Dampak kami, suara mereka
Menanam kopi, membangun masa depan dengan keselamatan yang lebih terjamin di Lampung, Indonesia
Dengan dukungan dari ILO dan Nestlé Indonesia, dua petani kopi di Lampung, Indonesia, sedang mempelajari bagaimana praktik kerja yang lebih aman dan pemahaman yang lebih baik mengenai hak-hak pekerja dapat membantu mereka membangun masa depan yang lebih baik bagi perkebunan dan keluarga mereka.
2 Oktober 2026
TANGGAMUS, Lampung, Indonesia (Berita ILO) - Raungan mesin sepeda motor yang telah dimodif memecah kesunyian saat kendaraan tersebut menanjak di lereng curam dan berlumpur di Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Lampung, menebarkan aroma tanah basah dan dedaunan kopi yang lembap. Ini adalah suara pagi yang akrab di telinga masyarakat penghasil kopi tersebut—suara kendaraan para petani yang sedang berangkat bekerja.
Diantaranya adalah Agus Setiawan, 40 tahun dan Ahmad Khairudin, 30 tahun, dua petani kopi yang telah mengolah lahan tersebut.
Pada pukul 07.30 pagi, Agus sudah berada di antara pohon-pohon kopi, merawat tanaman dan membersihkan gulma di lahan kopinya yang seluas tiga hektar. Ia bekerja hingga sekitar pukul 11.30, beristirahat sejenak dan kembali bekerja lagi mulai pukul 13.30 hingga 16.00. Sementara itu, Ahmad memulai harinya dengan rutinitas, yakni merawat kebun kopinya yang seluas satu hektar. Sore hari ia gunakan untuk pekerjaan lain dan membantu orang tuanya.
Sebelum mengikuti pelatihan, saya tidak paham betapa pentingnya K3... Kini, saya merasa lebih aman dan terlindungi saat bekerja di kebun, serta merasa lebih produktif.
Agus Setiawan, petani kopi
Terlepas dari perbedaan dalam besarnya lahan dan rutinitas harian, Agus dan Ahmad memiliki banyak kesamaan. Keduanya adalah petani kopi generasi ketiga yang tumbuh dewasa dengan mempelajari budidaya kopi dari keluarga mereka. Keduanya pernah menjajal bidang pekerjaan lain sebelum akhirnya kembali bertani dan menyadari bahwa kopi adalah jalan hidup yang mereka pilih untuk membangun masa depan.
Jalan hidup mereka juga dipertemukan melalui Kelompok Tani Sumber Rejeki. Agus saat ini ditunjuk sebagai ketua kelompok yang beranggotakan 18 orang, yang salah satunya adalah Ahmad.
Di perkebunan, keranjang rotan anyam diikatkan di punggung mereka saat mereka berjalan di antara barisan pohon kopi. Topi melindungi mereka dari terik matahari, sementara sepatu bot dan sarung tangan melindungi mereka saat melintasi lereng berlumpur serta menggunakan peralatan benda tajam, serangga dan berbagai bahaya lainnya.
Beberapa waktu yang lalu, kedua petani tersebut masih belum terlalu menghiraukan alat pelindung diri. Khususnya sepatu bot dan sarung tangan, karena dianggap tidak diperlukan untuk pekerjaan yang telah mereka lakukan hampir sepanjang hidup mereka.
Hal ini berubah setelah mereka mengikuti program pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada awal tahun ini, yang didukung oleh ILO dan Nestlé Indonesia melalui proyek Vision Zero Fund (VZF). Pelatihan ini diselenggarakan melalui Sekolah Lapangan K3 bagi Petani dan dibawakan oleh 10 pelatih petani lokal yang telah menyelesaikan program Peningkatan Kerja dalam Pembangunan Lingkungan (WIND) ILO.
WIND adalah pendekatan pelatihan praktis dan partisipatif yang dirancang untuk membantu petani dan pekerja di pedesaan meningkatkan keselamatan, kesehatan dan kondisi kerja melalui solusi sederhana dan berbiaya rendah dengan menggunakan sumber daya lokal yang tersedia.
Sebagai bagian dari pelatihan, para petani menggunakan daftar periksa K3 ILO untuk menilai kondisi di lahan pertanian mereka sendiri. Daftar periksa tersebut mencakup bidang-bidang utama seperti penanganan bahan yang aman, tata graha, pengendalian bahaya dan risiko, kesehatan dan kesejahteraan serta organisasi kerja. Alih-alih memperlakukan keselamatan sebagai sebuah konsep abstrak, pendekatan ini justru mendorong para petani untuk melihat secara dekat lingkungan kerja mereka sehari-hari dan mengidentifikasi perbaikan yang dapat mereka lakukan sendiri.
Saya pernah disengat tawon dan harus berhenti bekerja lebih cepat. Sekarang saya punya lebih banyak pengetahuan dan tahu cara bekerja dengan lebih aman dan nyaman.
Ahmad Khairudin, petani kopi
Bagi Agus dan Ahmad, pelatihan tersebut telah mengubah cara pandang mereka terhadap risiko yang selama ini mereka anggap sebagai bagian dari kegiatan bertani. Mereka menyadari bahwa langkah sederhana—seperti mengenakan perlengkapan pelindung yang tepat—dapat mengurangi paparan mereka terhadap berbagai bahaya, mulai dari lumpur licin, parang dan cangkul yang tajam, hingga suhu ekstrem, bahan kimia pertanian, serta gigitan ular berbisa dan serangga.
“Sebelum mengikuti pelatihan, saya tidak paham betapa pentingnya K3,” ujar Agus. “Bertemu ular atau terkena sabetan parang maupun cangkul di kaki adalah hal yang bisa dengan mudah terjadi karena saya bekerja tanpa sepatu bot. Kini, saya merasa lebih aman dan terlindungi saat bekerja di kebun, serta merasa lebih produktif.”
Ahmad telah merasakan sendiri akibat dari bahaya pertanian yang umum terjadi. “Saya pernah disengat tawon dan harus berhenti bekerja lebih cepat,” kenangnya. “Sekarang saya punya lebih banyak pengetahuan dan tahu cara bekerja dengan lebih aman dan nyaman.”
Setelah mengikuti pelatihan K3, Agus dan Ahmad diajak untuk melanjutkan pembelajaran mereka dengan mendalami aspek penting lainnya terkait kondisi kerja di perkebunan kopi: hak-hak dasar pekerja. Pelatihan yang diselenggarakan pada bulan Juni ini telah memperluas wawasan mereka, tidak hanya sekadar aspek keselamatan kerja, namun juga mencakup hak dan tanggung jawab, baik bagi petani maupun pekerja.
Mereka belajar tentang hak dan tanggung jawab di tempat kerja, berbagai jenis pengaturan kerja, serta pentingnya perjanjian kerja yang jelas antara pemilik perkebunan dan pekerja. Mereka juga diperkenalkan pada contoh format kontrak kerja tertulis yang praktis dan relevan dengan perkebunan kopi, tenaga kerja tambahan seringkali dibutuhkan saat musim panen, namun pengaturan kerjanya secara tradisional lebih banyak didasarkan pada kesepakatan lisan.
Bagi kedua petani tersebut, perjanjian kerja tertulis merupakan konsep baru. "Kami mengira perjanjian tertulis hanya untuk perusahaan besar," ujar Ahmad. Agus sependapat: "Perjanjian tertulis memberikan manfaat baik bagi petani selaku pemberi kerja maupun pemetik kopi sebagai pekerja, terutama pada musim panen."
Program-program pelatihan tersebut telah membekali Agus dan Ahmad dengan pengetahuan praktis yang dapat mereka terapkan dalam menggarap lahan pertanian mereka dan membangun masa depan yang lebih baik bagi keluarga mereka.
Bagi Agus, seorang ayah dengan tiga anak, masa depan tersebut berarti menjadikan lahan pertanian seluas tiga hektare miliknya lebih produktif. Ia berharap harga kopi tetap stabil dan menargetkan produksi lebih dari dua ton kopi per hektare, sehingga dapat menjamin penghidupan yang lebih pasti bagi keluarganya.
Ahmad, seorang ayah dengan satu anak perempuan, juga berpandangan jauh ke depan. Dalam dua tahun ke depan, ia berharap dapat memperluas lahan pertaniannya yang seluas satu hektare dan menggarapnya dengan lebih produktif, demi menciptakan peluang yang lebih baik bagi keluarganya.
Setiap pagi, mereka kembali ke kebun kopi dengan harapan yang sama akan panen yang melimpah dan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga mereka. Namun kini, mereka juga membawa kesadaran yang lebih mendalam bahwa perkebunan yang produktif juga harus menjadi tempat kerja yang aman dan adil—tidak hanya bagi diri mereka sendiri, tetapi juga bagi para pekerja yang turut membantu mereka selama musim panen.
Related content
Vision Zero Fund
Meningkatkan kondisi K3 dan sosial bagi perempuan dan laki-laki di komunitas petani kopi di Indonesia
Relevant projects
Vision Zero Fund
Meningkatkan kondisi K3 dan sosial bagi perempuan dan laki-laki di komunitas petani kopi di Indonesia