A person holding a smartphone

Inovasi digital

Dari tradisi menuju inovasi: Transformasi digital peternakan sapi perah di Pangalengan

Sebuah koperasi susu di Pangalengan, Jawa Barat, merintis operasi peternakan sapi perah pertama yang terintegrasi secara digital dengan dukungan dari ILO.

29 Mei 2025

Kiki Sobar Baihaqi, a dairy farmer in Pengalengan, West Java, Indonesia, showcases the ERP application in his smartphone. 5/2025 © Eka Novitasari/ILO
Content also available in: English
Empowering dairy farmers with improved financial access through digital transformation

PANGALENGAN, Jawa Barat, Indonesia (Berita ILO ) - Dalam lanskap peternakan sapi perah yang terus berkembang, teknologi menjadi alat yang sangat diperlukan untuk efisiensi dan keberlanjutan. Salah satu inovasi yang mengubah industri ini adalah Enterprise Resource Planning (ERP), yang memberikan manfaat bagi 2.050 anggota peternakan sapi perah aktif di Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Bagi para peternak ini, yang beroperasi dalam ekosistem rantai nilai sapi perah, ERP terbukti menjadi pengubah permainan.

KPBS Pangalengan memulai perjalanan ERP pada 2017 setelah menghadapi tantangan dengan pencatatan manual yang menyebabkan perbedaan dalam data penerimaan susu. Dengan dukungan dari pemerintah provinsi Jawa Barat, koperasi memulai pengembangan sistem dengan mengidentifikasi dan memprioritaskan kebutuhan operasional utama. Pada 2018, upaya-upaya bergeser untuk menyempurnakan pelacakan keanggotaan dan manajemen setoran susu, diikuti dengan kemajuan dalam logistik distribusi pakan pada 2019, yang menandai perkembangan yang stabil menuju operasi peternakan sapi perah yang lebih efisien dan terintegrasi secara digital.

Manfaat terbesarnya adalah data yang tercatat langsung. Data ini mewakili harapan untuk masa depan, membuka jalan bagi bisnis peternakan sapi perah yang lebih kuat dan sejahtera bagi para anggota kami

H. Aun Gunawan, Kepala KPBS

Pada 2023, sistem ini mengalami peningkatan lebih lanjut dengan diperkenalkannya fasilitas pinjaman yang terhubung langsung dengan Bank Perkreditan Rakyat (BPR), yang dimungkinkan melalui dukungan dari proyek Mempromosikan Usaha Kecil dan Menengah melalui Akses Pelaku Wirausaha terhadap Jasa Keuangan (Promise II Impact) didanai oleh Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO)—menandai tonggak sejarah berikutnya dalam upaya koperasi untuk terus berinovasi.

H. Aun Gunawan, Kepala KPBS, menekankan dampak transformatif ERP pada koperasi, yang terbukti mampu meningkatkan data administrasi, memperkuat transparansi dan memperkokoh kepercayaan di antara para anggota. “Manfaat terbesarnya adalah data yang tercatat langsung,” katanya. “Data ini mewakili harapan untuk masa depan, membuka jalan bagi bisnis peternakan sapi perah yang lebih kuat dan sejahtera bagi para anggota kami.”

Cara lebih cerdas mengelola peternakan sapi perah

© Eka Novitasari/ILO
© Eka Novitasari/ILO
Aplikasi Enterprise Resource Planning (ERP) dipergunakan untuk mencatat data produksi dan penerimaan susu oleh para petani sapi perah di Pengalengan, Jawa Barat, Indonesia. 5/2025

Bagi peternak sapi perah Kiki Sobar Baihaqi, ERP telah merevolusi cara dia mengelola peternakannya. Dengan ponsel pintar yang selalu ada di genggamannya, ia secara efisien mengawasi 22 sapinya, termasuk 11 sapi laktasi, dengan memperbarui data produksi susu secara instan, memantau kondisi kesehatan, mengoptimalkan jadwal pemberian pakan dan mengelola pembukuan yang semuanya dilakukan secara waktu nyata.

“ERP telah membuat segalanya menjadi lebih mudah. Bukan hanya melacak kesehatan sapi dan produksi susu, saya juga dapat dengan cepat memeriksa pemasukan dan pengeluaran saya, seperti biaya transportasi dan pembelian pakan, tidak hanya untuk hari ini tetapi bahkan melihat ke beberapa tahun yang lalu. Ini sangat membantu dalam perencanaan dan tetap mengetahui segalanya,” katanya.

Sebagai salah satu dari 104 anggota KPBS yang telah menerima pinjaman, ia memuji efektivitas aplikasi ini. Dengan fasilitas pinjaman cepat yang baru diluncurkan tahun lalu, para peternak sekarang dapat menerima pinjaman dalam waktu satu hari setelah disetujui. “Saya dapat mengajukan permohonan pinjaman tanpa harus meninggalkan ternak dan produksi susu. Kami dapat mengajukan pinjaman dengan mudah dan cepat, kapan saja dan dari mana saja,” tambah dia.

ERP telah membuat segalanya menjadi lebih mudah. Bukan hanya melacak kesehatan sapi dan produksi susu, saya juga dengan cepat dapat memeriksa pemasukan dan pengeluaran saya, seperti biaya transportasi dan pembelian pakan, tidak hanya untuk hari ini tetapi bahkan beberapa tahun ke belakang. Ini sangat membantu dalam perencanaan dan selalu tahu kondisi yang terjadi.

Kiki Sobar Baihaqi, peternak sapi perah

Manfaat ERP tidak hanya dirasakan oleh para peternak sapi perah, tetapi juga terbukti sangat berharga bagi layanan kesehatan hewan dan konselor perawatan. Menurut Dida Rosida, Petugas Kesehatan Hewan KPBS Pengalengan, fitur notifikasi sistem telah mempermudah dirinya dalam mengidentifikasi peternak yang membutuhkan layanan dan perawatan hewan. Selain melacak rincian kepemilikan, perangkat ini juga menyediakan catatan komprehensif tentang kondisi kesehatan sapi.

“Dengan meninjau data aplikasi, saya dapat mengakses informasi penting mengenai kelahiran, kehamilan dan inseminasi buatan,” jelasnya. “Ini juga memungkinkan saya untuk memantau faktor-faktor yang berhubungan dengan kesehatan seperti perawatan antibiotik, tingkat kematian dan lainnya untuk memastikan perawatan ternak yang lebih baik.”

Demikian pula dengan Fitri Herliana, Kepala Konselor Perawatan dan Koordinator Regional KPBS Pengalengan, menyatakan bahwa platform ERP telah membantunya dalam menjaga komunikasi yang lancar dengan para peternak selama sesi berbagi pengetahuan dan peningkatan kesadaran. Platform ini juga memungkinkannya untuk secara efisien memantau keseimbangan antara pasokan pakan dan produksi susu.

Digitalisasi mewakili masa depan peternakan sapi perah, mengubah praktik-praktik tradisional menjadi operasi berteknologi tinggi dan efisien yang menguntungkan peternak, sapi dan konsumen.

Djauhari Sitorus, Manajer Proyek Promise II Impact ILO

“Selain memberikan informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pengawasan kesehatan hewan, tingkat produksi susu dan berbagai masalah logistik, saya juga secara aktif mendorong para peternak sapi perah kami untuk memaksimalkan akses mereka terhadap layanan keuangan yang dapat mendukung pertumbuhan dan peningkatan bisnis mereka,” jelas Fitri.

Djauhari Sitorus, Manajer Proyek Promise II Impact ILO, memuji KPBS Pengalengan yang telah menjadi pionir sebagai koperasi susu pertama di Indonesia yang mengintegrasikan EPR ke dalam ekosistem rantai nilai sapi perah. “Kami sangat senang dengan dedikasi KPBS Pengalengan terhadap transformasi digital,” ungkapnya. “Digitalisasi mewakili masa depan peternakan sapi perah, mengubah praktik-praktik tradisional menjadi operasi berteknologi tinggi dan efisien yang menguntungkan peternak, sapi dan konsumen.”