ILO bersama badan PBB lainnya di Indonesia mempromosikan inklusivitas dan tidak meninggalkan siapa pun
Sebagai badan utama untuk isu disabilitas, ILO menjadi bagian dari Sesi SDM PBB tentang Disabilitas untuk mempromosikan hak-hak penyandang disabilitas atas pekerjaan yang layak dan penciptaan tempat kerja yang inklusif di negara ini.
1 Juni 2023
Content also available in:
English
Asep Irawan, 48 tahun, mengunjungi meja ILO pada Sesi SDM PBB tentang Disabilitas yang diadakan di Jakarta Mei lalu. Ia berharap mendapatkan informasi peluang kerja karena sedang mencari pekerjaan baru setelah kehilangan pekerjaan akibat pandemi COVID-19.
Seraya mencari pekerjaan baru, ia kini melanjutkan usaha keluarga yang bergerak di bidang penyewaan dekorasi dan perlengkapan pernikahan. “Sayangnya, pekerjaan yang ditawarkan hanya tersedia untuk pencari kerja di bawah usia 40 tahun. Tapi saya akan terus berusaha karena saya sangat berharap bisa masuk kembali ke dunia kerja,” tambahnya.
Kisah serupa juga diungkapkan oleh M. Baihaqi yang melakukan perjalanan dengan bus dari Surabaya, Jawa Timur, untuk mengenal lebih jauh badan-badan PBB di Indonesia dan mencari peluang kerja yang tersedia. “Saya bekerja sebagai petugas administrasi di perusahaan keuangan. Kontrak kerja saya baru saja berakhir. Saya sekarang mencari peluang yang ada,” kata Baihaqi yang memiliki disabilitas fisik.
Sebanyak 204 penyandang disabilitas mengikuti Sesi SDM mengenai Disabilitas. Tidak hanya penyandang disabilitas, organisasi-organisasi yang menangani isu disabilitas juga hadir dalam sesi ini untuk mengembangkan kemitraan dengan badan-badan PBB dalam mempromosikan inklusivitas di tanah air.
Tendy Gunawan, Staf Program ILO untuk Inklusivitas, menyatakan bahwa sebagai badan utama di bidang disabilitas dan inklusivitas, ILO terus mempromosikan hak-hak penyandang disabilitas atas pekerjaan yang layak dan penciptaan tempat kerja yang inklusif di negara ini. Oleh karena itu, dalam proses seleksi rekrutmen, ia berharap harus berdasarkan usia, jenis disabilitas, jenis kelamin dan lain sebagainya.
“Untuk mencapai dunia kerja yang inklusif di tanah air, proses seleksi rekrutmen harus didasarkan pada kemampuan dan keterampilan yang dimiliki penyandang disabilitas. Pekerjaan dan jabatan juga tidak boleh dikotak-kotakkan berdasarkan bentuk disabilitasnya, melainkan bekerja untuk menghilangkan hambatan di tempat kerja sehingga semua orang dapat bekerja dengan kemampuan terbaiknya,” ujarnya.
Sesi SDM ini ditindaklanjut oleh lokakarya dengan organisasi penyandang disabilitas dan Badan PBB. Lokakarya ini bertujuan untuk membahas bagaimana Badan-badan PBB dapat secara bermakna melibatkan penyandang disabilitas dalam pekerjaan mereka serta memfasilitasi keterlibatan penyandang disabilitas dalam pembuatan kebijakan dan program oleh pemerintah.
Selain itu, untuk mempromosikan dunia kerja yang inklusif, ILO berperan sebagai sekretariat Jaringan Bisnis dan Disabilitas Indonesia (JBDI). Sebagai bagian dari Jaringan Bisnis dan Disabilitas Global ILO (GBDN), IBDN mendorong perusahaan untuk menjadi anggota IBDN dan menjadi bagian dari gerakan global dan nasional menuju tempat kerja yang inklusif. Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini.
“Saya memiliki gelar Magister Manajemen dan sebelumnya telah berpengalaman bekerja di perusahaan kontraktor dan perdagangan. Namun, setelah kehilangan pekerjaan tiga tahun lalu, sulit bagi saya untuk mencari pekerjaan baru,” kata Asep yang terlahir dengan gangguan pendengaran.Untuk mencapai dunia kerja yang inklusif di tanah air, proses seleksi rekrutmen harus didasarkan pada kemampuan dan keterampilan yang dimiliki penyandang disabilitas. Pekerjaan dan jabatan juga tidak boleh dikotak-kotakkan berdasarkan bentuk disabilitasnya, melainkan bekerja untuk menghilangkan hambatan di tempat kerja sehingga semua orang dapat bekerja dengan kemampuan terbaiknya."
Tendy Gunawan, Staf Program ILO untuk Inklusivitas
Seraya mencari pekerjaan baru, ia kini melanjutkan usaha keluarga yang bergerak di bidang penyewaan dekorasi dan perlengkapan pernikahan. “Sayangnya, pekerjaan yang ditawarkan hanya tersedia untuk pencari kerja di bawah usia 40 tahun. Tapi saya akan terus berusaha karena saya sangat berharap bisa masuk kembali ke dunia kerja,” tambahnya.
Kisah serupa juga diungkapkan oleh M. Baihaqi yang melakukan perjalanan dengan bus dari Surabaya, Jawa Timur, untuk mengenal lebih jauh badan-badan PBB di Indonesia dan mencari peluang kerja yang tersedia. “Saya bekerja sebagai petugas administrasi di perusahaan keuangan. Kontrak kerja saya baru saja berakhir. Saya sekarang mencari peluang yang ada,” kata Baihaqi yang memiliki disabilitas fisik.
Sebanyak 204 penyandang disabilitas mengikuti Sesi SDM mengenai Disabilitas. Tidak hanya penyandang disabilitas, organisasi-organisasi yang menangani isu disabilitas juga hadir dalam sesi ini untuk mengembangkan kemitraan dengan badan-badan PBB dalam mempromosikan inklusivitas di tanah air.
Tendy Gunawan, Staf Program ILO untuk Inklusivitas, menyatakan bahwa sebagai badan utama di bidang disabilitas dan inklusivitas, ILO terus mempromosikan hak-hak penyandang disabilitas atas pekerjaan yang layak dan penciptaan tempat kerja yang inklusif di negara ini. Oleh karena itu, dalam proses seleksi rekrutmen, ia berharap harus berdasarkan usia, jenis disabilitas, jenis kelamin dan lain sebagainya.
“Untuk mencapai dunia kerja yang inklusif di tanah air, proses seleksi rekrutmen harus didasarkan pada kemampuan dan keterampilan yang dimiliki penyandang disabilitas. Pekerjaan dan jabatan juga tidak boleh dikotak-kotakkan berdasarkan bentuk disabilitasnya, melainkan bekerja untuk menghilangkan hambatan di tempat kerja sehingga semua orang dapat bekerja dengan kemampuan terbaiknya,” ujarnya.
Sesi SDM ini ditindaklanjut oleh lokakarya dengan organisasi penyandang disabilitas dan Badan PBB. Lokakarya ini bertujuan untuk membahas bagaimana Badan-badan PBB dapat secara bermakna melibatkan penyandang disabilitas dalam pekerjaan mereka serta memfasilitasi keterlibatan penyandang disabilitas dalam pembuatan kebijakan dan program oleh pemerintah.
Selain itu, untuk mempromosikan dunia kerja yang inklusif, ILO berperan sebagai sekretariat Jaringan Bisnis dan Disabilitas Indonesia (JBDI). Sebagai bagian dari Jaringan Bisnis dan Disabilitas Global ILO (GBDN), IBDN mendorong perusahaan untuk menjadi anggota IBDN dan menjadi bagian dari gerakan global dan nasional menuju tempat kerja yang inklusif. Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini.