Literasi keuangan
Memberdayakan wirausahawan Sumba Timur di Indonesia dengan literasi keuangan
ILO dan Bank NTT menghimbau para wirausahawan Sumba Timur, termasuk kaum muda, untuk mengadopsi kebiasaan perbankan yang lebih cerdas demi kesuksesan finansial jangka panjang.
25 Agustus 2025
WAINGAPU, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (Kisah ILO) - Bernadine Isabella Leidabula, seorang petugas layanan pelanggan di Bank Nusa Tenggara Timur (NTT) Cabang Lewa di Sumba Timur, telah memperoleh kemampuan untuk menghitung harga jual, mengelola laba rugi bisnis, dan mengelola catatan keuangannya dengan lebih baik. Dengan pengetahuan keuangan barunya, ia juga mampu mendukung usaha katering kecil milik ibunya.
Bernadine adalah salah satu dari 24 peserta yang mengikuti pelatihan pendidikan keuangan tiga hari yang diselenggarakan bersama oleh proyek ILO, Mempromosikan Usaha Mikro dan Kecil melalui Akses Kewirausahaan terhadap Layanan Keuangan (Promise II Impact), yang didanai oleh Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO), bekerja sama dengan Bank NTT. Pelatihan yang diselenggarakan di Waingapu, Sumba Timur, dari 14 hingga 16 Juli 2025 ini menandai sesi keempat sejak 2023, dengan total peserta 298.
Di Sumba Timur, banyak pemilik usaha kecil dan pekerja mengelola keuangan mereka berdasarkan insting dan pengalaman, sering kali tanpa akses ke pendidikan keuangan formal. Literasi keuangan yang rendah dapat menyebabkan keputusan yang kurang tepat, yang berdampak pada berkurangnya tabungan, penganggaran yang buruk atau ketergantungan yang berlebihan pada pinjaman informal. Semua itu adalah faktor-faktor yang meningkatkan risiko kesulitan keuangan, terutama saat sakit, keadaan darurat atau saat pengeluaran tak terduga.
Pelatihan seperti ini dibutuhkan di Sumba Timur, terutama bagi kaum muda, karena layanan keuangan tidak mudah diakses di tempat-tempat seperti Waingapu. Saya berharap lebih banyak orang mendapatkan kesempatan untuk bergabung di masa mendatang.
Bernadine Isabella Leidabula, seorang petugas layanan pelanggan di Bank Nusa Tenggara Timur (NTT) Cabang Lewa di Sumba Timur
Oleh karena itu, program pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman keuangan praktis tentang penganggaran, tabungan, laba rugi, tujuan keuangan dan produk keuangan yang mudah diakses. Pelatihan yang awalnya ditujukan bagi nasabah dan pejabat Bank NTT ini juga menarik beragam peserta, termasuk pekerja muda dan wirausahawan berpengalaman.
"Saya telah bekerja di bank selama lebih dari satu dekade dan baru-baru ini juga menerima pelatihan keuangan, tetapi saya merasa program yang dipimpin ILO ini menyegarkan sekaligus memberikan wawasan," ujar Bernadine. "Pelatihan seperti ini dibutuhkan di Sumba Timur, terutama bagi kaum muda, karena layanan keuangan tidak mudah diakses di tempat-tempat seperti Waingapu. Saya berharap lebih banyak orang mendapatkan kesempatan untuk bergabung di masa mendatang."
Senada dengan itu, Soleman Dapa Doda, seorang pemilik kios swalayan berusia 56 tahun, yang biasanya menyimpan uang tunai di rumah, mengakui bahwa pelatihan tersebut mengubah pola pikirnya tentang perbankan. Sebelumnya, ia jarang menggunakan layanan perbankan dan lebih memilih menginvestasikan uangnya untuk membeli tanah. "ATM di daerah ini sangat sedikit, dan banyak yang rusak. Jadi, rasanya lebih aman begini. Saya biasanya menggunakan penghasilan saya untuk membeli tanah daripada menabung di bank." ujarnya.
Soleman, asal dari Sumba Barat Daya, bermigrasi ke Sumba Timur lebih dari 30 tahun yang lalu dan membangun kehidupan serta bisnis bersama istrinya di Waingapu. Bersama-sama, mereka berhasil menyekolahkan keempat anak mereka ke universitas. Ini merupakan sebuah pencapaian yang langka di banyak daerah pedesaan di Indonesia.
Kendati investasi tanah memiliki keuntungan tersendiri, Soleman menyadari melalui pelatihannya bahwa menyimpan sejumlah dana di bank dapat membantunya mempersiapkan diri menghadapi keadaan darurat, mendapatkan bunga dan memberikan rasa aman yang lebih besar bagi keluarganya.
"Ini pelatihan keuangan pertama saya, dan saya telah mempelajari manfaat menabung di bank. Saya akan menerapkannya demi keamanan keluarga dan mengajari anak-anak saya menabung juga," ujarnya. "Saya juga belajar cara menghitung biaya produksi dan menetapkan harga dengan benar. Semua itu merupakan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya."
Pelatihan ini juga didukung oleh Wakil Bupati Sumba Timur, Yonathan Hani, yang mendorong para peserta untuk mengubah pola pikir mereka demi perubahan jangka panjang. “Kemiskinan bukan hanya tentang berpenghasilan rendah. Kemiskinan juga tentang seberapa baik masyarakat mengelola sumber daya mereka,” jelasnya. “Pendidikan keuangan seperti ini penting untuk memutus siklus kemiskinan. Pendidikan ini mendorong kebiasaan yang lebih baik dan memberdayakan masyarakat untuk berpikir ke depan dan merencanakan masa depan yang lebih aman.”
Pendidikan keuangan seperti ini penting untuk memutus siklus kemiskinan. Pendidikan ini mendorong kebiasaan yang lebih baik dan memberdayakan masyarakat untuk berpikir ke depan dan merencanakan masa depan yang lebih aman.
Yonathan Hani, Wakil Bupati Sumba Timur
Menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2022 yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Provinsi NTT masih tertinggal dibandingkan provinsi lain dalam hal literasi dan akses keuangan. Kesenjangan ini tidak hanya memengaruhi individu dan rumah tangga, tetapi juga membatasi pertumbuhan dan ketahanan UMKM, yang merupakan penggerak utama perekonomian daerah.
“Pelatihan ini memberikan pemahaman yang kuat kepada peserta usaha mikro, kecil dan menengah atau UMKM mengenai pilihan pembiayaan yang tersedia, termasuk Kredit Merdeka, suatu fasilitas kredit mikro tanpa agunan yang dirancang untuk mendukung usaha kecil, sehingga mereka lebih kompetitif dan mampu menciptakan lapangan kerja,” kata Yusuf Hanggar Mawolu, Kepala Cabang Bank NTT Waingapu. “Hal ini juga mencerminkan komitmen berkelanjutan kami untuk memberdayakan wirausahawan lokal dan memperkuat perekonomian rakyat di Sumba Timur dan seluruh NTT.”
Dengan keberhasilan di Sumba Timur, proyek Promise II Impact ILO berencana memperluas dan meningkatkan program pelatihan agar dapat menjangkau lebih banyak pelaku UMKM baik di Sumba Timur maupun di wilayah intervensi proyek lainnya.
Related content
Digitalisasi dan inklusi keuangan
Sektor rumput laut Sumba Timur di Indonesia berkembang pesat berkat peningkatan akses keuangan dan digitalisasi