A woman sitting

Belajar dari ILO: Ketika AI bukan lagi soal teknologi, tetapi tentang manusia

Forum AI ILO membuka perspektif baru tiga mahasiswa kedokteran dari Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA) mengenai bagaimana AI dapat membentuk masa depan tenaga kesehatan tanpa meninggalkan kelompok yang paling rentan.

30 Juli 2026

A nurse performs a heart examination. © Thierry Falise/ILO
Content also available in: English

JAKARTA, Indonesia (Berita ILO) - ""Artificial intelligence will not replace humans, but humans using AI will replace humans who don't." Kalimat tersebut mungkin sudah tidak asing lagi bagi banyak mahasiswa. Selama ini kami memaknainya sebagai dorongan untuk terus mengikuti perkembangan teknologi.

Namun, setelah mengikuti forum AI ke-enam bertajuk "Intersectionality in Action: A Deep Dive with Policymakers & Practitioners on AI, Health Workforce, and Serving Vulnerable Indonesian Workers" yang diselenggarakan oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), kami menyadari bahwa pertanyaan yang jauh lebih penting bukanlah siapa yang paling cepat menguasai AI, melainkan bagaimana AI digunakan secara bertanggung jawab dan siapa yang memperoleh manfaat dari teknologi tersebut.

Forum yang mempertemukan pembuat kebijakan, praktisi, akademisi dan generasi muda ini membuka diskusi mengenai bagaimana AI dapat membentuk pekerjaan masa depan, khususnya sektor kesehatan, tanpa meninggalkan pekerja dan masyarakat yang paling rentan.

AI tidak menggantikan tenaga kesehatan

A nurse wearing a blue uniform smiles while holding a clipboard in a healthcare facility.
© Shutterstock
© Shutterstock
Seorang suster di sebuah fasilitas layanan keehatan.

Sebagai mahasiswa kedokteran, kami sering melihat AI sebagai alat yang membantu belajar—merangkum materi kuliah, menjelaskan konsep yang sulit atau menjadi teman berdiskusi ketika menyusun laporan ilmiah. Namun, forum ini memperlihatkan bahwa peran AI jauh lebih luas.

AI kini mulai digunakan dalam diagnosis klinis dan administrasi layanan kesehatan hingga perencanaan tenaga kesehatan dan penelitian. Di saat yang sama, forum juga mengingatkan bahwa AI membawa tantangan baru, mulai dari bias otomasi, halusinasi AI hingga kesenjangan akses teknologi yang masih terjadi di Indonesia.

Dari diskusi tersebut terlihat bahwa AI tidak dirancang untuk menggantikan tenaga kesehatan. Sebaliknya, AI seharusnya membantu mengurangi pekerjaan administratif dan rutin sehingga tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu untuk memberikan pelayanan yang membutuhkan empati, komunikasi dan pengambilan keputusan klinis.

Inovasi harus menjangkau semua orang

A medical machine
© Adri Berger/ILO
© Adri Berger/ILO
Seorang dokter melakukan pemindaian menggunakan CT scanner.

Salah satu pelajaran yang paling membekas adalah pentingnya melihat AI melalui perspektif pendekatan interseksional atau intersectionality. Teknologi yang sama dapat memberikan manfaat yang berbeda bagi setiap orang. Mereka yang memiliki akses internet yang baik, literasi digital yang tinggi atau bekerja di fasilitas kesehatan yang lebih maju tentu memiliki peluang yang berbeda dibandingkan masyarakat di daerah terpencil atau kelompok pekerja yang rentan.

Karenanya, penting untuk memastikan bahwa inovasi tidak lagi hanya diukur dari kecanggihannya, tetapi juga dari kemampuannya menjangkau mereka yang selama ini sering tertinggal dalam transformasi digital.

Forum ini juga memberikan perspektif baru mengenai kompetensi yang perlu dimiliki tenaga kesehatan di masa depan. Forum juga menunjukkan bahwa penting untuk memahami kemampuan dan keterbatasan AI, memiliki kemampuan untuk mengevaluasi hasil yang diberikan secara kritis serta menggunakannya secara aman dan etis. AI harus diposisikan sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti kemampuan berpikir kritis ataupun integritas akademik.

Kaum muda memiliki peran yang penting

Four people standing
© Ariel Prananda/ILO
© Ariel Prananda/ILO
Para penulis dari CIMSA bersama dengan Direktur ILO untuk Indonesia di acara Forum AI ILO ke-enam di Jakarta.

Selain itu, transformasi digital bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pengembang teknologi. Generasi muda juga memiliki peran untuk memastikan bahwa AI digunakan secara bertanggung jawab. Hal itu dapat dimulai dari hal sederhana: menggunakan AI secara etis selama proses belajar, aktif mengikuti diskusi mengenai perkembangan teknologi kesehatan hingga membantu meningkatkan literasi digital di lingkungan sekitar.

Forum ini menegaskan bahwa masa depan AI bukan semata-mata ditentukan oleh perkembangan teknologi. Ini juga tergantung pada keputusan manusia dalam merancang, mengatur dan menggunakannya.

Sebagai anggota CIMSA, kami percaya bahwa AI akan menjadi inovasi yang benar-benar bermanfaat apabila tetap menempatkan manusia sebagai pusat dari setiap kebijakan dan penerapannya. Hanya dengan cara itulah transformasi digital dapat menghadirkan sistem kesehatan yang lebih inklusif, adil dan mampu memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.

Berangkat dari pengalaman mengikuti Forum AI ILO ke-6 di Jakarta pada Juni 2026, Muhammad Aqila Putrawisesa, Syafiq Aufa Rahman, dan Sandrinnayla Anindita Budyanto dari Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA) membagikan refleksi mereka mengenai masa depan AI dan dunia kerja di sektor kesehatan.

Artikel ini merupakan bagian dari Jejaring Muda ILO, wadah bagi generasi muda Indonesia untuk menyampaikan gagasan dan perspektif mereka tentang berbagai isu ketenagakerjaan.

Related content

AI untuk layanan kesehatan yang lebih baik dan pekerjaan yang layak di Indonesia
a woman health worker using a computer

Siaran pers

AI untuk layanan kesehatan yang lebih baik dan pekerjaan yang layak di Indonesia