Mempromosikan tempat kerja yang inklusif di Indonesia

ILO bersama Kementerian Ketenagakerjaan dan Apindo mendorong perusahaan mempromosikan tempat kerja yang inklusif

Sejalan dengan peringatan Hari Penyandang Disabilitas Internasional, ILO bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meluncurkan kembali dan merevitalisasi Jejaring Bisnis dan Disabilitas Indonesia (JBDI) di Jakarta pada 3 December.

3 Desember 2020

Content also available in: English
JAKARTA (Siaran pers) – Sejalan dengan peringatan Hari Penyandang Disabilitas Internasional, ILO bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meluncurkan kembali dan merevitalisasi Jejaring Bisnis dan Disabilitas Indonesia (JBDI) di Jakarta pada 3 December.

Peluncuran kembali JBDI ini ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama oleh ketiga pihak yang bertujuan mempromosikan keberagaman dan inklusivitas di tempat kerja. Komitmen ini juga menegaskan kolaborasi di antara pemerintah, sektor swasta dan organisasi terkait lainnya dalam memastikan hak penyandang disabilitas, menjunjung prinsip-prinsip non-diskiminasi dan mengadvokasi peluang dan perlakuan yang sama.

Jejaring ini dapat menjadi forum berbagi dan pembelajaran di antara para pengusaha guna membangun lingkunga kerja yang inklusif, kondusif dan setara. Selanjutnya para penyandang disabilitas pun dapat semakin menyadari peluang yang tersedia bagi mereka untuk mengembangkan karier di perekonomian formal sesuai dengan kemampuan, minat dan talenta mereka."

Michiko Miyamoto, Direktur ILO untuk Indonesia yang juga bertindak sebagai perwakilan JBDI
Selain untuk menghidupkan kembali komitmen para perusahaan pendiri JBDI, peluncuran kembali ini juga bertujuan menyambut anggota perusahaan baru yang telah memperlihatkan komitmen mereka terhadap angkatan kerja inklusif dan kebijakan serta praktik kerja yang inklusif. Terdapat sekitar 50 perusahaan dan lembaga terkait yang sudah mendaftarkan diri menjadi anggota baru JBDI. Diharapkan revitalisasi JBDI ini memberikan akses yang lebih besar kepada lapangan kerja formal bagi penyandang disabilitas.

Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian Universitas Indonesia mengenai penyandang disabilitas pada 2016, dari 12,15 persen penyandang disabilitas di Indonesia, hanya 51,12 persen berpartisipasi dalam angkatan kerja, jauh lebih rendah dibandingkan dengan orang tanpa disabilitas pada 70,40 persen. Selanjutnya para penyandang disabilitas cenderung bekerja di perekonomian informal (65,55 persen). Penyandang disabilitas belum tercakup ke dalam perekonomian formal yang menjadi salah satu perhatian utama yang diharapkan dapat dijawab melalui JBDI.

Michiko Miyamoto, Direktur ILO untuk Indonesia yang juga bertindak sebagai perwakilan JBDI, menegaskan bahwa penyandang disabilitas memiliki potensi besar yang dapat mereka tawarkan untuk membantu perusahaan mencapai target. Namun, masing-masing perusahaan masih bergerak sendiri tanpa memiliki wadah untuk berbagi praktik-praktik terbaik yang dapat menguntungkan baik pengusaha maupun pekerja.

“Karenanya jejaring ini dapat menjadi forum berbagi dan pembelajaran di antara para pengusaha guna membangun lingkunga kerja yang inklusif, kondusif dan setara. Selanjutnya para penyandang disabilitas pun dapat semakin menyadari peluang yang tersedia bagi mereka untuk mengembangkan karier di perekonomian formal sesuai dengan kemampuan, minat dan talenta mereka,” ia berkata.

JBDI memiliki misi untuk mendorong komunitas dunia usaha di Indonesia menjadi lebih inklusif dan menerima keberagaman, yang dilakukan melalui pertukaran informasi atau melalui program yang saling menguntungkan seperti kerja sama antar perusahaan atau lembaga terkaitnya lainnya. Pembentukan JBDI ini dilatari prakarsa-prakarsa yang sudah dilakukan perusahaan Indonesia dan Jejarng Bisnis dan Disabilitas Global (GBDN) ILO.

Selain misi tersebut, para anggota JBDI juga berkomitmen untuk: 1) Mendorong upaya mempersiapkan sektor usaha agar lebih inklusif (mencakup di antaranya sektor berikut ini: infrastruktur, pola pikir & kebijakan, aksesibilitas, akomodasi yang memadai, pendidikan dan pelatihan serta peningkatan kesadaran melalui pertukaran informasi); 2) Memfasilitasi peran aktif dan kesiapan penyandang disabilitas untuk bekerja (mencakup di antaranya bidang berikut ini: pola pikir, keterampilan komunikasi, akomodasi yang memadai, pendidikan dan pelatihan dan peningkatan kesadaran); 3) Melakukan rekrutmen berdasarkan kemampuan bagi penyandang disabilitas dengan mempergunakan mekanisme kesetaraan dan ramah keberagaman; dan 4) Mendorong program kreatif yang dapat meningkatkan baik daya saing perusahaan maupun kemandirian penyandang disabiltias.

JBDI sebelumnya diluncurkan dan didirikan pada 2016 dengan lima perusahaan pendiri: PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT L’Oreal Indonesia, PT Standard Chartered Indonesia, PT TetraPak Stainless Engineering dan PT Trans Retail Indonesia.

Acara ini ditutup dengan bincang-bincang interaktif mengenai kegiatan dan inisiatif inklusif yang dilakukan di tingkat perusahaan. Praktik-praktik terbaik dibagikan oleh perusahaan pendiri yang diwakili PT L’Oreal Indonesia, PT Bank Mandiri (Persero), serta perusahaan yang baru bergabung diwakili Burger King Indonesia dan PT FWD Life. Perusahaan-perusahaan ini berbagi berbagai kegiatan untuk memberikan akses ke pekerjaan yang lebih baik bagi penyandang disabilitas.

Untuk informasi selanjutnya, hubungi:

Tendy Gunawan
Staf ILO untuk Inklusivitas
Email: [email protected]

Gita Lingga
Staf Komunikasi ILO
Email : [email protected]

Related content

Perusahaan berupaya ciptakan tempat kerja inklusif melalui Jejaring Bisnis dan Disabilitas Indonesia

Mempromosikan inklusivitas di tempat kerja

Perusahaan berupaya ciptakan tempat kerja inklusif melalui Jejaring Bisnis dan Disabilitas Indonesia

Sunyi Bersuara: Kampanye sosial mempromosikan peluang kerja yang inklusif dan setara

Dampak kami, suara mereka

Sunyi Bersuara: Kampanye sosial mempromosikan peluang kerja yang inklusif dan setara