Dampak kami, suara mereka
Dari pengamen jalanan menjadi mentor: Perjalanan Abdul keluar dari pekerja anak di Indonesia
Lebih dari dua dasawarsa setelah menerima dukungan melalui program ILO di Indonesia, mantan anak jalanan Abdul Rohim kini membantu generasi baru membangun masa depan yang lebih cerah.
23 Juni 2026
JAKARTA, Indonesia (Kisah ILO) - Abdul Rohim, 40 tahun, duduk tenang di sebuah bangku semen bersama putri bungsunya. Dengan kebanggaan yang terpancar jelas, ia menyaksikan sekelompok anak bimbingannya—para pengamen jalanan seperti dirinya dahulu—memainkan ukulele dan gendang kecil. Dalam hangatnya cahaya sore di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, suara mereka mengalun menyanyikan lagu-lagu yang dahulu mereka bawakan untuk mendapatkan uang receh di persimpangan jalan yang ramai.
Penampilan mereka merupakan bagian dari peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak pada 12 Juni. Acara tersebut disaksikan oleh lebih dari seratus mahasiswa hukum, pegiat isu pekerja anak, perwakilan pekerja, serta Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste beserta timnya. Sejenak, amfiteater kampus itu menjadi pengingat akan rapuhnya masa kanak-kanak sekaligus kekuatan dari kesempatan kedua.
Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, saya harus membantu menghidupi keluarga sejak usia 12 tahun... saya bekerja sebagai pengamen jalanan dari pukul satu siang hingga sembilan malam di Jakarta Timur, terutama di terminal bus dan persimpangan jalan yang ramai.
Abdul Rohim, mantan pekerja anak yang berhasil keluar dari siklus pekerja anak
Bagi Abdul, momen tersebut membangkitkan banyak kenangan. Lebih dari 20 tahun lalu, setelah bergabung dengan Yayasan Setia Kawan Mandiri (Yayasan Sekam)—mitra pelaksana ILO yang mendampingi anak-anak jalanan keluar dari dunia kerja di Jakarta—ia juga pernah berdiri di panggung serupa. Dengan dukungan Program Internasional ILO untuk Penghapusan Pekerja Anak (ILO-IPEC), Abdul dan teman-temannya tampil dalam berbagai kegiatan peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak ketika peringatan tersebut pertama kali diselenggarakan pada 2002.
“Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, saya harus membantu menghidupi keluarga sejak usia 12 tahun,” kenangnya. “Saya melakukan berbagai pekerjaan serabutan, tetapi sebagian besar waktu saya bekerja sebagai pengamen jalanan. Saya bekerja dari pukul satu siang hingga sembilan malam di Jakarta Timur, terutama di terminal bus dan persimpangan jalan yang ramai.”
Hidupnya mulai berubah ketika ia mengikuti program percontohan Kementerian Sosial pada 1998 yang menggeser pendekatan dari penertiban represif menjadi model pemberdayaan yang mengutamakan pendidikan, pengembangan keterampilan dan perlindungan dari eksploitasi. Pada 2003, saat berusia 17 tahun, ia mengikuti pelatihan mekanik sepeda motor yang didukung ILO-IPEC dan bertujuan mencegah anak-anak terlibat dalam bentuk-bentuk pekerjaan terburuk bagi anak.
Pada usia 18 tahun, Abdul meninggalkan dunia mengamen setelah menjadi fasilitator sebaya di Yayasan Sekam, membantu anak-anak dan keluarga di Jakarta Timur. Ia mengenang bagaimana dirinya belajar menggunakan Perangkat Pelatihan 3R (Rights, Responsibilities and Representation/Hak, Tanggung Jawab dan Representasi) ILO, sebuah perangkat pembelajaran interaktif bagi anak-anak dan keluarga rentan. Melalui program tersebut, ia belajar mengidentifikasi dan mendampingi anak-anak yang berisiko menjadi pekerja anak dengan bekerja langsung bersama keluarga dan masyarakat.
Saya hanya ingin menunjukkan bahwa selalu ada harapan. Melihat perubahan pada anak-anak ini sangat menyentuh hati saya. Mereka dapat mengakses pendidikan, memiliki cita-cita baru dan berupaya meraih masa depan yang lebih baik.
Untuk meningkatkan kapasitasnya, Abdul kemudian mengikuti program pendidikan vokasi tiga tahun di bidang informatika.
“Saya merasa harus memutus mata rantai itu. Saya harus meningkatkan diri. Namun saat itu saya belum bisa sepenuhnya fokus pada studi. Setelah satu tahun, saya memutuskan untuk berhenti dan mendedikasikan diri agar tidak ada anak yang mengalami apa yang pernah saya alami. Saya ingin memberikan dukungan yang dulu saya terima,” ujarnya.
Ketika Yayasan Sekam kembali bermitra dengan ILO pada periode 2009–2010 untuk mendukung anak-anak jalanan di Jakarta Timur, Abdul menjadi salah satu fasilitator sebaya yang melakukan kunjungan dari rumah ke rumah untuk memetakan kebutuhan, melakukan asesmen, meningkatkan kesadaran masyarakat, menyediakan layanan pendidikan dan memperkuat kapasitas komunitas.
“Saya sering ditolak. Ada keluarga yang bahkan tidak mau membuka pintu. Mereka tidak menganggap pendidikan itu penting. Yang terpenting adalah menghasilkan uang,” ujarnya sambil tersenyum. “Tetapi saya tidak menyerah. Saya menggunakan pendekatan dari hati ke hati. Saya memahami perjuangan mereka karena saya pernah mengalaminya. Saya juga mendorong para orang tua untuk menandatangani komitmen mendukung pendidikan anak-anak mereka.”
Mengabdi kembali kepada masyarakat
Tidak puas hanya menjadi fasilitator, Abdul ingin berbuat lebih banyak. Pada 2010, ia mendirikan organisasi non-pemerintah yang berfokus pada pendidikan dan pengembangan keterampilan bagi anak-anak jalanan. Enam tahun kemudian, organisasinya resmi terdaftar dengan nama ERBE, singkatan dari Education, Religion, Bee Entertainment.
“Saya sebenarnya ingin menggunakan nama ‘Rumah Belajar’, tetapi sudah banyak yang memakainya. Jadi ERBE menjadi versi singkat dari Rumah Belajar,” jelasnya.
Dengan status hukum yang resmi, jaringan organisasinya semakin berkembang. Pada 2020, berbagai program yang dijalankannya mulai mendapat perhatian media. Ia tampil di televisi nasional dan diberitakan dalam berbagai publikasi.
Saya benar-benar merasakan manfaat dari program-program ILO. Program-program tersebut membantu saya belajar, berkembang dan memperoleh keterampilan.
“Saya hanya ingin menunjukkan bahwa selalu ada harapan,” tuturnya. “Melihat perubahan pada anak-anak ini sangat menyentuh hati saya. Mereka dapat mengakses pendidikan, memiliki cita-cita baru dan berupaya meraih masa depan yang lebih baik.”
Setelah menikah pada 2017, Abdul kembali melanjutkan pendidikan tinggi setahun kemudian. Dengan dukungan istrinya—yang pernah menjadi relawan dalam program pekerja anak saat masih menjadi mahasiswa dan kini menjadi salah satu pelatih di ERBE—ia mengambil program studi Kesejahteraan Sosial di Universitas Binawan dan lulus pada 2024, mewujudkan cita-cita yang telah lama diimpikannya.
Kini, sebagai ayah dari tiga anak, Abdul melihat setiap anak jalanan sebagai cerminan perjalanan hidupnya sendiri.
“Saya benar-benar merasakan manfaat dari program-program ILO,” ungkapnya. “Program-program tersebut membantu saya belajar, berkembang dan memperoleh keterampilan. Harapan saya, melalui organisasi yang saya dirikan, saya dapat memberikan kembali manfaat tersebut dengan menciptakan dampak nyata dan membuka lebih banyak peluang bagi anak-anak Indonesia.”
Ketika Abdul mengenang perjalanan hidupnya, mereka yang pernah mendukungnya di masa muda melihat kisahnya sebagai bukti nyata dampak jangka panjang dari dukungan yang berkelanjutan. Salah satunya adalah Dede Sudono, Koordinator Proyek Mewujudkan Keuntungan Perdagangan Bebas dari Diskriminasi Gender dan Pekerja Anak (RealGains) ILO, yang pernah bekerja dekat dengan Abdul saat masih anak-anak. Saat itu, Dede menjabat sebagai Staf Proyek ILO-IPEC.
“Abdul adalah bukti hidup tentang apa yang dapat terjadi ketika seorang anak memperoleh martabat, kesempatan dan dukungan yang konsisten,” kata Dede. “Program-program ILO memberinya ruang untuk belajar, berkembang dan membangun kembali rasa percaya dirinya. Yang membuat kisahnya luar biasa adalah bagaimana ia menggunakan dukungan tersebut untuk membantu orang lain, mengubah pengalaman pribadinya menjadi peluang bagi anak-anak di komunitasnya. Itulah jenis perubahan yang bertahan lama.”
Abdul adalah bukti hidup tentang apa yang dapat terjadi ketika seorang anak memperoleh martabat, kesempatan dan dukungan yang konsisten.
Dede Sudono, Koordinator Proyek Mewujudkan Keuntungan Perdagangan Bebas dari Diskriminasi Gender dan Pekerja Anak (RealGains) ILO
Related content
Proyek
Mewujudkan keuntungan perdagangan bebas dari diskriminasi gender dan pekerja anak (RealGains)
Hari Dunia Menentang Pekerja Anak
Kampanye kartu merah untuk pekerja anak libatkan kaum muda Indonesia
Relevant projects
Proyek
Mewujudkan keuntungan perdagangan bebas dari diskriminasi gender dan pekerja anak (RealGains)