A farmer waters crops in a field in East Nusa Tenggara, Indonesia. The image shows agricultural land surrounded by palm trees under a clear blue sky.

Financial literacy

ILO membangun kapasitas lokal untuk memperkuat literasi keuangan di Nusa Tenggara Barat

Melalui Program Desa Berdaya, ILO memperkuat kapasitas lokal dalam edukasi keuangan dengan membekali para fasilitator agar mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keuangan masyarakat guna memperkuat penghidupan dan ketahanan ekonomi mereka.

6 Agustus 2026

© ILO Jakarta/2026
Content also available in: English

Lombok Timur, Indonesia (Berita ILO) – Sebanyak 50 fasilitator edukasi keuangan dalam Program Desa Berdaya di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) telah menyelenggarakan empat kelompok pelatihan bagi penerima manfaat untuk 100 anggota masyarakat di Desa Tetebatu, Lombok Timur. Salah satu pelatihan tersebut dilaksanakan pada 29–31 Juli 2026 dan diikuti oleh 22 peserta.

Para fasilitator tersebut sebelumnya mengikuti pelatihan bagi fasilitator yang diselenggarakan oleh proyek Mempromosikan Usaha UKM melalui Peningkatan Akses Wirausaha terhadap Jasa Keuangan Tahap 2 (Promise II Impact) milik ILO. Proyek ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan literasi keuangan, perluasan akses terhadap layanan keuangan, serta pemberdayaan ekonomi. Pelatihan yang diselenggarakan di Mataram pada Juni 2026 ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Provinsi NTB, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank NTB Syariah, dan berbagai lembaga keuangan lainnya.

Melalui metode pembelajaran yang partisipatif dan inklusif, para fasilitator dibekali dengan pengetahuan serta keterampilan praktis untuk menyampaikan edukasi keuangan dan memperkuat literasi keuangan di masyarakat. Setelah menyelesaikan pelatihan, mereka ditugaskan untuk mendampingi masyarakat di berbagai wilayah di Pulau Lombok. Salah satu lokasi pendampingan tersebut adalah Desa Tetebatu, Lombok Timur, yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Mataram.

A facilitator leads a small group discussion during a financial education training session in Tetebatu Village, East Lombok. Participants sit together around a large sheet of paper, discussing financial planning and learning through participatory activities.
Peserta mengikuti diskusi kelompok dalam pelatihan edukasi keuangan Program Desa Berdaya di Desa Tetebatu, Lombok Timur. Para fasilitator yang telah dilatih melalui proyek Promise II Impact ILO menggunakan metode pembelajaran partisipatif untuk memperkuat literasi keuangan dan keterampilan praktis masyarakat dalam mengelola keuangan. ©ILO/2026

Sebagian besar peserta, yang berprofesi sebagai peternak dan buruh tani, mempelajari keterampilan praktis dalam mengelola keuangan rumah tangga dan usaha, menyusun anggaran, membangun kebiasaan menabung, menentukan prioritas pengeluaran, serta memahami berbagai produk dan layanan keuangan. Seluruh materi dirancang berdasarkan situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga peserta dapat langsung menerapkan pembelajaran tersebut dalam kehidupan dan usaha mereka.

Pelaksanaan edukasi keuangan juga menuntut para fasilitator untuk menyesuaikan pendekatan pembelajaran dengan kebutuhan peserta yang beragam.

"Sebagian peserta memiliki keterbatasan kemampuan baca tulis, sehingga kami perlu menyesuaikan cara penyampaian materi agar lebih sederhana dan mudah dipahami," ujar Shivatul Asmanita, salah satu fasilitator. "Kami berharap peserta dapat menerapkan apa yang telah dipelajari, terutama ketika mulai mengembangkan usahanya melalui Program Desa Berdaya."

Bagi fasilitator Miladia Fadilasari, antusiasme peserta menunjukkan bahwa pembelajaran yang bermakna tidak hanya ditentukan oleh latar belakang pendidikan, tetapi juga oleh terciptanya lingkungan belajar yang inklusif.

"Semangat peserta untuk belajar dan berpartisipasi aktif selama pelatihan sangat luar biasa. Antusiasme mereka mendorong kami untuk terus menghadirkan pembelajaran yang menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Selain meningkatkan pengetahuan keuangan, pelatihan ini juga mendorong peserta untuk memandang masa depan keuangan mereka dengan cara yang baru dan lebih optimistis.

"Sekarang saya lebih memahami cara mengelola keuangan dan menentukan kebutuhan yang menjadi prioritas," kata Wildan, salah satu penerima manfaat program yang berprofesi sebagai petani. "Setelah mengikuti pelatihan ini, saya ingin mengelola keuangan pribadi dengan lebih baik dan suatu saat membuka usaha sendiri."

Bagi Hatiti, seorang ibu rumah tangga, pendekatan pembelajaran yang praktis dan mudah dipahami menjadi salah satu nilai utama dari pelatihan ini.

"Kami belajar menyusun anggaran, menabung secara rutin, serta memilih pinjaman yang sesuai dengan kebutuhan keluarga maupun usaha. Latihan yang diberikan sangat realistis dan mudah dipahami," tuturnya.

Melalui investasi pada kapasitas para fasilitator sebelum menjangkau para penerima manfaat, proyek Promise II Impact ILO membangun model edukasi keuangan berbasis masyarakat yang berkelanjutan.

"Pendekatan ini bukan sekadar menyelenggarakan pelatihan satu kali, tetapi memperkuat kapasitas lokal sehingga pengetahuan dapat terus diteruskan dan dimanfaatkan oleh masyarakat, bahkan setelah proyek berakhir," ujar Djauhari Sitorus, Manajer Proyek Promise II Impact ILO.

"Kemampuan mengelola keuangan merupakan fondasi penting untuk mewujudkan pekerjaan yang layak, pembangunan ekonomi yang inklusif, serta penghidupan yang tangguh di Nusa Tenggara Barat."