Hari Dunia Menentang Pekerja Anak

Indonesia berkomitmen untuk menghapus pekerja anak

Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk menghapus pekerja anak, termasuk tindakan untuk mengatasi dampak pandemi COVID-19 terhadap peningkatan kemiskinan dan pekerja anak.

14 Juni 2021

Content also available in: English
(c) ILO/A. Mirza Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan aksi menghapus pekerja anak. Hingga saat ini, lebih dari 140.000 anak telah terbebaskan dari pekerja anak sejak tahun 2008 dan zona bebas pekerja anak telah ditetapkan di berbagai wilayah. Ida Fauziyah, Menteri Ketenagakerjaan, memaparkan kemajuan yang dicapai Indonesia dalam penghapusan pekerja anak dalam peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak pada 12 Juni.

Kementerian Ketenagakerjaan terus meningkatkan sistem pengawasan ketenagakerjaan dan terfokus pada penerapan kebijakan pre-emptif, preventif, dan represif oleh pengawas ketenagakerjaan dalam menangani dan mengatasi masalah terkait pekerja anak."

Ida Fauziyah, Menteri Ketenagakerjaan
“Kementerian Ketenagakerjaan terus meningkatkan sistem pengawasan ketenagakerjaan dan terfokus pada penerapan kebijakan pre-emptif, preventif, dan represif oleh pengawas ketenagakerjaan dalam menangani dan mengatasi masalah terkait pekerja anak,” Menteri Ida menambahkan.

Indonesia merupakan negara pertama di Asia yang telah meratifikasi Konvensi pokok ILO, termasuk Konvensi Pekerja Anak: Konvensi Usia Minimum No. 138 dan Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak No. 182.

Namun, dia mengakui bahwa negara ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Tantangan-tantangan tersebut, antara lain, data dan pembaruan informasi pekerja anak yang belum terintegrasi, dihapuskannya Komite Nasional Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak pada 2014 dan kurangnya kebijakan yang memprioritaskan penghapusan pekerja anak di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Selain itu, pandemi COVID-19 telah memperburuk kondisi pekerja anak di tanah air. “Kemiskinan yang meningkat membuat anak-anak lebih rentan memasuki dunia kerja untuk membantu menghidupi keluarga mereka,” katanya.

Ini adalah waktu untuk memperbarui komitmen dan energi untuk memutus siklus kemiskinan dan pekerja anak. Oleh karena itu, saya ingin mengapresiasi komitmen yang ditunjukkan oleh pemerintah Indonesia dan upaya yang telah dilakukan untuk mencapai masa depan tanpa pekerja anak di negara ini."

Michiko Miyamoto, Direktur ILO di Indonesia
Terkait dampak pandemi, Michiko Miyamoto, Direktur ILO di Indonesia, mengutip laporan terbaru ILO dan UNICEF berjudul: Estimasi Global Pekerja Anak 2020, Tren dan Jalan ke Depan. Laporan tersebut mengungkapkan peningkatan jumlah anak yang menjadi pekerja anak menjadi 160 juta di seluruh dunia—meningkat 8,4 juta anak dalam empat tahun terakhir.

Laporan tersebut memperingatkan bahwa secara global, sembilan juta anak tambahan berisiko terdorong menjadi pekerja anak pada akhir tahun 2022 sebagai akibat dari pandemi. Sebuah model simulasi menunjukkan jumlah ini dapat meningkat menjadi 46 juta jika mereka tidak memiliki akses ke cakupan perlindungan sosial yang penting.

“Ini juga berarti satu dari sepuluh anak di seluruh dunia menjadi pekerja anak. Ini adalah waktu untuk memperbarui komitmen dan energi untuk memutus siklus kemiskinan dan pekerja anak. Oleh karena itu, saya ingin mengapresiasi komitmen yang ditunjukkan oleh pemerintah Indonesia dan upaya yang telah dilakukan untuk mencapai masa depan tanpa pekerja anak di negara ini,” kata Michiko.

Menteri Ida mengakhiri presentasinya dengan menyoroti berbagai tindakan yang diambil untuk tahun ini sebagai Tahun Internasional Penghapusan Pekerja Anak tahun 2021. Beberapa tindakan yang dilakukan antara lain:
  • Meningkatkan kesadaran tentang masalah pekerja anak di sektor perkebunan, khususnya di sektor kelapa sawit dan tembakau;
  • Mengembalikan anak ke sekolah melalui upaya terkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait;
  • Menyelenggarakan program pelatihan dan pemagangan berbasis masyarakat untuk pekerja anak dan anak-anak rentan;
  • Memfasilitasi program perlindungan sosial bagi pekerja dan keluarga miskin yang terkena dampak pandemi; dan
  • Penetapan zona bebas pekerja anak di Sumatera Utara dan Selatan serta Kalimantan Timur dan Barat.
Acara peringatan yang disaksikan oleh sekitar 410 peserta ini sekaligus menandai dimulainya Lomba Virtual Mengakhiri Pekerja Anak dengan tema: Bertindak Sekarang, Akhiri Pekerja Anak. Diselenggarakan bersama oleh ILO dan Cause Indonesia, sebuah pelantar virtual race dengan cakupan nasional, virtual race ini akan diadakan selama satu bulan hingga 12 Juli, menjangkau lebih dari 5.000 pelari dan pesepeda di seluruh Indonesia.

“Melalui virtual race ini, kami bertujuan untuk melibatkan masyarakat luas sebanyak mungkin. Para peserta akan bertindak sebagai duta yang secara kolektif menjadi bagian dari gerakan sosial untuk penghapusan pekerja anak dan promosi pendidikan untuk semua. Kita perlu bekerja sama. Oleh karena itu, ILO berkomitmen untuk mendukung upaya yang dilakukan Indonesia dalam mencapai target penghapusan pekerja anak,” pungkas Michiko.

Tahun Internasional untuk Penghapusan Pekerja Anak 2021 diadopsi dengan suara bulat dalam resolusi Majelis Umum PBB pada 2019. Tujuan utama tahun ini adalah mendesak pemerintah melakukan apa yang diperlukan untuk mencapai Target 8.7 dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) PBB. . Oleh karena itu, Hari Dunia Menentang Pekerja Anak tahun ini mendukung dan fokus pada tindakan yang diambil untuk Tahun Internasional.

Related content

Pekerja anak meningkat menjadi 160 juta – peningkatan pertama dalam dua dasawarsa

Hari Dunia Menentang Pekerja Anak

Pekerja anak meningkat menjadi 160 juta – peningkatan pertama dalam dua dasawarsa

ILO meluncurkan ILO Virtual Race untuk Hapuskan Pekerja Anak

Hari Dunia Menentang Pekerja Anak

ILO meluncurkan ILO Virtual Race untuk Hapuskan Pekerja Anak