OJK mendeklarasikan dua desa binaan ILO sebagai Desa EKI untuk transformasi keuangan dan teknologi
Program literasi dan digitalisasi keuangan ILO telah berhasil menjadikan desa binaannya di Kabupaten Sumba Timur dan Aceh Besar terpilih sebagai Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI).
10 Juli 2024
Dua desa yang didukung ILO—Desa Kaliuda di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Desa Umong Seuribee di Kabupaten Aceh Besar, Aceh—telah dipilih dan dinyatakan sebagai desa percontohan untuk implementasi Program Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Peluncuran untuk Desa Kaliuda dilaksanakan pada Mei 2024, sedangkan Desa Umong Seuribee pada April 2024.
Dengan ditetapkannya Desa Kaliuda dan Umong Seuribee sebagai desa EKI, Desa Kaliuda dan Umong Seuribee akan mendapatkan berbagai kegiatan keuangan seperti program edukasi dan literasi keuangan, akses terhadap modal usaha dan investasi. Program EKI diinisiasi oleh OJK bekerja sama dengan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.
Dalam pencanangan kedua desa tersebut, perwakilan OJK NTT dan Aceh menekankan peran strategis program EKI dalam meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat serta menanggulangi kemiskinan di perdesaan. Desa sebagai salah satu wilayah pembangunan yang strategis berperan penting dalam meningkatkan penggunaan produk keuangan inklusif di perdesaan sebagai bagian dari pembangunan nasional yang berkelanjutan.
mempromosikan UKM telah menjadi salah satu prioritas ILO untuk membantu mereka dalam meningkatkan daya saing dan produktivitas serta mempercepat pemulihan bisnis mereka melalui literasi keuangan dan digitalisasi
Simrin C. Singh, Direktur ILO untuk Indonesia and Timor-Leste
ILO telah mendukung kedua desa ini melalui Proyek Mempromosikan Usaha Mikro dan Kecil melalui Akses Wirausaha ke Layanan Keuangan Tahap 2 (Promise II Impact). Didanai oleh Sekretariat Negara Swiss untuk Ekonomi (SECO), program Promise II Impact ILO diimplementasikan melalui kerja sama dengan OJK, Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR).
Djauhari Sitorus, Manajer Program Promise II Impact ILO, mengatakan bahwa program Promise II Impact telah dilaksanakan di tiga provinsi dengan wilayah sasaran yang berbeda: Sapi perah di Jawa Barat, rumput laut di NTT dan nilam di Aceh. "Program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan memperkuat ekosistem rantai nilai melalui pelantar aplikasi digital yang menciptakan informasi terstruktur untuk pengembangan usaha masyarakat. Aplikasi ini juga membuat usaha masyarakat lebih tertata dan terdokumentasi dengan baik sehingga dapat meningkatkan akses pembiayaan perbankan.
Transformasi digital dan keuangan
Provinsi NTT adalah penghasil rumput laut berkualitas tinggi terbesar di Indonesia dan rumput laut merupakan komoditas unggulan di Sumba Timur. Oleh karena itu, di desa Kaliuda, program Promise II Impact ILO telah memberikan program pelatihan pendidikan keuangan dan kewirausahaan bagi 200 petani rumput laut.
Berdasarkan kinerja pengembangan bisnis mereka, 80 petani telah lulus seleksi awal untuk menerima bantuan bisnis selama delapan bulan. Dari 80 petani tersebut, 20 petani terpilih untuk menerima bantuan kredit mikro setelah mereka berhasil melewati Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK dan dinyatakan memiliki riwayat kredit yang baik.
Selain itu, sebuah aplikasi digital juga telah dikembangkan untuk para petani rumput laut bekerja sama dengan Agree, pelantar agrobisnis milik PT Telkom Indonesia. Aplikasi ini bertujuan untuk membantu dalam memantau dan mencatat setiap tahapan budidaya rumput laut, seperti pemeliharaan, pengolahan dan distribusi produk. Aplikasi ini juga bertujuan untuk membuka peluang untuk menghubungkan antara petani, petani dengan regulator dan petani dengan pembeli.
Program pelatihan serupa juga telah dilakukan untuk 130 petani nilam di Kabupaten Aceh Besar dan Aceh Tamiang. Selain program pelatihan pendidikan keuangan dan kewirausahaan, program Promise II Impact ILO juga berencana untuk memberikan program pelatihan pemasaran agar minyak nilam Aceh dapat lebih dikenal dan masuk ke pasar internasional.
Aceh dikenal sebagai sumber minyak nilam dengan kualitas terbaik di dunia. Aceh juga merupakan salah satu daerah yang paling cocok untuk mengembangkan budidaya nilam untuk diekspor ke luar negeri. Karenanya, program ini bekerja sama dengan Pusat Penelitian Atsiri Universitas Syiah Kuala (PPA-USK) yang telah mengembangkan ekosistem rantai nilai nilam untuk memastikan kualitas dan kuantitas minyak atsiri nilam yang dihasilkan oleh petani atau petani kecil. Sebuah pelantar digital yang disesuaikan dalam bentuk Enterprise Resource Planning (ERP) akan dikembangkan dan digunakan dalam ekosistem tersebut.
"ERP untuk industri nilam masih dalam tahap pengembangan. ILO bekerja sama dengan PPA-USK untuk memetakan penerima manfaat yang relevan dan mengidentifikasi rantai pasokan industri nilam di Aceh secara rinci. Diharapkan aplikasi ini akan selesai tahun ini untuk dapat digunakan oleh para petani dan penyuling nilam," tambah Djauhari.
Simrin C. Singh, Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste sangat mengapresiasi pengakuan yang diberikan terhadap kinerja ILO melalui deklarasi dua desa yang didukung ILO sebagai desa EKI. "UKM sangat penting untuk mencapai pekerjaan yang layak dan produktif karena mereka menyumbang dua pertiga dari semua pekerjaan dan menciptakan sebagian besar pekerjaan baru. Untuk itu, mempromosikan UKM telah menjadi salah satu prioritas ILO untuk membantu mereka dalam meningkatkan daya saing dan produktivitas serta mempercepat pemulihan bisnis mereka melalui literasi keuangan dan digitalisasi," ungkap dia.
Related content
Aplikasi digital membantu optimalkan produksi panen petani rumput laut Sumba Timur
Keterampilan dan literasi keuangan meningkatkan mata pencarian petani rumput laut di Sumba Timur
Siaran pers
OJK, Bank NTT dan ILO luncurkan program literasi keuangan di perdesaan melalui program Desa EKI dan Kredit Merdeka di Sumba Timur