Tanggulangi pekerja anak melalui Kemitraan Publik-Swasta-Masyarakat Lokal

Pekerja anak masih menjadi permasalahan besar di Indonesia. Survei Nasional Pekerja Anak tahun 2010 memperlihatkan 4 juta anak bekerja dan 1,7 juta di antaranya merupakan pekerja anak, dengan pekerjaan yang secara negatif mempengaruhi kesejahteraan, keselamatan dan kapasitas mereka untuk bersekolah.

21 Juni 2011

Content also available in: English

JAKARTA (Berita ILO): Pekerja anak masih menjadi permasalahan besar di Indonesia. Survei Nasional Pekerja Anak tahun 2010 memperlihatkan 4 juta anak bekerja dan 1,7 juta di antaranya merupakan pekerja anak, dengan pekerjaan yang secara negatif mempengaruhi kesejahteraan, keselamatan dan kapasitas mereka untuk bersekolah.

Untuk menanggulangi pekerja anak, pemerintah Indonesia merancang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Terburuk Pekerjaan untuk Anak. Pemerintah pun mengembangkan berbagai inisiatif kebijakan, dari memperluas akses pendidikan hingga memberikan bantuan tunai bersyarat bagi keluarga miskin yang memungkinkan mereka mengirimkan anak-anak mereka bersekolah. Di sejumlah provinsi, pemerintah pun telah melembagakan Komite Aksi Lokal untuk mengidentifikasi, merehabilitasi dan menarik pekerja anak. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi tahun ini saja mengalokasikan dana dukungan bagi 5.000 anak yang ditarik dari pekerja anak.

Selanjutnya, ILO melalui Program Internasional Penghapusan Pekerjaan untuk Anak (ILO-IPEC) telah memberikan dukungan teknis bagi penerapan Rencana Aksi Nasional sejak 2007. Dukungan ini diberikan ILO-IPEC di bidang advokasi kebijakan, penelitian, peningkatan kesadaran dan peningkatan kapasitas bagi para pemangku kepentingan. ILO-IPEC menjalin kerja sama yang erat dengan organisasi non-pemerintah (LSM) untuk menarik anak-anak dari bentuk-bentuk pekerjaan terburuk serta mencegah anak-anak lainnya menjadi korban.

Kendati demikian, sejumlah tantangan masih menghambat tercapainya kebebasan bagi seluruh anak Indonesia dari pekerja anak. Dukungan dari berbagai pemangku kepentingan harus digalang lagi sebagai upaya untuk membentuk koalisi menentang pekerja anak. Dukungan dari perusahaan-perusahaan swasta dan organisasi kemayarakatan menjadi penting. Untuk memperkokoh koalisi nasional ini, ILO menyelenggarakan Forum bertajuk “Kemitraan Publik-Swasta-Masyarakat Lokal terhadap Pekerja Anak di Indonesia” pada Selasa, 21 Juni, di Hotel Le Meridien, Jakarta. Forum ini akan dibuka Direktur ILO di Indonesia, Peter van Rooij.

Forum ini bertujuan untuk memberikan kesempatan memperkokoh kerja sama antara pemangku kepentingan dari pemerintahan, swasta serta masyarakat lokal dalam menerapkan pendekatan yang lebih terpadu untuk menghapuskan pekerja anak. Untuk para peserta dari sektor swasta, Forum akan memberikan informasi berharga dalam merancang dan menerapkan inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) mengenai pekerja anak. Forum ini pun akan membantu mereka mengidentifikasikan potensi kemitraan dengan berbagai organisasi, khususnya masyarakat lokal.

Forum ini akan mengkaji kontribusi sektor swasta dalam mendukung kegiatan menentang pekerja anak. Sofjan Wanandi, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), akan memaparkan pandangannya mengenai apa yang dapat dilakukan pengusaha untuk menghapuskan pekerja anak. Jakob Friis Sorensen, Ketua Kamar Dagang Eropa (EuroCham) akan berbicara mengenai program CSR EuroCham saat ini dan pandangan mereka mengenai penanggulangan pekerja anak melalui CSR. Di tingkat perusahaan, Rika Anggaraini, Kepala CSR Body Shop di Indonesia, akan menjabarkan langkah-langkah kongkrit yang dilakukan Body Shop untuk mengatasi masalah pekerja anak.

Forum pun akan membahas kontribusi-kontribusi LSM dalam penanggulangan pekerja rumah tangga anak, anak jalanan dan perdagangan anak. Forum akan memaparkan prakarsa-prakarsa dari Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, JARAK, Mitra Imadei, Yayasan Pelita Ilmu, BMS Sejati, dan lainnya.

“Forum ini diharapkan dapat memainkan peran penting dalam membangung kemitraan publik-swasta-masyarakat lokal yang lebih kuat dan baik. Melalui dialog dan bertukar pengalaman, diharapkan kerja sama di masa mendatang di antara ketiga mitra penting ini dapat ditingkatkan. Kemitraan ini berpotensi memainkan peran penting dalam memastikan keberlanjutan kegiatan-kegiatan saat ini,” kata Peter van Rooij, Direktur ILO di Indonesia.

Forum ini akan dihadiri sekitar 80 peserta dari pemerintah, serikat pekerja dan organisasi pengusaha, akademisi dan anggota masyarakat lainnya.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Arum Ratnawati
Kepala Penasihat Teknis Program Pekerja Anak ILO
Tel.: +6221 391 3112 ext. 122
Email

Gita Lingga
Humas
Tel.: +6221 391 39112 ext. 115
Email