Job & Innovation Fair for Diversability 2019
Membuka peluang pekerjaan bagi penyandang disabilitas
ILO bekerja sama dengan mitra terkait, Diffago, Dare Foundation, dan Universitas Katolik Atma Jaya, menyelenggarakan bursa kerja inklusif selama dua hari. Bursa kerja ini menghubungkan perusahaan dan pencari kerja dengan disabilitas sebagai sarana untuk mempromosikan tempat kerja yang inklusif.
2 September 2019
Bayu yang merupakan salah seorang pencari kerja, sangat bersemangat mencari pekerjaan. Ia melakukan perjalanan dari Cilegon, Banten dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan. “Ini pertama kalinya saya mencari pekerjaan di bursa kerja. Tolong doakan saya,” ujarnya ketika mengunjungi stan ILO dengan menggunakan bahasa isyarat.
Dia kemudian mengelilingi Aula C Universitas Atma Jaya, dengan didampingi seorang penerjemah bahasa isyarat mengunjungi 18 perusahaan dan lima perusahaan rintisan/sosial (start-up companies) yang berpartisipasi dalam bursa kerja. Perusahaan yang berpartisipasi berasal dari sektor perhotelan, perbankan, ritel dan manufaktur; sementara perusahaan rintisan meliputi sektor makanan dan minuman, pariwisata dan jasa.
Orisa Pradito juga berbagi harapan yang sama dengan Bayu. Baru saja lulus dari salah satu universitas terkemuka di negeri ini, ia sangat antusias untuk mendapatkan pekerjaan. “Saya adalah orang dengan autisme tetapi saya berbakat. Saya berharap dapat menemukan pekerjaan untuk membantu keluarga saya,” tulisnya, mengungkapkan harapan melalui pohon harapan ILO.
Agar dapat terlibat secara interaktif dan mengetahui pendapat para peserta bursa kerja, ILO membuat pohon harapan di mana semua peserta dapat mengungkapkan harapan dan pendapat mereka tentang pentingnya dunia kerja yang inklusif.Banyak perusahaan masih tidak menyadari manfaat mempekerjakan penyandang disabilitas. Melalui bursa kerja ini, diharapkan kita dapat mulai memberikan kesempatan kerja yang setara sehingga mereka dapat bekerja sesuai minat, kemapuan dan bakat mereka."
Tendy Gunawan, Staf ILO untuk Kesetaraan Peluang bagi Disabilitas
Pendapat lain yang diungkapkan termasuk “Dukungan untuk dunia kerja inklusif harus datang dari kamu”, “Mempekerjakan orang buta tidak mahal”, “Bekerja adalah hak semua orang” dan “Dunia kerja inklusif harus menjunjung tinggi hak para penyandang disabilitas terhadap pekerjaan dengan mempertimbangkan tingkat disabilitas. "
Bursa kerja ini bertujuan untuk membangun konektivitas antara pencari kerja dengan disabilitas dan perusahaan, termasuk berbagai perusahaan rintisan yang telah mendukung masalah disabilitas. Salah satu perusahaan yang berpartisipasi adalah Precious One, sebuah perusahaan sosial yang mempekerjakan dan mendukung pekerja dengan disabilitas dan menyalurkan produk yang diproduksi oleh para penyandang disabilitas.Pekerjaan yang layak adalah pusat dari kehidupan setiap orang, termasuk para penyandang disabilitas. Mari kita bersama-sama mendukung dunia kerja yang inklusif di Indonesia."
Ni Komang Ayu Suriani, Pendiri dan CEO Diffago
“Kami memanfaatkan toko-toko digital yang ada dengan sebaik-baiknya untuk memasarkan jasa dan produk dari para penyandang disabilitas. Melalui bursa kerja ini, kami berharap bahwa lebih banyak orang lebih kenal kami sehingga kami dapat memperluas pasar, meningkatkan layanan dan mempekerjakan lebih banyak pekerja dengan disabilitas,” ungkap Mardea Mumpuni, Digital & Marketing Collaboration dari Precious One.
Tendy Gunawan, Staf ILO untuk Kesetaraan Peluang bagi Disabilitas, menyoroti pentingnya konektivitas antara perusahaan dan pekerja penyandang disabilitas. “Banyak perusahaan masih tidak menyadari manfaat mempekerjakan penyandang disabilitas. Melalui bursa kerja ini, diharapkan kita dapat mulai memberikan kesempatan kerja yang setara sehingga mereka dapat bekerja sesuai minat, kemapuan dan bakat mereka,” kata Tendy.
Sementara itu, Ni Komang Ayu Suriani, Pendiri dan CEO Diffago, menyerukan keterlibatan aktif semua pihak, termasuk masyarakat luas, untuk terus mempromosikan inklusivitas dalam dunia kerja. “Pekerjaan yang layak adalah pusat dari kehidupan setiap orang, termasuk para penyandang disabilitas. Mari kita bersama-sama mendukung dunia kerja yang inklusif di Indonesia," serunya.
Penyandang disabilitas masih menghadapi hambatan sikap, fisik dan informasi yang sangat besar terhadap kesempatan yang sama di dunia kerja. Data ILO tahun 2017 mengungkapkan bahwa dari 22 juta penyandang disabilitas di Indonesia, sekitar 13 juta masih menghadapi kesulitan dalam mencari pekerjaan yang layak dibandingkan dengan pekerja non-disabilitas lainnya. Penyandang disabilitas lebih cenderung bekerja di ekonomi informal.