ILO dan Jurnal Perempuan mengkaji peran perempuan dalam pekerjaan dan ekonomi perawatan
Sebagai bagian dari kampanye ILO mengenai ekonomi perawatan, sebuah edisi khusus bersama diluncurkan, bekerja sama dengan Jurnal Perempuan untuk mempromosikan investasi yang lebih besar dalam ekonomi perawatan demi dunia kerja yang lebih setara gender.
2 Agustus 2024
JAKARTA, Indonesia (Berita ILO) - ILO dan Jurnal Perempuan, jurnal feminis Indonesia, meluncurkan edisi gabungan kedua bertajuk “Kerja dan Ekonomi Perawatan”, yang mengkaji beban ganda yang dihadapi perempuan dalam melakukan pekerjaan perawatan yang mengakibatkan stagnannya partisipasi perempuan di pasar kerja. Masih dianggap sebagai pekerjaan yang tidak produktif. Peluncuran yang diadakan pada tanggal 31 Januari ini juga menandai kampanye berkelanjutan ILO dalam mendorong investasi yang lebih besar dalam ekonomi perawatan demi membangun dunia kerja yang lebih baik dan setara gender.
Isu-isu utama yang disoroti dalam edisi bersama ini mencakup penelitian kualitatif tentang pentingnya redistribusi pekerjaan perawatan, kesenjangan kebijakan mengenai pekerjaan perawatan yang dibayar dan tidak dibayar, promosi hak-hak maternitas, kurangnya dukungan dari negara dan industri kepada perempuan di pabrik dan sebagai pekerja rumahan, pentingnya perlindungan pekerja rumah tangga dan reproduksi sosial di sektor kelapa sawit.
kami mendesak perlunya pendidikan dan pelatihan lebih lanjut untuk mendukung keterlibatan laki-laki dalam pekerjaan perawatan melalui teladan dan tokoh yang dapat menyuarakan pemahaman gender khususnya di daerah pedesaan atau di tingkat perusahaan
Abby Gina, Direktur Eksekutif Jurnal Perempuan
Dalam diskusi interaktif, Early Dewi Nuriana, Koordinator Program ILO untuk Ekonomi Perawatan, menjelaskan tentang dukungan ILO kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam mengembangkan Peta Jalan Ekonomi Perawatan. Peta Jalan tersebut telah mengidentifikasi koordinasi antar kementerian demi memastikan terlaksananya kebijakan dan layanan kerja perawatan yang menjadi kewenangan masing-masing kementerian terkait.
“Peta Jalan ini berfokus pada kegiatan program prioritas untuk 20 tahun ke depan, yang akan berkontribusi pada Tujuan Indonesia Emas tentang Perlindungan Sosial Adaptif, Ilmu Pengetahuan, Inovasi, Kualitas Produktivitas Ekonomi Keluarga dan Kesetaraan Gender sebagai bagian dari Perencanaan Pembangunan Jangka Panjang Nasional. Peta jalan ini diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan partisipasi angkatan kerja perempuan sebesar 70 persen pada 2045. Ini akan melibatkan antar kementerian dan antar lembaga tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga daerah untuk membangun perekonomian yang lebih baik dan setara gender di seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia kerja,” ujarnya.
Sementara itu, Abby Gina, Direktur Eksekutif Jurnal Perempuan, memaparkan temuan utama penelitian kualitatif mengenai redistribusi pekerjaan perawatan yang berfokus pada keterlibatan laki-laki berdasarkan perspektif feminisme. Meskipun RUU Kesejahteraan Ibu dan Anak masih menekankan nilai-nilai tradisional bahwa perempuan masih bertanggung jawab atas tanggung jawab pengasuhan, temuan ini menunjukkan kemajuan baru dalam usulan perpanjangan cuti ayah menjadi 40 hari.
Penelitian ini juga menemukan praktik baik ditunjukkan beberapa perusahaan dalam mempromosikan dan menerapkan cuti ayah. Sebuah perusahaan rintisan yang CEO-nya laki-laki, misalnya, telah menerapkan cuti ayah selama satu bulan sejak tahun 2017; sedangkan perusahaan multinasional dengan 22 ribu pekerja telah menerapkan kebijakan cuti tanpa gender dengan menggunakan istilah pengasuh utama.
“Dari penelitian ini, kami mempelajari kemajuan penting yang telah diterapkan di tempat kerja. Namun, kami mendesak perlunya pendidikan dan pelatihan lebih lanjut untuk mendukung keterlibatan laki-laki dalam pekerjaan perawatan dan perlunya cara baru untuk mengidentifikasi makna maskulinitas dan peran sebagai ayah melalui teladan dan tokoh yang dapat menyuarakan pemahaman gender khususnya di daerah pedesaan atau di tingkat perusahaan,” kata Abby.
Peta jalan ini diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan partisipasi angkatan kerja perempuan sebesar 70 persen pada 2045. Ini akan melibatkan antar kementerian dan antar lembaga tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga daerah.
Early Dewi Nuriana, Koordinator Program Ekonomi Perawatan ILO
Diskusi interaktif tersebut juga menghadirkan Resmi Setia Milawati, staf Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, yang ikut menulis artikel jurnal tentang perlindungan maternitas. Ia mencontohkan, program perlindungan sosial nasional hanya berlaku bagi perempuan yang bekerja di sektor perekonomian formal dan belum berlaku bagi perempuan pekerja informal dan pekerja kontrak. Ia juga mengkaji beban yang ditanggung oleh sektor swasta untuk mendanai perlindungan maternitas bagi pekerja perempuan mereka.
“Oleh karena itu, kami merekomendasikan pentingnya pendanaan bersama antara pengusaha, pekerja dan pemerintah yang digabungkan melalui program perlindungan sosial nasional. Kami merekomendasikan tanggung jawab kolektif untuk memastikan perlindungan maternitas dapat dinikmati oleh seluruh pekerja perempuan, termasuk pekerja informal dan pekerja mandiri,” ujarnya.
Peluncuran dan diskusi interaktif disaksikan oleh 370 pemirsa secara daring. Beberapa komentar termasuk harapan bahwa Peta Jalan Ekonomi Perawatan dapat mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender, perlunya konstruksi sosial yang dapat mengalihkan tanggung jawab pekerjaan perawatan tidak hanya kepada perempuan, tetapi juga laki-laki dan perlunya kebijakan afirmatif untuk menyeimbangkan antara tanggung jawab kerja dan kehidupan bagi laki-laki dan perempuan.
Sebagai bagian dari peluncuran tersebut, kampanye media sosial bersama juga dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Serangkaian pesan di media sosial dipublikasikan, mengangkat pesan mengenai pengakuan hak-hak pekerja rumah tangga, kerentanan pekerja informal untuk mendapatkan manfaat dari cuti melahirkan, perlunya tempat penitipan anak bagi perempuan dan laki-laki pekerja yang memiliki tanggung jawab keluarga. Kampanye ini telah menjangkau dan melibatkan 44.715 pemirsa.
Related content
Pekerjaan perawatan
Perempuan masih kesulitan untuk mengatur pekerjaan berbayar dan pekerjaan perawatan tidak berbayar
Kerja dan ekonomi perawatan, Jurnal Perempuan 116, 2023