Pendidikan dan pelatihan teknis dan vokasi
Menjadikan lembaga pendidikan tempat yang aman bagi perempuan
Sebuah buku baru yang ditulis oleh mahasiswa dan dosen di politeknik Indonesia menyerukan diakhirinya kekerasan dan pelecehan seksual di kampus.
22 September 2022
Content also available in:
English
Relasi kuasa yang tidak seimbang – antara laki-laki dan perempuan, dosen dan mahasiswa serta staf senior dan junior – menjadi salah satu penyebab terjadinya pelecehan seksual dan kekerasan berbasis gender di kampus. Realitas ini terungkap dalam sebuah buku yang baru-baru ini diterbitkan oleh Politeknik Negeri Semarang Indonesia (Polimarin).
Berjudul Perang Melawan Kejahatan Besar di Perguruan Tinggi, buku tersebut menjadi sarana bagi politeknik untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya pencegahan kekerasan dan pelecehan seksual di kampus.
Diterbitkan dalam bahasa Indonesia, buku ini merupakan kompilasi dari 26 artikel yang ditulis oleh 26 mahasiswa dan dosen di politeknik ini. Artikel-artikel tersebut terpilih dari total 56 artikel yang dikirimkan pada lomba menulis yang diselenggarakan oleh politeknik pada bulan Juni tahun ini.
Lomba ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peningkatan kapasitas dan bantuan teknis yang diberikan oleh Program Keterampilan untuk Kesejahteraan ILO-Inggris di Indonesia (SfP-Indonesia) kepada Polimarin—salah satu dari empat mitra politeknik dari program tersebut.
Lomba ini merupakan bagian dari rencana tindak lanjut Polimarin untuk berkontribusi pada komitmen perguruan tinggi dan politeknik di Indonesia sebagai upaya mengakhiri kekerasan seksual, sebagaimana diamanatkan oleh peraturan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi tentang pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di perguruan tinggi dan pendidikan serta pelatihan teknis dan vokasi.
Dari 26 cerita yang diterbitkan, enam di antaranya adalah pemenang lomba – tiga oleh dosen dan tiga oleh mahasiswa.
Rispina adalah salah satu pemenang. Artikelnya yang berjudul Menciptakan Kampus yang Bebas dari Kekerasan dan Pelecehan Seksual menyoroti bahwa: “Ketidaksetaraan gender dan relasi kuasa antara dosen dan mahasiswa atau senior dan junior membuat korban pelecehan dan kekerasan seksual tetap bungkam. Mereka bahkan tidak berani mengatakannya.”
Selain itu, artikel tersebut menyatakan kurangnya pengetahuan tentang kekerasan berbasis gender di lingkungan kampus telah berkontribusi pada pelanggaran ini. Artikelnya berpendapat bahwa kampus harus menjadi pusat pembelajaran dan pemahaman tentang nilai-nilai kemanusiaan – bebas dari eksploitasi seksual, kekerasan dan pelecehan.
Ahmad Umam Aufi adalah salah satu pemenang lainnya. Artikelnya ingin menunjukkan bahwa fenomena kekerasan berbasis gender disebabkan oleh perspektif tradisional tentang ketimpangan gender yang menempatkan laki-laki lebih tinggi dan lebih berkuasa dibanding perempuan. Oleh karena itu, artikelnya menyebutkan, pengarusutamaan gender harus dimulai dengan mengembangkan kebijakan berbasis gender, pemerataan akses pendidikan, kesetaraan desain pembelajaran, dukungan infrastruktur dan lingkungan yang aman di kampus.
“Untuk menumbuhkan lingkungan anti kekerasan dan anti pelecehan di kampus, isu gender harus diarusutamakan di kampus dan pemahaman keagamaan perempuan harus direkonstruksi,” tulis Ahmad Umam Aufi.
Evi Sirait adalah pemenang lainnya. Artikelnya mengadvokasi pencegahan dan penanganan kekerasan dan pelecehan di perguruan tinggi dan lembaga pendidikan vokasi, termasuk politeknik, untuk dimasukkan dalam rencana strategis pengembangan pendidikan di Indonesia. Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan vokasi juga harus berkomitmen untuk melaksanakan tindakan nyata dengan mengalokasikan anggaran, mengoordinasikan sumber daya di kampus, dan memfasilitasi pencegahan dan penanganan kasus pelecehan seksual, katanya.
Sebagian besar dari cerita tersebut mencerminkan keinginan kampus untuk lebih terbuka dan peka dalam menangani pelecehan dan kekerasan seksual. Mereka merekomendasikan Polimarin untuk membuat mekanisme bagi korban pelecehan dan kekerasan untuk melaporkan kasus mereka, memungkinkan mereka untuk menggunakan hak-hak mereka - dan menyelesaikan pendidikan mereka.
Akhmad Nuriyanis, Direktur Polimarin, mengatakan lomba menulis ini merupakan cara yang tepat untuk membantu Polimarin menjadi kampus yang inklusif bagi kelompok rentan seperti mahasiswa perempuan. Lomba ini juga merupakan pendekatan strategis untuk memotivasi komunitas intelektual agar mau belajar pentingnya mencegah kekerasan dan pelecehan seksual di kampus, katanya.
“Puluhan mahasiswa mengikuti lomba tersebut. Ini adalah jumlah yang sangat besar mengingat hanya ada sekitar 400 mahasiswa di kampus kami. Menjadikan kampus bebas dari pelecehan jelas menjadi isu yang menarik bagi komunitas Polimarin,” kata Nuriyanis.
Selain lomba menulis, Polimarin juga telah membuat podcast mendalam berjudul Tak Ada Apapun Tentang Kami Tanpa Adanya Kami dan Stop Kekerasan dan Pelecehan sebagai bagian dari upaya advokasinya. Polimarin juga telah memasang papan nama yang membawa pesan anti-kekerasan dan anti-pelecehan di kampus.
Mary Kent, Kepala Penasihat Teknis SfP-Indonesia, mengatakan “Lembaga vokasi memenuhi peran dalam menyediakan pelatihan keterampilan dan mempersiapkan siswa untuk pekerjaan yang produktif. Dengan demikian, mereka juga memiliki peran penting dalam membangun sikap dan perilaku yang dapat diterima yang akan membentuk pandangan lulusannya saat mereka masuk ke tempat kerja.”
Kent mengatakan: “Sistem keterampilan di Indonesia merupakan komponen penting yang mendukung bangsa dalam visinya untuk menjadi ekonomi kelautan global yang adil dan beradab. Kami ucapkan selamat kepada para pemenang dan seluruh peserta lomba, dan semoga institusi lain dapat terinspirasi oleh teladan yang telah ditunjukkan oleh Polimarin.”
Berjudul Perang Melawan Kejahatan Besar di Perguruan Tinggi, buku tersebut menjadi sarana bagi politeknik untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya pencegahan kekerasan dan pelecehan seksual di kampus.
Diterbitkan dalam bahasa Indonesia, buku ini merupakan kompilasi dari 26 artikel yang ditulis oleh 26 mahasiswa dan dosen di politeknik ini. Artikel-artikel tersebut terpilih dari total 56 artikel yang dikirimkan pada lomba menulis yang diselenggarakan oleh politeknik pada bulan Juni tahun ini.
Lomba ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peningkatan kapasitas dan bantuan teknis yang diberikan oleh Program Keterampilan untuk Kesejahteraan ILO-Inggris di Indonesia (SfP-Indonesia) kepada Polimarin—salah satu dari empat mitra politeknik dari program tersebut.
Lomba ini merupakan bagian dari rencana tindak lanjut Polimarin untuk berkontribusi pada komitmen perguruan tinggi dan politeknik di Indonesia sebagai upaya mengakhiri kekerasan seksual, sebagaimana diamanatkan oleh peraturan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi tentang pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di perguruan tinggi dan pendidikan serta pelatihan teknis dan vokasi.
Peraturan baru ini menjadi respons atas banyaknya kasus kekerasan dan pelecehan yang dilaporkan di lembaga pendidikan di Indonesia. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan mengatakan 51 kasus dari 2015 hingga 2021 - 27% di antaranya terjadi di universitas - kendati kasus yang dilaporkan secara resmi ini kemungkinan masih merupakan fenomena puncak gunung es.Ketidaksetaraan gender dan relasi kuasa antara dosen dan mahasiswa atau senior dan junior membuat korban pelecehan dan kekerasan seksual tetap bungkam. Mereka bahkan tidak berani mengatakannya."
Rispina, mahasiswa Polimarin
Dari 26 cerita yang diterbitkan, enam di antaranya adalah pemenang lomba – tiga oleh dosen dan tiga oleh mahasiswa.
Rispina adalah salah satu pemenang. Artikelnya yang berjudul Menciptakan Kampus yang Bebas dari Kekerasan dan Pelecehan Seksual menyoroti bahwa: “Ketidaksetaraan gender dan relasi kuasa antara dosen dan mahasiswa atau senior dan junior membuat korban pelecehan dan kekerasan seksual tetap bungkam. Mereka bahkan tidak berani mengatakannya.”
Selain itu, artikel tersebut menyatakan kurangnya pengetahuan tentang kekerasan berbasis gender di lingkungan kampus telah berkontribusi pada pelanggaran ini. Artikelnya berpendapat bahwa kampus harus menjadi pusat pembelajaran dan pemahaman tentang nilai-nilai kemanusiaan – bebas dari eksploitasi seksual, kekerasan dan pelecehan.
Ahmad Umam Aufi adalah salah satu pemenang lainnya. Artikelnya ingin menunjukkan bahwa fenomena kekerasan berbasis gender disebabkan oleh perspektif tradisional tentang ketimpangan gender yang menempatkan laki-laki lebih tinggi dan lebih berkuasa dibanding perempuan. Oleh karena itu, artikelnya menyebutkan, pengarusutamaan gender harus dimulai dengan mengembangkan kebijakan berbasis gender, pemerataan akses pendidikan, kesetaraan desain pembelajaran, dukungan infrastruktur dan lingkungan yang aman di kampus.
“Untuk menumbuhkan lingkungan anti kekerasan dan anti pelecehan di kampus, isu gender harus diarusutamakan di kampus dan pemahaman keagamaan perempuan harus direkonstruksi,” tulis Ahmad Umam Aufi.
Evi Sirait adalah pemenang lainnya. Artikelnya mengadvokasi pencegahan dan penanganan kekerasan dan pelecehan di perguruan tinggi dan lembaga pendidikan vokasi, termasuk politeknik, untuk dimasukkan dalam rencana strategis pengembangan pendidikan di Indonesia. Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan vokasi juga harus berkomitmen untuk melaksanakan tindakan nyata dengan mengalokasikan anggaran, mengoordinasikan sumber daya di kampus, dan memfasilitasi pencegahan dan penanganan kasus pelecehan seksual, katanya.
Sebagian besar dari cerita tersebut mencerminkan keinginan kampus untuk lebih terbuka dan peka dalam menangani pelecehan dan kekerasan seksual. Mereka merekomendasikan Polimarin untuk membuat mekanisme bagi korban pelecehan dan kekerasan untuk melaporkan kasus mereka, memungkinkan mereka untuk menggunakan hak-hak mereka - dan menyelesaikan pendidikan mereka.
Akhmad Nuriyanis, Direktur Polimarin, mengatakan lomba menulis ini merupakan cara yang tepat untuk membantu Polimarin menjadi kampus yang inklusif bagi kelompok rentan seperti mahasiswa perempuan. Lomba ini juga merupakan pendekatan strategis untuk memotivasi komunitas intelektual agar mau belajar pentingnya mencegah kekerasan dan pelecehan seksual di kampus, katanya.
“Puluhan mahasiswa mengikuti lomba tersebut. Ini adalah jumlah yang sangat besar mengingat hanya ada sekitar 400 mahasiswa di kampus kami. Menjadikan kampus bebas dari pelecehan jelas menjadi isu yang menarik bagi komunitas Polimarin,” kata Nuriyanis.
Selain lomba menulis, Polimarin juga telah membuat podcast mendalam berjudul Tak Ada Apapun Tentang Kami Tanpa Adanya Kami dan Stop Kekerasan dan Pelecehan sebagai bagian dari upaya advokasinya. Polimarin juga telah memasang papan nama yang membawa pesan anti-kekerasan dan anti-pelecehan di kampus.
Mary Kent, Kepala Penasihat Teknis SfP-Indonesia, mengatakan “Lembaga vokasi memenuhi peran dalam menyediakan pelatihan keterampilan dan mempersiapkan siswa untuk pekerjaan yang produktif. Dengan demikian, mereka juga memiliki peran penting dalam membangun sikap dan perilaku yang dapat diterima yang akan membentuk pandangan lulusannya saat mereka masuk ke tempat kerja.”
Kent mengatakan: “Sistem keterampilan di Indonesia merupakan komponen penting yang mendukung bangsa dalam visinya untuk menjadi ekonomi kelautan global yang adil dan beradab. Kami ucapkan selamat kepada para pemenang dan seluruh peserta lomba, dan semoga institusi lain dapat terinspirasi oleh teladan yang telah ditunjukkan oleh Polimarin.”