Tiga federasi lanjutkan aplikasi pengaduan di sektor garmen
Tiga federasi serikat pekerja yang bekerja sama dengan ILO dalam aplikasi pengaduan berkomitmen untuk mempertahankan penerapannya guna mendorong hubungan ketenagakerjaan yang lebih baik di sektor garmen.
7 April 2025
JAKARTA, Indonesia (Berita ILO ) - Iwan Kusmawan, Ketua Serikat Pekerja Nasional (SPN), Trisnur Priyanto, Ketua Federasi Serikat Pekerja Tekstil dan Garmen (Garteks) dan Moch Popon, Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Pekerja Tekstil, Garmen, dan Kulit (FSP-TSK) dengan bangga mengangkat telepon pintar mereka setelah secara resmi menerima aplikasi pengaduan dari ILO saat acara serah terima di Jakarta pada kuartal ini. Aplikasi ini dikembangkan bersama-sama melalui proyek Penguatan Hubungan Industrial di Indonesia (SIRI) ILO, yang dirancang khusus sesuai dengan identitas khas dan persyaratan khusus masing-masing federasi di sektor garmen.
Dengan lebih dari 700 peserta dan pemirsa yang hadir secara langsung maupun daring, acara tersebut menjadi lebih hidup saat layar menyala, memperlihatkan aplikasi unik masing-masing federasi—SoPaN SPN, Teman Garteks dan Hallo Siola—yang memikat para hadirin dengan desain inovatif mereka. Aplikasi-aplikasi ini dibuat untuk memfasilitasi aliran pengaduan dan penyampaian aspirasi dari anggota maupun non anggota federasi.
Sekarang menjadi tanggung jawab kami untuk memastikan keberlanjutan aplikasi pengaduan ini.
Trisnur Priyanto, Ketua Federasi Serikat Pekerja Tekstil dan Garmen (Garteks)
Dari ketiga aplikasi tersebut, SoPaN SPN memiliki basis pengguna terluas, dengan 2.217 pekerja sejak peluncuran resminya pada Mei tahun lalu. Diikuti oleh Hallo Siola, yang memiliki 840 pengguna dan Teman Garteks dengan 483 pengguna. SoPaN telah mendaftarkan 215 pengaduan dan 507 aspirasi, sementara Hallo Siola mencatat 47 pengaduan dan 16 aspirasi dan Teman Garteks melaporkan 31 pengaduan dan 28 aspirasi.
Permasalahan utama yang dilaporkan melalui ketiga aplikasi tersebut berfokus pada fasilitas kerja, kesejahteraan dan hubungan pekerja serta kebebasan berserikat. Kendati pengguna laki-laki mendominasi di ketiga pelantar tersebut, SoPaN tampil berbeda dengan memiliki representasi pengguna perempuan yang relatif lebih besar.
Ravindra Samithadasa, Spesialis Pekerja dari ILO, menyuarakan harapan bahwa ketiga federasi akan terus menerapkan aplikasi tersebut sesuai dengan rencana mereka. “Dengan penggunaan yang lebih luas, serikat pekerja di Indonesia akan melihat manfaat dari sistem tersebut dan bagaimana sistem tersebut dapat membantu mereka berbuat lebih banyak untuk diri mereka sendiri dan anggota mereka,” ujarnya.
Tantangan dan langkah ke depan
Ketiga federasi tersebut secara terbuka mengakui tantangan dalam memperluas jangkauan aplikasi ke khalayak yang lebih luas, dengan menyoroti terbatasnya upaya sosialisasi, kurangnya pemahaman dan ketidakkonsistenan konektivitas internet sebagai hambatan signifikan dalam upaya mereka. Namun, mereka menguraikan langkah-langkah yang harus diambil untuk meningkatkan penerapan aplikasi ke depannya, termasuk mengalokasikan anggaran tahunan untuk pemeliharaan, melakukan program sosialisasi rutin dan menunjuk tim TI khusus.
“Sekarang menjadi tanggung jawab kami untuk memastikan keberlanjutan aplikasi pengaduan ini. Kami tentu akan melibatkan semua administrator dari semua tingkatan untuk menyosialisasikan pentingnya aplikasi ini kepada anggota kami,” ungkap Trisnur dari Garteks.
Senada, Moch. Popon dari FSP-TSK mengapresiasi manfaat yang diberikan aplikasi tersebut bagi federasinya. “Aplikasi ini sangat bermanfaat bagi federasi kami. Karenanya, kami berencana untuk membuat peraturan internal khusus untuk memastikan kepemilikan dan keberlanjutan.” Sementara Iwan dari SPN menegaskan bahwa federasinya telah memperluas penggunaan aplikasi ini di luar sektor garmen hingga mencakup sektor-sektor seperti kelapa sawit.
Manfaat yang diperoleh pengusaha dan pekerja
Suwandi, seorang pekerja garmen dan pengguna aplikasi SoPaN, memuji digitalisasi mekanisme pengaduan. Setelah mengunduh aplikasi tersebut di telepon pintarnya, ia mengatakan bahwa aplikasi tersebut membuat penyampaian aspirasi di tempat kerjanya menjadi sangat mudah.
“Aplikasi ini memungkinkan saya untuk melaporkan masalah terkait pekerjaan dengan cepat melalui SoPaN SPN, tanpa perlu menunggu rapat dengan anggota serikat pekerja. Hanya dengan sekali klik, saya dapat menyampaikan laporan saya di mana saja dan kapan saja,” katanya.
Kerahasiaan menjadi hal yang penting bagi Tri Indah Yanti, seorang pengguna aplikasi Teman Garteks. Ia mengungkapkan,“Teman Garteks memberi saya rasa aman karena data saya terjaga kerahasiaannya saat saya menyampaikan keluhan atau aspirasi. Saya juga sangat mengapresiasi respons cepat dari administrator.”
Aplikasi ini telah meningkatkan komunikasi antara pekerja dan manajemen secara signifikan. Aplikasi ini menyediakan cara yang efisien untuk menyampaikan keluhan atau aspirasi, memfasilitasi diskusi untuk mengidentifikasi dan menerapkan solusi secara efektif.
Vinatukan, Staf SDM PT Indorama Ventures Indonesia
Sejalan dengan Suwandi dan Tri, Pepep Tauvik, administrator aplikasi Hallo Siola, menekankan pentingnya privasi dalam mekanisme pengaduan ini, yang memungkinkan pekerja melaporkan masalah ketenagakerjaan yang bersifat pribadi maupun yang lebih umum. Ia menambahkan,“Manfaat lainnya adalah aplikasi ini membantu kami mengelola basis data tantangan ketenagakerjaan umum yang dihadapi pekerja.”
Vinatukan, Staf SDM PT Indorama Ventures Indonesia, mengakui manfaat signifikan dari aplikasi tersebut, dengan menyatakan,“Aplikasi ini telah meningkatkan komunikasi antara pekerja dan manajemen secara signifikan. Aplikasi ini menyediakan cara yang efisien untuk menyampaikan keluhan atau aspirasi, memfasilitasi diskusi untuk mengidentifikasi dan menerapkan solusi secara efektif.”
Related content
ILO menyerahkan aplikasi pengaduan kepada federasi serikat pekerja garmen
Audit Gender Partisipatif ILO untuk serikat pekerja hasilkan rekomendasi tindak lanjut