Inovasi digital
Dari Jawa Barat ke Jawa Timur: Memajukan transformasi digital dalam peternakan susu Indonesia
Sebuah koperasi peternakan susu di Pangalengan, Jawa Barat, menjadi pelopor dalam mengimplementasikan operasi peternakan susu yang terintegrasi secara digital dengan dukungan dari ILO. Prestasi Pangalengan kini diperluas ke tiga koperasi peternakan susu tambahan di Jawa Timur.
29 September 2025
PANGALENGAN, Jawa Barat, Indonesia (Berita ILO) - Transformasi digital sektor susu Indonesia telah mencapai tonggak penting dengan perluasan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) ke tiga koperasi di Jawa Timur. Pengembangan ini didasarkan pada kesuksesan Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) di Pangalengan, Jawa Barat, yang menjadi pelopor dalam penggunaan ERP untuk memodernisasi operasi peternakan susu.
Program perluasan ini akan dilaksanakan di koperasi-koperasi berikut:
- Koperasi Peternakan Sapi Perah (KPSP) Setia Kawan, berlokasi di Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan. Didirikan pada 1961, koperasi ini memiliki 11.400 anggota dan beroperasi di beberapa bidang usaha, termasuk produksi susu segar, program pinjaman, kegiatan perdagangan dan layanan lainnya.
- Koperasi Produsen Agro Niaga Jabung Syariah Jawa Timur (KAN Jabung Syariah), berkedudukan di Malang. Didirikan pada 1979, koperasi ini memiliki 2.260 anggota dan beroperasi di bidang peternakan susu, ritel, layanan keuangan syariah mikro, manufaktur, transportasi dan pertanian.
- Koperasi Produktif Unit Desa (KPUD) Tani Wilis, berlokasi di Tulungagung. Didirikan pada 1973, koperasi ini memiliki lebih dari 2.000 anggota dan beroperasi di bidang penggilingan padi, simpan pinjam, transportasi, produksi susu dan layanan toko swalayan.
KPBS menerapkan sistem ERP melalui kemitraan strategis dengan Kantor ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, melalui proyek “Mempromosikan Usaha Kecil dan Menengah melalui Akses Pelaku Wirausaha terhadap Jasa Keuangan" (Promise II Impact), yang didanai oleh Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO). Sistem ini telah secara signifikan meningkatkan efisiensi operasional dan memperluas akses keuangan bagi lebih dari 2.000 anggota aktif KPBS. Sistem ini telah memadukan layanan logistik, manajemen keanggotaan dan pemantauan kesehatan hewan, seraya memperkuat rantai nilai susu secara keseluruhan.
Pada Maret 2024, KPBS memperkenalkan fasilitas aplikasi persetujuan pinjaman yang didukung oleh sistem ERP, yang semakin memperkuat infrastruktur keuangan mereka. Hingga saat ini, 429 petani telah memperoleh pinjaman senilai Rp 11,6 miliar, dengan proses persetujuan hanya dalam satu hari. Akses cepat ke pembiayaan ini telah meningkatkan produktivitas dan membuka peluang bisnis baru. Secara paralel, lebih dari 300 petani telah mengikuti pelatihan kewirausahaan dan literasi keuangan, dengan banyak di antaranya menerima bimbingan pribadi untuk meningkatkan kemampuan bisnis mereka.
Related content
Inovasi digital
Dari tradisi menuju inovasi: Transformasi digital peternakan sapi perah di Pangalengan