Hari Internasional untuk Orang Usia Lanjut
Perawatan lansia di Indonesia: Yang terlihat dan tidak
Two Indonesian elderly care givers share their stories, offering a glimpse into the different experiences of family members caring for loved ones at home and professional caregivers working in eldercare services. Their testimonials highlight the ILO's campaign to promote decent work for care workers.
30 September 2025
Perjalanan Tumirah sebagai perawat anggota keluarga
Tumirah adalah seorang ibu tunggal dari Gunung Kidul, Yogyakarta, yang membesarkan seorang anak perempuan berusia remaja seraya merawat ibunya yang lanjut usia. Setiap hari, ia bangun pukul 02:00 pagi untuk menyiapkan panganan untuk dijual. Dengan bantuan putrinya, ia merebus air untuk minuman dan memasak nasi dengan hidangan sederhana untuk kebutuhan makan mereka hari itu.
Setelah melaksanakan shalat Subuh, Tumirah berkeliling desa untuk menjual panganan, sementara putrinya tinggal di rumah bersama sang nenek. Setelah kembali, ia membantu ibunya bersiap-siap untuk hari itu, sementara putrinya bergegas ke sekolah.
“Setelah berjualan, saya merawat ibu saya – memandikan, memijat, memberi makan dan membawanya ke depan rumah agar ia bisa menikmati hangatnya matahari dan pemandangan sekitar. Ini agar ia tidak bosan,” ungkap Tumirah.
Saya memiliki empat saudara kandung, tetapi tiga di antaranya telah sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab merawat ibu kami kepada saya.
Dulu dia sempat tinggal di Wonosari, sekitar 10 kilometer rumah ibunya, bersama suami dan anak perempuannya. Setelah suaminya meninggal, dia bekerja di warung makan untuk menghidupi keluarga. Namun, ketika ibunya sakit, dia terpaksa berhenti bekerja karena tidak ada orang lain yang bisa merawatnya.
“Saya memiliki empat saudara kandung, tetapi tiga di antaranya telah sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab merawat ibu kami kepada saya. Mereka sesekali mengirim uang untuk makanan dan kebutuhan sehari-hari, tetapi sebagian besar beban jatuh pada saya,” tambahnya.
Selain menjalani tanggung jawab perawatan, Tumirah dengan tekun mengurus pekerjaan rumah tangga dan mengelola ladang jagung, yang menjadi sumber penghasilan utamanya. Dia pergi ke ladang setelah putrinya pulang sekolah, menyeimbangkan perannya sebagai perawat dengan tuntutan bertani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
“Alhamdulillah, panen saya kali ini bagus. Saya berharap bisa menabung untuk biaya sekolah anak saya, biaya dokter ibu saya dan makan sehari-hari kami,” katanya. “Saya berdoa agar panen berikutnya lebih baik lagi sehingga saya bisa memulai usaha kecil-kecilan.”
Ibu saya sudah tua dan anak masih sekolah, tapi kami belum menerima bantuan apa pun. Aku tidak tahu kenapa. Sementara itu, tetangga lansia di seberang jalan sudah menerimanya.
Dia bingung mengapa keluarganya belum termasuk dalam Program Keluarga Harapan (PKH) pemerintah, yang telah tersedia sejak 2021. PKH adalah inisiatif Indonesia yang diluncurkan pada 2007 untuk memberikan transfer tunai bersyarat kepada rumah tangga termiskin dan paling rentan di negara ini.
“Ibu saya sudah tua dan anak masih sekolah, tapi kami belum menerima bantuan apa pun. Aku tidak tahu kenapa. Sementara itu, tetangga lansia di seberang jalan sudah menerimanya,” tuturnya.
Tumirah berharap mendapatkan penghasilan yang stabil dengan bekerja di kota agar dapat memberikan perawatan yang lebih baik untuk ibunya dan pendidikan untuk putrinya. Namun, karena tidak ada orang lain yang bisa merawat ibunya, dia mengakui, “Saya tidak punya pilihan, selain tinggal.”
Perjalanan Bintari sebagai perawat profesional
Di Bekasi, Jawa Barat, Bintari Septiana Rachmawati, seorang ibu dengan tiga anak, bekerja sebagai perawat profesional di Pusat Terpadu Pangudi Luhur di Bekasi, sebuah lembaga di bawah Kementerian Sosial yang menyediakan program rehabilitasi berbasis sosial, keluarga dan komunitas.
Hari Bintari dimulai di rumah, menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Setelah mengantar anak-anaknya ke sekolah, ia berangkat ke Pusat Terpadu, di mana ia dan timnya mengikuti rutinitas terstruktur dalam merawat penghuni lansia.
“Perawatan kesehatan selalu menjadi minat saya,” kata Bintari. “Saya menempuh pendidikan di Program Keperawatan di Purwokerto, Jawa Tengah sebelum bergabung dengan Pusat Terpadu ini.”
Apa pun yang mereka butuhkan, itu adalah tugas kami untuk membantu. Kami harus menjalankan pekerjaan kami dengan ketulusan dan dedikasi. Bukan karena kewajiban, tetapi karena kasih sayang yang tulus.
Setiap hari, ia memantau kesehatan umum lansia yang berada di bawah pengawasannya: memeriksa tekanan darah, menilai kondisi kesehatan dan mengelola obat-obatan mereka. Namun, tanggung jawabnya melampaui perawatan rutin. Ia selalu siaga sepanjang waktu, bahkan selama liburan, agar siap merespons keadaan darurat seperti kegagalan pernapasan atau henti jantung.
“Di panti jompo ini, kami mendorong lansia untuk tetap aktif dan kreatif melalui berbagai program, mulai dari hiburan hingga kegiatan pengembangan keterampilan,” jelasnya.
Pusat Terpadu ini menawarkan inisiatif yang dirancang untuk meningkatkan konsentrasi, memori dan interaksi sosial. “Kami menciptakan ruang di mana mereka bisa tertawa, berinteraksi satu sama lain dan merasakan kebersamaan,” tambah Bintari.
Bagi dia, merawat lansia adalah hal yang sangat personal. “Apa pun yang mereka butuhkan, itu adalah tugas kami untuk membantu. Kami harus menjalankan pekerjaan kami dengan ketulusan dan dedikasi. Bukan karena kewajiban, tetapi karena kasih sayang yang tulus,” katanya.
Dukungan ILO untuk memperkuat layanan perawatan lansia
Kendati pengakuan terhadap pekerja berbayar untuk lansia, terutama di panti jompo milik pemerintah dan swasta, Early Dewi Nuriana, Manajer Program Ekonomi Perawatan ILO, mengakui bahwa sebagian besar masyarakat masih enggan menempatkan orang tua mereka di panti jompo, karena hal ini masih sering dianggap sebagai bentuk penelantaran sosial terhadap orang tua lansia.
“Pada 2030, lebih dari 14 persen populasi akan berusia 60 tahun ke atas, menandai masuknya Indonesia ke dalam masyarakat yang menua,” katanya. “Namun, dengan sebagian besar pekerja di sektor informal yang tidak memiliki jaminan pensiun, tanggung jawab perawatan lansia jatuh pada mereka yang masih berusia kerja. Kisah Tumirah di Yogyakarta menyoroti bagaimana beban ini diperparah oleh bantuan sosial yang minim atau bahkan tidak ada sama sekali, baik bagi lansia maupun keluarga yang merawat mereka.”
Karenanya, ia menekankan kebutuhan mendesak untuk pengakuan dan penghargaan yang seimbang bagi pekerja perawatan – baik yang tidak dibayar (keluarga) maupun yang dibayar. “Hal ini krusial untuk memastikan bahwa lansia, baik yang dirawat di rumah maupun di lembaga, dapat tetap sehat dan produktif. Selain itu, beban yang ditanggung oleh pengasuh, terutama pekerja perawatan tidak dibayar dalam keluarga, perlu diakui dan diintegrasikan ke dalam skema bantuan sosial yang ada,” ia menyimpulkan.
Pada 2030, lebih dari 14 persen populasi akan berusia 60 tahun ke atas, menandai masuknya Indonesia ke dalam masyarakat yang menua. Namun, dengan sebagian besar pekerja di sektor informal yang tidak memiliki jaminan pensiun, tanggung jawab perawatan lansia jatuh pada mereka yang masih berusia kerja.
Early Dewi Nuriana, Manajer Program Ekonomi Perawatan ILO
Related content
Ekonomi perawatan
Perjalanan saya melawan tradisi sebagai bapak rumah tangga
Ekonomi perawatan
Tempat penitipan anak yang terasa seperti rumah