Praktik bisnis yang berkelanjutan dan bertanggungjawab
Rantai hotel global promosikan ketenagakerjaan muda
Sekitar 30 anggota Asosiasi Perhotelan Bali berkumpul untuk mengkaji langkah-langkah meningkatkan penerapan prinsip-prinsip Deklarasi Tripartit ILO mengenai Perusahaan Multinasional dan Kebijakan Sosial (Deklarasi PMN). Lokakarya ini merupakan tindak lanjut dari lokakarya serupa yang digelar di Jakarta.
29 November 2016
dalam hal standar dan kualitas sumber daya manusia, Indonesia merupakan salah satu negara termaju di sektor hotel. Para pekerja hotel kami benar-benar dicari oleh sektor hotel di seluruh dunia, di Maladewa, Timur Tengah dan banyak tempat lain."
Ricky Putra, Kepala Asosiasi Hotel Bali, yang juga General Manager dari The Royal Santrian di Bali
Berbeda dengan lokakarya Jakarta, lokakarya Bali secara spesifik menargetkan sektor perhotelan karena sektor ini termasuk yang paling maju dalam mempromosikan pengembangan keahlian bagi kaum muda. Sektor-sektor lainnya cenderung menerapkan standar kerja khusus dan membutuhkan sertifikasi bagi para pekerjanya.
Ricky Putra, Kepala Asosiasi Hotel Bali, yang juga General Manager dari The Royal Santrian di Bali, mengatakan bahwa “dalam hal standar dan kualitas sumber daya manusia, Indonesia merupakan salah satu negara termaju di sektor hotel. Para pekerja hotel kami benar-benar dicari oleh sektor hotel di seluruh dunia, di Maladewa, Timur Tengah dan banyak tempat lain.”
Namun masih ada aspek operasional yang dapat ditingkatkan, misalnya dalam hal pengadaan produk lokal. “Kualitas, sertifikasi, dan kebersihan tidak dapat dijamin bila kita mendapatkannya langsung dari produsen lokal. Standar rantai hotel yang berbeda juga menghalangi kami mencari sumber secara kolektif. Harus ada terobosan untuk mengatasi hal tersebut sehingga produk lokal bisa diterima,” jelas Fransiska Handoko, Government Relation Director dari Asosiasi Perhotelan Bali.
Selama lokakarya, seorang pengusaha sosial, Mariko Asmara, memberi inspirasi bagi para peserta dengan berbagi pengalaman mengenai bagaimana perusahaan dapat bertanggungjawab secara sosial dan berkontribusi secara lebih positif kepada komunitas.
Berbagai pengalaman di tingkat regional, Georginia Pascual dari Proyek InSIGHT ILO berbagi berbagai inisiatif ILO dalam sektor perhotelan yang diterapkan di Filipina dan Thailand, di bawah Proyek Usaha Asia yang Lebih Ramah Lingkungan.
Kualitas, sertifikasi, dan kebersihan tidak dapat dijamin bila kita mendapatkannya langsung dari produsen lokal. Standar rantai hotel yang berbeda juga menghalangi kami mencari sumber secara kolektif. Harus ada terobosan untuk mengatasi hal tersebut sehingga produk lokal bisa diterima."
Fransiska Handoko, Government Relation Director dari Asosiasi Perhotelan Bali
Selama lokakarya, para peserta juga secara aktif terlibat dalam diskusi yang kaya dengan pertukaran pendapat dan gagasan. Mereka memberikan sambutan yang baik untuk menyokong praktik ketenagakerjaan serta usaha yang berkelanjutan dan bertanggungjawab secara sosial ini. Mereka berkomitmen untuk memelihara Bali sebagai destinasi paling dituju di Asia dan membantu memfasilitasi pengembangan masyarakat Bali.
“Para peserta antusias untuk menjajaki lebih lanjut langkah-langkah yang dapat dilakukan bersama ILO, terutama untuk memfasilitasi dialog dengan pemerintah, menindaklanjuti peluang untuk penelitian yang berorientasi pada aksi tentang sektor perhotelan di Bali dan mengadakan pertukaran pengetahuan tentang instrumen dan perangkat ILO,” kata Tendy Gunawan, Staf ILO.