Gerakan Jagasawitan Indonesia mempromosikan tempat kerja yang aman dan setara di sektor kelapa sawit
Dengan dukungan dari ILO, sektor kelapa sawit Indonesia mengembangkan dan menerapkan pedoman keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang responsif gender.
9 Desember 2025
JAKARTA, Indonesia (Berita ILO) - Proyek Mewujudkan Keuntungan Perdagangan Bebas dari Diskriminasi Gender dan Pekerja Anak (RealGains) ILO, yang didukung oleh Pemerintah Kanada, mendukung pertemuan tahunan Jaringan Ketenagakerjaan untuk Sawit Berkelanjutan (Jagasawitan). Jagasawitan adalah badan kerja sama bipartit yang didirikan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dan Jaringan Serikat Pekerja Kelapa Sawit Indonesia (JAPBUSI), koalisi 11 federasi yang mewakili lebih dari 100.000 pekerja di seluruh Indonesia.
Jagasawitan mewakili kekuatan dialog sosial dan hubungan bipartit untuk perbaikan berkelanjutan sektor kelapa sawit.
Abdul Hakim, Mewakili Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste
Pertemuan yang diadakan di Jakarta pada 3 Desember tersebut berfokus pada pengembangan dan penerapan Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang responsif gender untuk sektor perkebunan kelapa sawit. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan keselamatan dan martabat di tempat kerja, terutama bagi pekerja perempuan, dengan memastikan bahwa langkah-langkah K3 mengatasi risiko dan kebutuhan spesifik gender.
Mewakili Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Abdul Hakim menegaskan kembali komitmen ILO dalam mendukung promosi dan penerapan Prinsip-prinsip dan Hak-hak Mendasar di Tempat Kerja di industri kelapa sawit Indonesia. “Jagasawitan mewakili kekuatan dialog sosial dan hubungan bipartit untuk perbaikan berkelanjutan sektor kelapa sawit. Sebagai contoh kerja sama antara pengusaha dan pekerja, inisiatif ini juga dapat direplikasi di sektor lain,” ujarnya.
Peluncuran aplikasi pengaduan di bawah Jagasawitan merupakan langkah penting ke depan. Aplikasi ini menyediakan mekanisme praktis bagi pekerja untuk menyampaikan keluhan secara aman dan transparan, memperkuat dialog sosial antara pengusaha dan pekerja dan, pada akhirnya, berkontribusi pada perlindungan hak-hak pekerja yang lebih kuat di sektor kelapa sawit
Dede Sudono, Koordinator ILO untuk Proyek RealGains di Indonesia
Saat pertemuan, Dede Sudono, Koordinator ILO untuk Proyek RealGains di Indonesia, menekankan bahwa dukungan ILO melalui Proyek RealGains ini dikembangkan berdasarkan kebutuhan baik pengusaha maupun pekerja di sektor kelapa sawit. Ia juga menegaskan bahwa pekerja perempuan masih kerap dianggap sebagai pekerja sekunder atau tersier dan masih rentan terhadap pelecehan di tempat kerja.
“Karenanya, peluncuran aplikasi pengaduan di bawah Jagasawitan merupakan langkah penting ke depan. Aplikasi ini menyediakan mekanisme praktis bagi pekerja untuk menyampaikan keluhan secara aman dan transparan, memperkuat dialog sosial antara pengusaha dan pekerja dan, pada akhirnya, berkontribusi pada perlindungan hak-hak pekerja yang lebih kuat di sektor kelapa sawit,” tambahnya.
Sementara Yuka Ujita, Ahli K3 Senior ILO, memaparkan beberapa pendekatan untuk mengintegrasikan perspektif gender dalam K3. Dia menekankan kebutuhan mendesak untuk mengintegrasikan perspektif gender ke dalam sistem manajemen K3 dengan menekankan bahwa laki-laki dan perempuan menghadapi jenis risiko yang berbeda di tempat kerja karena sifat tugas mereka, perbedaan biologis dan pola pekerjaan yang berorientasi gender.
“Mengenali perbedaan ini sangat penting untuk merancang langkah-langkah pencegahan, mengelola bahaya secara lebih efektif dan memastikan bahwa kebijakan dan praktik K3 memberikan perlindungan yang setara bagi semua pekerja,” ungkap Yuka.
Pertemuan tersebut ditutup dengan sesi berbagi pengetahuan yang menyoroti praktik baik dan pembelajaran dari GAPKI dan JAPBUSI. Di antara contoh yang dipaparkan adalah pembentukan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) di tingkat perusahaan yang mencakup ketentuan khusus untuk melindungi pekerja perempuan dari pelecehan seksual di tempat kerja yang menjadi langkah penting menuju penciptaan tempat kerja yang lebih aman dan adil.
Mengenali perbedaan ini sangat penting untuk merancang langkah-langkah pencegahan, mengelola bahaya secara lebih efektif dan memastikan bahwa kebijakan dan praktik K3 memberikan perlindungan yang setara bagi semua pekerja.
Yuka Ujita, Spesialis K3 Senior ILO
Selain itu, para peserta juga mempelajari pembentukan 10 tim gugus tugas yang menangani bidang-bidang utama seperti promosi kesetaraan gender dan penguatan K3. Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan upaya konkret di sektor ini guna melembagakan praktik ketenagakerjaan yang lebih baik dan mendorong lingkungan kerja yang lebih inklusif dan aman.
Menutup pertemuan, Nursanna Marpaung, Sekretaris Eksekutif JAPBUSI dan Sumarjono Saragih, Kepala Pengembangan Sumber Daya Manusia GAPKI, menyatakan dukungan kuat terhadap inisiatif-inisiatif ini. Nursanna menegaskan komitmen JAPBUSI untuk meningkatkan kesadaran dan memastikan penerapan K3 yang responsif gender di kalangan anggotanya. Sementara Sumarjono menekankan peran Jagasawitan dalam memastikan bahwa K3, kesetaraan gender dan lingkungan kerja yang aman tetap menjadi prioritas di seluruh sektor kelapa sawit Indonesia.
Related content
Proyek
Mewujudkan keuntungan perdagangan bebas dari diskriminasi gender dan pekerja anak (RealGains)
Pertemuan tahunan
Rapat koordinasi tahunan JAGASAWITAN: Lokakarya K3 dan sosialisasi informasi ketenagekerjaan nasional di sektor kelapa sawit
Relevant projects
Proyek
Mewujudkan keuntungan perdagangan bebas dari diskriminasi gender dan pekerja anak (RealGains)