ILO 100 untuk pengembangan keterampilan

Sensitisasi jurnalis tentang pemagangan yang berkualitas

Untuk semakin melibatkan jurnalis dan organisasi media dalam isu terkait dengan pemagangan berkualitas, ILO mengadakan pelatihan media selama dua hari, yang akan dilanjutkan dengan program beasiswa media.

13 Maret 2019

Content also available in: English
Dua puluh lima jurnalis berkumpul di Wahid Hasyim, Jakarta, untuk berpartisipasi dalam Pelatihan Media dua hari tentang Pelaporan Pemagangan di Indonesia. Pelatihan ini diselenggarakan oleh ILO bekerja sama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta pada 9-10 Maret.

Tujuan utama pelatihan media ini adalah meningkatkan kesadaran di kalangan jurnalis tentang bagaimana menangani kompleksitas masalah pemagangan yang berkualitas dengan cara yang lebih baik dan lebih positif melalui media masing-masing. Pelatihan ini juga bertujuan untuk meningkatkan keterampilan jurnalis dalam meliput tentang masalah magang sejalan dengan prinsip-prinsip etika jurnalistik dan mempromosikan nilai-nilai jurnalisme berkualitas.

Kami melatih 329 pencari kerja selama 6 bulan dalam program magang kami. Pada akhir program, mereka memiliki keterampilan dan kemampuan kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri. Kapasitas mereka setara dengan lulusan sekolah baru yang telah dilatih selama setahun."

Subchan Gatot, General Manager PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN)
Dede Sudono, Staf Proyek Program Pemagangan ILO, memulai sesi pengantar dengan meminta para jurnalis yang berpartisipasi untuk menulis pemahaman pribadi mereka tentang pemagangan. “Seorang jurnalis harus memiliki pemahaman yang baik tentang prinsip-prinsip kunci pemagangan yang berkualitas sebelum melakukan reportase tentang pemagangan,” Dede menekankan, mendorong para jurnalis untuk meliput menggunakan syarat dan prinsip magang yang tepat dalam reportase media mereka.

Sebagai bagian dari pengalaman belajar praktis tentang magang, pelatihan ini menghadirkan tiga narasumber yang mewakili Kementerian Ketenagakerjaan, perusahaan dan serikat pekerja. Subchan Gatot, General Manager PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), berbagi pengalaman perusahaannya dalam melakukan pemagangan yang berkualitas. PT TMMIN melakukan program magang percontohan di Karawang, Jawa Barat, bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja setempat.

Dia mengakui bahwa magang bermanfaat bagi perusahaan karena perusahan dapat memperoleh pekerja terampil dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan perusahaan. “Kami melatih 329 pencari kerja selama 6 bulan dalam program magang kami. Pada akhir program, mereka memiliki keterampilan dan kemampuan kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri. Kapasitas mereka setara dengan lulusan sekolah baru yang telah dilatih selama setahun,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa PT TMMIN akan meningkatkan jumlah peserta magang menjadi 700 orang pada 2019-2020.

Revisi ini akan terfokus pada sanksi bagi perusahaan yang ditemukan mengeksploitasi peserta magang mereka. Ini sebagai sarana untuk meningkatkan implementasi pemagangan yang berkualitas di tanah air."

Fauzi, Kepala Unit Program Pemagangan, Kementerian Ketenagakerjaan
Sementara Fauzi, Kepala Unit Program Pemagangan, Kementerian Ketenagakerjaan, menjelaskan bahwa Pemerintah Indonesia saat ini sedang dalam proses merevisi Keputusan Menteri tentang Pemagangan. “Revisi ini akan terfokus pada sanksi bagi perusahaan yang ditemukan mengeksploitasi peserta magang mereka. Ini sebagai sarana untuk meningkatkan implementasi pemagangan yang berkualitas di tanah air, ” jelasnya.

Selain revisi, Kementerian Ketenagakerjaan juga menargetkan akan mensertifikasi 200 ribu peserta magang pada tahun ini. “Kami mendanai sertifikasi untuk peserta magang ini sebagai upaya mendorong lebih banyak lagi perusahaan yang mau melakukan program magang sebagai bagian dari penciptaan lapangan kerja.”

Sementara itu, Arson Naibaho dari Federasi Makanan, Minuman, Pariwisata, Restoran dan Hotel (Kamiparho) dari Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) menyoroti peran serikat pekerja dalam pelaksanaan dan pemantauan kualitas magang. Serikat pekerja memainkan peran penting dalam memastikan dan memastikan kepatuhan kerja dalam program pemagangan. “Kami menentang program magang yang eksploitatif, tetapi kami sepenuhnya mendukung pemagangan yang berkualitas sebagai cara untuk meningkatkan keterampilan kerja para pekerja,” tegasnya.

Kami menentang program magang yang eksploitatif, tetapi kami sepenuhnya mendukung pemagangan yang berkualitas sebagai cara untuk meningkatkan keterampilan kerja para pekerja."

Arson Naibaho dari Federasi Makanan, Minuman, Pariwisata, Restoran dan Hotel (Kamiparho) dari Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI)
Pelatihan diakhiri dengan pembuatan proposal reportase oleh para jurnalis yang berpartisipasi. Pelatihan akan ditindaklanjuti dengan program beasiswa media di mana proposal yang dipilih akan dikembangkan lebih lanjut sebagai pelaporan mendalam tentang pemagangan yang berkualitas. Pelatihan pun diakhiri dengan kesepakatan di antara para jurnalis, editor dan fasilitator yang mengikuti pelatihan ini untuk mempergunakan istilah 'Pemagangan (Apprenticeship)' dalam Bahasa Indonesia.

"Bahasa Indonesia hanya memiliki satu istilah untuk semua bentuk pembelajaran berbasis kerja, yakni Pemagangan. Kata Pemagangan dipergunakan untuk apprenticeship, internship, on-the-job-training and bentuk-bentuk pembelajaran berbasis kerja lainnya yang dapat menimbulkan kebingungan. Karenanya, disepakati dalam pelatihan ini untuk memadukan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris guna membedakan apprenticeship dengan bentuk pembelajaran berbasis kerja lainnya,"Dede menjelaskan.

Pelatihan ini diselenggarakan sebagai bagian dari Proyek ILO, “Program Percontohan Pemagangan Nasional di Indonesia”. Proyek ini bertujuan untuk mengujicoba program pemagangan berkualitas yang dapat diterima dengan baik dan dilaksanakan oleh para konstituen tripartit dan dapat direplikasi oleh Pemerintah Indonesia di daerah lain di Indonesia. Didanai oleh ILO/Japan Fund for Building Social Safety Nets di Asia dan Pasifik, Proyek ini juga bertujuan menerapkan Program Magang Nasional (Pena) oleh mitra tripartit.