barat

Sebagai negara kepulauan, menurut Kementerian Kesehatan Indonesia, Indonesia memiliki antara 350 hingga 370 spesies ular, 77 di antaranya berbisa. Diperkirakan jumlah gigitan ular setiap tahunnya mencapai 135.000 kasus, berdasarkan informasi yang dicatat oleh Indonesia Toxinology Society selama 10 tahun terakhir. Diperkirakan lebih lanjut bahwa 10 persen dari gigitan ular mengakibatkan kematian.

Ular diidentifikasi sebagai bahaya biologis utama bagi pekerja pertanian dalam survei tahun 2024 oleh ILO Vision Zero Fund tentang risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di perkebunan kopi di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Banyak dari kematian dan kasus-kasus morbiditas terkait dapat dicegah jika para pekerja pertanian memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang cara mencegah gigitan ular, mengetahui cara memberikan pertolongan pertama dan memiliki akses tepat waktu ke anti bisa ular.

A person standing in front of a slide displaying a photo of a man with a snake
© ILO
© ILO
Diperkirakan jumlah gigitan ular setiap tahunnya mencapai 135.000 kasus, berdasarkan informasi yang dicatat oleh Indonesia Toxinology Society selama 10 tahun terakhir. 2/2025

Untuk mengatasi hal ini, ILO Indonesia, bekerja sama dengan Nestlé Indonesia, menyelenggarakan sesi pelatihan untuk meningkatkan kesadaran petani kopi tentang spesies ular yang umum di Indonesia—termasuk tingkat bahayanya (tidak berbisa, agak berbisa atau berpotensi mematikan), habitat dan perilakunya.

Diadakan pada 5-6 Februari, pelatihan ini mencakup sesi tentang pencegahan gigitan ular dan pertolongan pertama, serta ketersediaan layanan kesehatan masyarakat untuk mengobati gigitan ular—mengatasi kecenderungan petani untuk mencari bantuan dari dukun daripada mengunjungi klinik, yang mungkin memiliki anti bisa ular atau dapat membantu merujuk korban ke rumah sakit yang tepat.

Pelatihan ini membantu para peserta untuk mengurangi rasa takut mereka terhadap ular karena pelatihan ini membekali mereka dengan pengetahuan yang penting untuk memahami secara lebih baik perilaku ular dalam interaksinya dengan manusia.

Kristina Kurths, Manajer Proyek, ILO Vision Zero Fund, Indonesia

Pelatihan yang diadakan di Balai Kec. Sumberejo dan Balai Pekon Ngarip, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, dihadiri oleh 76 peserta, termasuk petani kopi, perwakilan dari kabupaten dan fasilitas masyarakat (Balai Penyuluhan Pertanian, Dinas Kesehatan, puskesmas, guru dan siswa) serta sektor swasta (ahli agronomi Nestle, pemasok kopi).

Kristina Kurths, Manajer Proyek, ILO Vision Zero Fund, Indonesia, menekankan bahwa paparan bahaya biologis melalui serangga dan hewan, khususnya ular, merupakan ancaman bagi keselamatan dan kesehatan petani kopi. "Pelatihan ini membantu para peserta untuk mengurangi rasa takut mereka terhadap ular karena pelatihan ini membekali mereka dengan pengetahuan yang penting untuk memahami secara lebih baik perilaku ular dalam interaksinya dengan manusia. Dengan menerapkan pengetahuan ini, risiko petani untuk digigit ular akan berkurang."

A group photo
© ILO
© ILO
Pelatihan yang diadakan di Balai Kec. Sumberejo dan Balai Pekon Ngarip, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, dihadiri oleh 76 peserta,

Selama pelatihan, para peserta juga belajar apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari jika digigit ular. Eci Atona, seorang petani kopi dari Kecamatan Sekincau, Lampung Barat, berbagi pengalamannya menyaksikan petani di daerahnya digigit ular ketika sedang menyiangi atau memangkas.

"Seperti yang saya pelajari dalam pelatihan ini, kita harus tetap tenang dan menghindari gerakan cepat ketika bertemu ular di lapangan. Ular tidak dapat melihat dengan baik tetapi mereka bereaksi terhadap gerakan," ujarnya.

Dengan mengundang para pemangku kepentingan dari organisasi lokal dan penyedia layanan, seperti layanan kesehatan primer, kami dapat mempromosikan pengetahuan tentang bahaya K3 dan manajemen risiko di tingkat masyarakat

Adi Wicaksana, Kepala Perkebunan Kopi yang Berkelanjutan, Nestlé Indonesia

Kendati pelatihan ini menyoroti praktik-praktik yang baik dalam pencegahan gigitan ular dan pertolongan pertama, pelatihan ini juga berfungsi sebagai pengingat bahwa kesenjangan yang substansial dalam bidang ini—terutama dalam hal kesadaran, pengetahuan dan akses terhadap pengobatan—masih ada. ILO dan Nestlé, dengan melibatkan pihak-pihak yang berwenang dan penyedia layanan terkait, akan terus berupaya mengatasi kesenjangan ini, dengan fokus pada penyebaran pengetahuan yang dapat membantu para petani agar tidak terluka ketika berhadapan dengan ular.

Adi Wicaksana, Kepala Perkebunan Kopi yang Berkelanjutan, menyatakan bahwa pelatihan ini menggambarkan komitmen Nestlé untuk berbagi dengan para petani kopi mengenai nilai-nilai yang dianut perusahaan dan meningkatkan pemahaman mereka mengenai bahaya yang berhubungan dengan pekerjaan yang mereka hadapi, terutama bahaya biologis. "Dengan mengikuti pelatihan ini, para petani mendapatkan keterampilan untuk melakukan tindakan pencegahan guna memastikan kegiatan pertanian mereka menjadi lebih aman dan sehat. Dan dengan mengundang para pemangku kepentingan dari organisasi lokal dan penyedia layanan, seperti layanan kesehatan primer, kami dapat mempromosikan pengetahuan tentang bahaya K3 dan manajemen risiko di tingkat masyarakat."

Related content

Meningkatkan kondisi K3 dan sosial bagi perempuan dan laki-laki di komunitas petani kopi di Indonesia
a coffee farmer harvesting coffee beans in Vietnam

Vision Zero Fund

Meningkatkan kondisi K3 dan sosial bagi perempuan dan laki-laki di komunitas petani kopi di Indonesia

Relevant projects

Meningkatkan kondisi K3 dan sosial bagi perempuan dan laki-laki di komunitas petani kopi di Indonesia
a coffee farmer harvesting coffee beans in Vietnam

Vision Zero Fund

Meningkatkan kondisi K3 dan sosial bagi perempuan dan laki-laki di komunitas petani kopi di Indonesia