Keterampilan dan literasi keuangan meningkatkan mata pencarian petani rumput laut di Sumba Timur
ILO mendukung petani rumput laut di Sumba Timur dengan pemahaman yang lebih baik tentang keuangan dan bisnis untuk meningkatkan ekonomi lokal dan tingkat kehidupan masyarakat.
22 Juli 2024
Hari masih pagi ketika Tensiana, 28 tahun, memulai rutinitas hariannya untuk mengurus budidaya rumput lautnya. Budidaya rumput laut telah menjadi bagian dari kehidupannya dan sebagian besar masyarakat di Desa Kaliuda, Sumba Timur, Indonesia yang juga dikenal sebagai Desa Budidaya Rumput Laut.
“Saya memulai rutinitas harian di pagi hari. Saya pergi bertani sekitar jam 4 atau 5 pagi dan bekerja sampai jam 7 pagi. Ketika matahari terbit, saya kembali ke rumah untuk mengurus suami dan ketiga anak saya dan melakukan pekerjaan rumah. Di sore hari saya akan pergi ke ladang selama dua atau tiga jam dari jam 3 sore atau 4 sore hingga jam 6 sore,” katanya sambil tersenyum.
Budidaya rumput laut sudah menjadi minatnya sejak kecil karena kerap membantu orang tua. Tak heran, saat ia melanjutkan pendidikan ke sekolah kejuruan, ia secara khusus memilih jurusan Agribisnis. Sejak lulus 14 tahun yang lalu pada 2010, ia memutuskan untuk mengikuti jejak orang tuanya—mencari nafkah sebagai petani rumput laut.
Saya berterima kasih dengan adanya program pelatihan, pendampingan usaha dan sekarang dengan adanya kredit mikro ini yang akan membantu saya dalam mengembangkan usaha budidaya rumput laut.
Tensiana, petani rumput laut
Kisah hidup yang serupa juga dikisahkan oleh Efran Pradana, 39 tahun. Ketika lulus dari sekolah menengah atas, ia memutuskan untuk mengikuti jejak orang tuanya menjadi petani rumput laut. Sama seperti Tensiana, Efran juga sangat tertarik dengan budidaya rumput laut, tidak hanya untuk meneruskan warisan orang tuanya, tetapi juga untuk terus memperbaiki cara bertani.
Ketika mereka mengetahui adanya kesempatan untuk berpartisipasi dalam program pelatihan pendidikan keuangan dan kewirausahaan ILO, tanpa ragu-ragu, mereka mengambil kesempatan tersebut. Program-program pelatihan ini diselenggarakan oleh ILO melalui Proyek Mempromosikan Usaha Mikro dan Kecil melalui Akses Wirausaha ke Layanan Keuangan Tahap 2 (Promise II Impact).
Djauhari Sitorus, Manajer Program Promise II Impact ILO, mengatakan bahwa Promise II Impact bertujuan untuk memperkuat rantai nilai rumput laut melalui pelatihan literasi keuangan dan penggunaan pelantar digital yang diharapkan dapat memperkuat akses dan literasi keuangan masyarakat. “Desa Kaliuda merupakan salah satu desa yang menjadi sasaran kami dan kami berharap dapat bekerja sama dengan para mitra dan pihak berwenang untuk mendukung literasi keuangan di tingkat desa.”
Bersama dengan 200 petani rumput laut, mereka mengikuti pelatihan dan berdasarkan kinerja pengembangan bisnis mereka, 80 petani terpilih untuk menerima pendampingan bisnis pribadi selama delapan bulan, termasuk Tensiana dan Efran.
“Saya bangga bisa terpilih untuk mendapatkan pendampingan bisnis secara personal di mana saya benar-benar belajar pentingnya pembukuan dan manajemen keuangan. Saya belajar mencatat pemasukan dan pengeluaran, serta memisahkan antara keuangan usaha dan rumah tangga,” ujar Efran.
Sementara bagi Tensiana, ia tidak hanya mendapatkan keterampilan mengelola dan mencatat keuangan, tetapi juga mengembangkan keterampilan kewirausahaan. “Ketika mengatur pengeluaran, saya ternyata memiliki pengeluaran yang tidak perlu yang tidak saya sadari sebelumnya. Karenanya, saya ingin sekali memulai usaha sendiri dengan mengembangkan produk bernilai tambah dari rumput laut seperti keripik rumput laut agar saya dan keluarga bisa memiliki masa depan dan kehidupan yang lebih baik.”
Saya bangga bisa terpilih untuk mendapatkan pendampingan bisnis secara personal di mana saya benar-benar belajar pentingnya pembukuan dan manajemen keuangan.
Efran Pradana, petani rumput laut
Meningkatkan produksi pertanian dengan kredit mikro
Kesungguhan dalam menerapkan apa yang mereka pelajari dari pelatihan dan pendampingan usaha membuat mereka lolos dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dinyatakan memiliki riwayat kredit yang baik. Alhasil, bersama dengan 20 petani terpilih lainnya, Tensiana dan Efran mendapatkan kredit mikro sebesar Rp 5 juta dari Bank Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) melalui program Kredit Merdeka pada bulan Mei lalu dengan bunga 0 persen dan tanpa agunan.
Untuk membantu para petani dan mempermudah proses pembayaran cicilan kredit, Bank NTT telah bekerja sama dengan PT Algae Sumba Timur Lestari (PT ASTIL), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Sumba Timur, di mana para petani penerima kredit dapat membayar kredit mereka dengan mengirimkan hasil panen rumput laut kepada PT ASTIL yang akan menghitung nilai berdasarkan harga pasar dan membayar cicilannya.
“Saya berterima kasih dengan adanya program pelatihan, pendampingan usaha dan sekarang dengan adanya kredit mikro ini yang akan membantu saya dalam mengembangkan usaha budidaya rumput laut. Saya akan membayar cicilan tepat waktu,” kata Tensiana. Hingga saat ini, produksi budidaya rumput lautnya telah mencapai 100 kilogram rumput laut jenis eucheuma cottonii dan 80 kilogram rumput laut jenis kappaphycus striatum (Sakol) dengan harga jual Rp 15.000 dan Rp 9.000 per kilogram.
Desa Kaliuda merupakan salah satu desa yang menjadi sasaran kami dan kami berharap dapat bekerja sama dengan para mitra dan pihak berwenang untuk mendukung literasi keuangan di tingkat desa.
Djauhari Sitorus, Manajer Program Promise II Impact ILO
Antusiasme yang sama juga ditunjukkan oleh Efran yang akan menggunakan kredit yang diterimanya untuk memperbaharui peralatan budidaya dan membeli bibit rumput laut. “Produksi rumput laut saya sudah mencapai 150 kilogram eucheuma cottonii dan 70 kilogram rumput laut jenis sakol. Saya berencana untuk memperluas ladang pertanian saya dan berharap dengan peralatan dan bibit baru, produksi pertanian saya akan meningkat,” harapnya.
Didanai oleh Sekretariat Negara Swiss untuk Ekonomi (SECO), program Promise II Impact ILO diterapkan melalui kerja sama dengan OJK, Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Selain petani rumput laut di Desa Kaliuda, program ini juga berfokus pada literasi keuangan dan pemberdayaan digital bagi peternak sapi perah di Pengalengan, Jawa Barat dan komoditas minyak nilam di Desa Umong Seuribee, Kabupaten Aceh Besar.