Pertanian berkelanjutan
Lintas benua, peternak sapi perah muda dari Indonesia dan Swiss menemukan kesamaan
Peternak Swiss dan Indonesia bertukar pelajaran tentang keberlanjutan, ketangguhan dan masa depan peternakan sapi perah.
18 Mei 2026
Sebelum matahari terbit di Neuchâtel, Swiss, Amélie Cornu memulai harinya di kandang sapi perah. Di usianya yang ke-24 tahun, ia memeriksa kondisi sapi, menyiapkan pakan, dan menjalani rutinitas yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun.
Pekerjaan itu menuntut fisik dan ketekunan, tetapi bagi Amélie, bertani tidak pernah sekadar pekerjaan.
“Berternak selalu menjadi pekerjaan yang saya minati,” ujarnya.
Namun, perjalanan Amélie menuju dunia pertanian tidaklah mudah. Sebelum menjadi peternak sapi perah, ia terlebih dahulu menempuh pelatihan sebagai penata rambut. Pada akhirnya, ia kembali ke dunia yang paling dekat dengannya: pertanian.
Kini, ia bekerja di sebuah peternakan sapi perah dengan 50 ekor sapi di wilayah barat Swiss, menjadi bagian dari generasi muda yang berupaya mempertahankan profesi yang semakin menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya, perubahan regulasi, dan tekanan sosial.
Ribuan kilometer jauhnya di Indonesia, peternak sapi perah juga memulai pagi mereka dengan cara yang hampir sama: memberi makan ternak sebelum fajar, menyiapkan susu untuk dikumpulkan, dan mengelola peternakan sebelum cuaca siang menjadi terlalu panas.
Meski lanskap dan sistem produksinya sangat berbeda, peternak muda di kedua negara menghadapi banyak pertanyaan yang sama mengenai produktivitas, keberlanjutan, dan masa depan pertanian.
Kesamaan pengalaman inilah yang menjadi fokus sesi pertukaran pengetahuan yang diselenggarakan oleh Proyek Mempromosikan Usaha UKM melalui Peningkatan Akses Wirausaha terhadap Jasa Keuangan Tahap 2 (Promise II Impact) dari ILO. Kegiatan ini mempertemukan anggota Koperasi Sapi Perah Indonesia dengan dua peternak muda asal Swiss, Amélie Cornu dan Dylan Baume.
Sesi tersebut bertujuan memperkuat pembelajaran antarpeternak melalui berbagi pengalaman praktis mengenai produksi susu, kesejahteraan hewan, higienitas susu, pengelolaan pakan, dan teknologi digital di peternakan. Namun, lebih dari sekadar diskusi teknis, pertukaran ini berkembang menjadi percakapan tentang ketangguhan, adaptasi, dan tantangan yang dihadapi peternak muda di berbagai negara.
Sistem yang berbeda, tantangan yang serupa
Dibesarkan dalam keluarga petani di Swiss, Dylan menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di sekitar sapi perah sebelum keluarganya kemudian beralih ke peternakan sapi potong. Ia menyelesaikan pelatihan peternakan sapi perah selama masa magangnya dan kini sesekali bekerja di peternakan sapi perah sambil tetap membantu di peternakan keluarganya.
Seperti banyak peternak muda di Swiss, Dylan melihat semakin sulitnya generasi muda untuk bertahan di sektor pertanian.
“Di Swiss, semakin sulit bagi anak muda untuk membangun kehidupan di bidang pertanian,” ujarnya. “Jika Anda tidak mewarisi peternakan keluarga, itu sangat sulit.”
Di berbagai wilayah Eropa, sektor pertanian menghadapi tantangan regenerasi. Banyak anak muda meninggalkan daerah pedesaan, sementara meningkatnya biaya operasional dan beratnya kondisi kerja membuat semakin sedikit orang tertarik memasuki profesi ini. Swiss pun tidak terkecuali.
Jam kerja yang panjang, regulasi yang ketat, dan pendapatan yang tidak stabil membuat sektor pertanian semakin menantang, bahkan di salah satu sistem pertanian paling maju di dunia.
Bagi peserta dari Indonesia, sesi ini memberikan wawasan mengenai sektor peternakan sapi perah Swiss yang sangat produktif, di mana hasil produksi susu dapat mencapai tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia.
“Di Swiss, kami mengandalkan dukungan pemerintah yang konsisten dan praktik manajemen peternakan yang kuat untuk menjaga standar dan produktivitas yang tinggi,” jelas Amélie.
“Alat digital membantu kami mengelola peternakan dengan lebih efektif, tetapi kombinasi antara dukungan, disiplin, dan praktik yang baik inilah yang memastikan keberlanjutan jangka panjang.”
Di peternakan tempat Amélie bekerja, sistem digital digunakan untuk memantau produksi, kesehatan hewan, pola pemberian pakan, dan kualitas susu. Sensor dan sistem otomatis membantu peternak mendeteksi masalah lebih cepat dan meningkatkan efisiensi.
Bagi Dylan, salah satu perbedaan terbesar yang ia lihat di Indonesia adalah terbatasnya akses terhadap teknologi dan sumber pakan.
“Fakta bahwa peternakan tidak selalu memiliki lahan untuk memproduksi pakan ternak sendiri sangat mengejutkan bagi saya,” katanya.
Di Swiss, sapi umumnya digembalakan di padang rumput atau diberi hijauan yang diproduksi langsung di peternakan. Sebaliknya, banyak peternak sapi perah di Indonesia masih bergantung pada pakan yang dibeli dan sistem manual, yang meningkatkan kebutuhan tenaga kerja dan biaya produksi.
Belajar melampaui teknologi
Kesejahteraan hewan juga menjadi topik penting dalam pertukaran tersebut. Di Swiss, regulasi yang ketat mengatur berbagai aspek, mulai dari kondisi kandang dan akses air hingga standar higienitas dan layanan kesehatan hewan.
Bagi Amélie dan Dylan, meningkatkan kesejahteraan hewan bukan hanya tanggung jawab etis, tetapi juga berkaitan langsung dengan produktivitas.
“Meningkatkan kesejahteraan hewan penting bukan hanya untuk hewannya sendiri, tetapi juga untuk meningkatkan produksi,” jelas Dylan.
Amélie menambahkan bahwa peningkatan akses terhadap hijauan berkualitas, air bersih, dan kesempatan penggembalaan dapat memperkuat produksi susu sekaligus meningkatkan keberlanjutan peternakan.
Diskusi juga menyinggung peran perempuan dalam sektor pertanian. Bagi Amélie, menjadi peternak muda perempuan di sektor yang secara tradisional didominasi laki-laki masih menjadi tantangan tersendiri.
“Peran perempuan di sektor pertanian masih menjadi tantangan,” ungkapnya. “Pertanian masih sering dipandang sebagai profesi laki-laki.”
Pengalaman tersebut juga dirasakan oleh beberapa peserta dari Indonesia, khususnya perempuan yang terlibat dalam koperasi sapi perah dan pengelolaan peternakan keluarga.
Meski terdapat banyak perbedaan antara kedua negara, kedua peternak Swiss tersebut terkesan dengan keterbukaan dan semangat para peternak Indonesia yang mereka temui.
“Mereka sangat tertarik untuk bertukar ide dan belajar tentang cara bertani yang berbeda,” ujar Dylan.
Seiring berlangsungnya percakapan, pertukaran pengetahuan ini perlahan menjadi bukan lagi tentang membandingkan negara, melainkan tentang mengenali pengalaman yang sama.
Para peternak Indonesia memperoleh wawasan mengenai sistem yang mendukung tingginya produktivitas di Swiss, sementara para peternak Swiss mendapatkan apresiasi yang lebih dalam terhadap ketangguhan peternak kecil yang bekerja dengan sumber daya yang lebih terbatas.
Membangun komunitas peternak yang lebih kuat
Sesi ini juga menegaskan pentingnya peran koperasi dalam mendukung peternak sapi perah skala kecil.
Amélie mendorong kolaborasi yang lebih kuat di antara peternak Indonesia untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya.
“Saya pikir para peternak perlu lebih banyak berkolaborasi dan saling mendukung,” katanya.
Melalui inisiatif seperti proyek Promise II Impact, ILO terus mendukung pengembangan rantai nilai yang inklusif dan berkelanjutan dengan menghubungkan peternak, koperasi, dan pelaku industri lintas negara.
Bagi para peternak muda yang terlibat, pertukaran ini menunjukkan bahwa meskipun sistem pertanian berbeda, banyak aspirasi mereka tetap sama: meningkatkan penghidupan, merawat hewan ternak, dan membangun masa depan yang berkelanjutan bagi generasi berikutnya.
Dan mungkin, itulah pelajaran paling penting dari pertukaran ini.
Meski Swiss memiliki teknologi yang lebih maju, sistem otomatis, dan hasil produksi susu yang lebih tinggi, percakapan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pertanian pada akhirnya dibangun di atas hal yang jauh lebih universal: komitmen, kemampuan beradaptasi, dan kebersamaan.