Migrasi kerja
ILO bersama mitranya melindungi pekerja migran Indonesia dari ancaman siber keuangan
Lokakarya pelatihan percontohan, yang didukung oleh ILO dan mitranya, menandai langkah penting dalam melindungi pekerja migran, terutama perempuan, dari penipuan keuangan daring dan ancaman digital.
1 Oktober 2025
CIREBON, Jawa Barat, Indonesia (Berita ILO) - Sekitar 140 calon pekerja migran dan anggota komunitas desa di Cirebon, Jawa Barat – 90 persen di antaranya adalah perempuan – mengikuti lokakarya pelatihan percontohan tentang keamanan siber keuangan dan praktik internet aman bagi pekerja migran Indonesia. Inisiatif ini menandai langkah penting dalam melindungi pekerja migran, terutama perempuan, dari penipuan keuangan daring dan ancaman digital.
Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari dari 16 hingga 18 September ini diselenggarakan bersama oleh ILO, Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI/BP2MI), Dinas Tenaga Kerja Cirebon dan Saver Global, sebuah perusahaan jasa keuangan. Sesi pelatihan disampaikan oleh para mitra lokal, termasuk petugas layanan tenaga kerja publik, Pusat Informasi Pekerja Migran (MRC), pusat krisis perempuan dan Federasi Serikat Pekerja Migran Indonesia.
Keamanan siber dan penggunaan internet yang aman sangat penting bagi pekerja migran Indonesia untuk melindungi data pribadi dan keuangan dari pencurian dan penipuan, melindungi perangkat dari malware dan peretasan serta membangun kepercayaan saat berinteraksi dengan pemberi kerja atau pihak lain secara daring.
Sinthia Harkrisnowo, Koordinator Proyek PROTECT ILO di Indonesia
Dukungan ILO diberikan melalui proyek Menjamin Pekerjaan Layak dan Mengurangi Kerentanan bagi Perempuan dan Anak dalam Konteks Migrasi Kerja di Asia Tenggara (PROTECT), yang didanai oleh Uni Eropa (UE). Proyek ini dilaksanakan bersama oleh ILO, UN Women, Kantor PBB untuk Narkotika dan dan Kejahatan (UNODC) dan Dana Anak-anak PBB (UNICEF) untuk melindungi hak-hak pekerja migran perempuan dan anak-anak migran di seluruh kawasan.
“Keamanan siber dan penggunaan internet yang aman sangat penting bagi pekerja migran Indonesia untuk melindungi data pribadi dan keuangan dari pencurian dan penipuan, melindungi perangkat dari malware dan peretasan serta membangun kepercayaan saat berinteraksi dengan pemberi kerja atau pihak lain secara daring,” jelas Sinthia Harkrisnowo, Koordinator Proyek PROTECT ILO di Indonesia. “Keamanan siber juga membantu mencegah pemerasan, gangguan operasional dan melindungi reputasi pekerja migran dari penyalahgunaan data.”
Acara tersebut secara resmi dibuka oleh Inspektur Jenderal Polisi Raja Sinambela, Direktur Keamanan Siber di KP2MI. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya mengakui pekerja migran sebagai kontributor utama dalam pembangunan nasional, yang tidak hanya layak mendapat pengakuan tetapi juga perlindungan yang kuat. Ia juga menyoroti risiko sosial-ekonomi yang ditimbulkan oleh ancaman digital dan kebutuhan akan langkah-langkah keamanan siber yang proaktif.
Dwi Sulistiorini, Wakil Dinas Tenaga Kerja Cirebon, mengucapkan terima kasih atas inisiatif ini, mencatat perannya dalam membangun ketahanan digital di kalangan pekerja migran. Ia juga mengakui kontribusi pekerja migran dan mitra lokal dari Kabupaten Cirebon, termasuk kepala desa, petugas layanan tenaga kerja, organisasi perempuan dan serikat pekerja migran.
Program pelatihan ini menggunakan aplikasi SaverLearning untuk menyajikan konten pelatihan digital yang dapat diakses oleh semua peserta. SaverLearning adalah pelantar pendidikan keuangan yang membuat proses belajar tentang keuangan menjadi mudah dan menyenangkan melalui kursus, perangkat pelatihan dan permainan. Dua kursus digital baru tersedia dalam bahasa Indonesia melalui aplikasi ini, mencakup topik seperti transfer uang aman, pembayaran seluler dan perlindungan kata sandi. Selain itu, kursus Safe Surfing memberikan panduan untuk menghindari pengelabuan, pemancingan data dan penipuan secara daring.
Pelatihan dan aplikasi pembelajaran akan digunakan lebih lanjut oleh MRC untuk mengedukasi pekerja migran dan komunitas tentang keamanan siber dan praktik internet yang aman. Selain itu, ILO memfasilitasi lokakarya untuk mengembangkan rekomendasi bersama yang bertujuan memperkuat kebijakan dan kapasitas pemerintah terkait keamanan digital bagi pekerja migran.