Pelaut perempuan Indonesia: Melawan gelombang pelecehan dan diskriminasi
Setelah mengikuti pelatihan pelatih ILO tentang pelecehan, kekerasan dan kerentanan HIV/AIDS di sektor maritim, seorang pelaut perempuan Indonesia secara aktif mempromosikan hak untuk terbebas dari pelecehan dan diskriminasi di laut.
16 November 2022
Bertindak sebagai salah satu fasilitator dari Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI), Mifta membagikan pengalamannya selama 12 tahun bekerja sebagai pelaut perempuan Indonesia. Ia merupakan salah satu dari 18.572 pelaut perempuan Indonesia yang saat ini bekerja atau pernah bekerja dalam berbagai pekerjaan, jabatan dan status menurut data Kementerian Perhubungan tahun 2019.
Tumbuh besar di Medan, Sumatera Utara, dia tidak pernah membayangkan dirinya akan bekerja di laut sebagai pelaut. Setelah lulus SMA dan bekerja selama 4 tahun di industri perhotelan, ia memutuskan untuk pindah ke Jakarta pada 2006 untuk mengejar karier di kapal pesiar. “Bepergian keliling dunia selalu menjadi impian masa kecil saya. Ketika saya mengetahui bahwa deskripsi pekerjaan dan tanggung jawab secara umum sama, tetapi gajinya jauh lebih tinggi, saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan saya di Medan dan mengejar pekerjaan impian saya yang baru ini,” cerita dia.Saya melaut pertama kali tahun 2007 dengan kontrak kerja 9 bulan. Saya adalah satu dari empat kru perempuan Indonesia dari 100 ABK Indonesia yang bekerja di kapal ini. Perempuan masih minoritas saat itu."
Mifta Nadya, soorang pelaut perempuan
Saat menyadari dia perlu mendedikasikan waktunya untuk belajar dan kursus secara intensif agar dapat bekerja di kapal pesiar, dia memutuskan untuk menggunakan tabungannya demi menopang kehidupan sehari-harinya. Dalam setahun, dia mampu menyelesaikan semua kursus yang dibutuhkan, memperoleh sertifikasi dan dokumen yang diperlukan dan mendapatkan pekerjaan di bagian tata graha (housekeeping) di kapal pesiar Italia.
“Saya melaut pertama kali tahun 2007 dengan kontrak kerja 9 bulan. Saya adalah satu dari empat kru perempuan Indonesia dari 100 ABK Indonesia yang bekerja di kapal ini. Perempuan masih minoritas saat itu,” kata Mifta.
Perjuangan melawan pelecehan dan diskriminasi
Sejak awal, dia mengetahui bahwa bekerja di laut sama sekali berbeda dengan bekerja di darat. Selain disiplin kerja, lingkungan kerja yang lebih keras dengan kejutan dan penyesuaian budaya, pelaut perempuan rentan terhadap pelecehan di tempat kerja, terutama dari atasan atau rekan kerja laki-laki.Komentar genit, sapaan melecehkan dan sentuhan halus merupakan hal yang umum. Mifta bahkan mengalami percobaan pelecehan dari rekan kerja laki-lakinya yang mencoba menciumnya di lift. “Saya bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada informasi atau sesi pengarahan tentang masalah ini. Karena pelecehan kebanyakan datang dari penyelia, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Jika kami menolak atau mengadu, kami akan dihukum dengan diberi tugas yang lebih berat atau dipersulit,” kenang Mifta seraya menambahkan, akibatnya para pekerja perempuan cenderung diam dan menyimpan perasaannya sendiri.
Setelah bekerja selama 2 tahun dengan jeda 2-3 bulan dalam kontrak kerja, Mifta pindah ke kapal pesiar AS pada 2010, berlayar melintasi Alaska ke Australia, dengan kontrak lebih pendek 6 bulan per perjalanan dan dengan upah yang diperoleh sebesar USD4.000-5.000 per bulan. Berbeda dari pengalaman pertamanya, kondisi kerjanya lebih baik, mengikuti standar ILO. Isu pelecehan dan kerentanan terhadap HIV juga diinformasikan secara terbuka dan didiskusikan di kelas Toleransi Nol.Setelah terlibat dalam pelatihan pelatih ILO mengenai pelecehan, kekerasan dan kerentanan HIV/AIDS, saya secara aktif mempromosikan isu-isu ini melalui organisasi dan lembaga pendidikan saya. Sudah waktunya untuk membela diri dan berbicara."
“Mekanisme pelaporan dan pengaduan disosialisasikan dengan baik. Kami tahu ke mana harus pergi dan prosedur yang harus diikuti. Poster tentang tempat kerja yang aman juga dipasang, menekankan pesan-pesan agar mau angkat bicara. Bahkan salah satu poster mengatakan, 'Jika Melihat Sesuatu, Katakan Sesuatu'. Kami merasa aman dan terlindungi,” tambahnya.
Selain itu, kebijakan non-diskriminasi terhadap pekerja dengan HIV juga diterapkan dengan baik. Bahkan ada mekanisme pengobatan dan rujukan serta akses ke pengobatan ARV. “Akibatnya, para pekerja dengan HIV juga lebih terbuka tentang status mereka karena mereka tahu ada rumah sakit rujukan di setiap pelabuhan yang didarati kapal. Para kru juga belajar tentang mitos dan fakta HIV. Kami saling menghormati.”
Bergerak maju tujuh tahun kemudian di tahun 2017, pada suatu hari kerja biasa, Mifta mengalami pelecehan seksual dari salah seorang penumpang. Ketika dia membersihkan kamar, penumpang itu tiba-tiba menghentikan pekerjaannya dan dengan genit mulai menyerangnya dengan menanggalkan pakaiannya sendiri.
“Saya terkejut. Secara teori, kita tahu apa yang harus dilakukan, namun dalam kejadian nyata, pikiran Anda tiba-tiba kosong. Anda tidak pernah mempersiapkan diri dengan kejadian seperti ini. Setelah saya mendapatkan keberanian, saya melompat ke pintu dan berlari keluar,” kenangnya. Setelah menenangkan diri sejenak, ia segera melaporkan kasus tersebut kepada petugas keamanan dan atasan langsungnya.
Penyelidikan segera dilakukan dan akibatnya, pelaku dikirim ke penjara kapal selama tiga hari sebelum diturunkan. Penumpang itu juga masuk daftar hitam seumur hidup dari kapal pesiar.
“Insiden itu terjadi dua minggu sebelum saya cuti pulang. Saya ditawari sesi konseling tambahan, namun saya pikir saya bisa mengatasinya di rumah,” tutur Mifta. “Tidak pernah saya sadari bahwa kejadian ini menghantui saya selama berbulan-bulan. Saya terus membayangkan bagaimana jika begini atau begitu dan mengalami mimpi buruk tentang ini.” Dia membutuhkan waktu lima bulan untuk mengatasi traumanya.
Saatnya berdiri tegak dan berbicara
Menyadari bahwa kekerasan dan pelecehan di tempat kerja dapat menjadi pengalaman traumatis, dia sekarang secara aktif membagikan pengalamannya ketika mengajar calon pelaut, laki-laki dan perempuan, mendorong mereka untuk berbicara dan berserikat. “Seharusnya saya berlayar lagi pada Maret 2020, namun pandemi menghentikan operasional kapal pesiar. Jadi saya mengubah karier menjadi dosen bahasa Inggris dan Tata Graha untuk calon pelaut masa depan.”Kini di usia 39 tahun, ibu dua putra ini juga aktif dalam meningkatkan kondisi kerja pelaut Indonesia, mengadvokasi hak-hak pelaut atas lingkungan kerja yang aman dan sehat, serta mempromosikan akses yang lebih besar kepada perempuan melalui KPI sebagai Ketua Bidang Kapal Perikanan. Diakuinya, hingga saat ini pelaut hanya melaporkan kasus gaji tidak dibayar atau kematian di laut, tetapi tidak pernah melaporkan kasus terkait diskriminasi atau pelecehan di tempat kerja.
“Setelah terlibat dalam pelatihan pelatih ILO mengenai pelecehan, kekerasan dan kerentanan HIV/AIDS, saya secara aktif mempromosikan isu-isu ini melalui organisasi dan lembaga pendidikan saya. Sudah waktunya untuk membela diri dan berbicara,” tukasnya.
Ia juga aktif mempromosikan akses perempuan yang lebih besar untuk bekerja sebagai pelaut. Stigma negatif terhadap perempuan yang bekerja di laut menyebabkan jumlah pelaut perempuan Indonesia masih sedikit dibandingkan dengan negara pengirim tetangganya, Filipina.Sekarang, saya dengan bangga mengatakan dengan lantang: Saya seorang pelaut perempuan Indonesia dan saya berserikat."
“Industri kapal pesiar menyediakan peluang kerja yang belum dimanfaatkan, terutama bagi perempuan. Industri kapal pesiar saat ini lebih memilih untuk mempekerjakan lebih banyak pelaut perempuan dan saya percaya ini adalah kesempatan bagi perempuan Indonesia untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dengan gaji yang layak,” katanya.
Dia mengakui bahwa di awal kariernya, dia harus menyembunyikan profesi dan minat yang sebenarnya. Namun melalui waktu dan pengalaman, dia telah belajar merangkul profesinya dan mendidik lingkungan sekitarnya tentang pelaut perempuan dan hak mereka untuk bekerja dengan aman di laut.
“Sekarang, saya dengan bangga mengatakan dengan lantang: Saya seorang pelaut perempuan Indonesia dan saya berserikat.”
Related content
Menuju industri maritim Indonesia yang bebas dari diskriminasi dan pelecehan