Praktik baik perusahaan mempromosikan tempat kerja yang inklusif secara lebih luas

ILO dan Jejaring Bisnis dan Disabilitas Indonesia (JBDI) bekerja sama dengan perusahaan dan mitra sosialnya terus berupaya mempromosikan dunia kerja yang inklusif.

16 Juni 2021

Content also available in: English
Dalam upaya mempromosikan inklusivitas di tempat kerja, ILO bekerja sama dengan Jejaring Bisnis dan Disabilitas Indonesia (JBDI) dan Humanity & Inclusion Indonesia, menyebarluaskan praktik yang baik tentang penerapan inklusivitas pada 10 Juni, yang menjangkau perusahaan, akademisi, dan organisasi disabilitas.

Acara tersebut menyoroti “Program Maju Bersama”, sebuah program yang bertujuan untuk memberdayakan penyandang disabilitas muda agar memiliki akses ke pekerjaan formal, dan memperkenalkan JBDI yang telah diluncurkan kembali pada akhir tahun 2020 untuk mendorong lebih banyak perusahaan membuka pintunya bagi penyandang disabilitas.

Membangun masa depan yang lebih baik dan masyarakat yang inklusif bergantung pada tindakan kita hari ini. JBDI, yang terdiri dari 75 perusahaan multinasional dan nasional, merupakan inisiatif unik yang dipimpin oleh perusahaan yang berupaya untuk mempromosikan inklusi penyandang disabilitas di tempat kerja secara nasional."

Tendy Gunawan, Staf ILO untuk inklusivitas yang juga bertindak sebagai perwakilan Sekretariat JBDI
Adelina R. Simatupang, Spesialis Ketenagakerjaan Inklusif dari Humanity & Inclusion, menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara di Asia yang berpartisipasi dalam program pemberdayaan penyandang disabilitas muda di Asia. Di Indonesia, program ini bernama “Program Maju Bersama” dan dilaksanakan selama tiga tahun di tiga lokasi: Jakarta Selatan, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi.

“Program ini dilaksanakan bekerja sama dengan Thisable Foundation melalui pendanaan dari FWD Insurance. Program ini mampu menempatkan 97 penyandang disabilitas untuk bekerja di 38 perusahaan,” ungkap Adelina.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, tambahnya, program tahap kedua ini akan memberikan pilihan kepada peserta untuk memilih berwirausaha, jika tidak ingin terjun ke dunia kerja. “Kami juga akan bekerja sama dengan JBDI demi memastikan lebih banyak perusahaan mengetahui program ini.”

Tendy Gunawan, Staf ILO untuk inklusivitas yang juga bertindak sebagai perwakilan Sekretariat JBDI, sangat menyambut baik kesempatan JBDI untuk membantu mempromosikan inklusivitas di tempat kerja dan mendorong partisipasi perusahaan yang semakin besar. “Membangun masa depan yang lebih baik dan masyarakat yang inklusif bergantung pada tindakan kita hari ini. JBDI, yang terdiri dari 75 perusahaan multinasional dan nasional, merupakan inisiatif unik yang dipimpin oleh perusahaan yang berupaya untuk mempromosikan inklusi penyandang disabilitas di tempat kerja secara nasional,” kata Tendy.

Dibutuhkan perekrutan yang inklusif dan adil

Acara ini juga menekankan bahwa tempat kerja yang inklusif juga terkait dengan perekrutan yang inklusif dan adil. Kabul Hartono, Manajer Sumber Daya Manusia Black & Veatch Indonesia, mengingatkan para peserta bahwa, selain kebijakan tempat kerja yang inklusif, perusahaan perlu mengembangkan perangkat perekrutan yang inklusif. “Satu jenis proses perekrutan tidak dapat diterapkan untuk semua jenis disabilitas. Penyandang disabilitas kerapkali gagal dalam proses rekrutmen karena standar perusahaan yang mengabaikan perbedaan jenis dan derajat disabilitas,” jelasnya.

Satu jenis proses perekrutan tidak dapat diterapkan untuk semua jenis disabilitas. Penyandang disabilitas kerapkali gagal dalam proses rekrutmen karena standar perusahaan yang mengabaikan perbedaan jenis dan derajat disabilitas."

Kabul Hartono, Manajer Sumber Daya Manusia Black & Veatch Indonesia
Oleh karena itu, melalui pengalaman praktik yang baik, PT Enklude Global ingin menunjukkan bahwa penyandang disabilitas, termasuk penyandang disabilitas mental dan intelektual, memiliki kemampuan untuk bekerja jika mereka diberikan pelatihan yang tepat berdasarkan kelebihan mereka.

Havishyan Thakral, salah satu pendiri PT Enklude Global menjelaskan bahwa perusahaan tersebut telah menjadi pendukung bagi semua penyandang disabilitas untuk dapat bekerja di industri perhotelan melalui program pemagangan. Perusahaan ini membantu hotel memastikan etiket disabilitas, aksesibilitas, program pemagangan, sistem evaluasi, sementara di sisi lain membantu pemagang untuk belajar untuk melakukan tugas mereka dengan benar.

“Setelah mereka lulus dari program pemagangan, pemagang disabilitas ini akan memiliki kesempatan untuk dipekerjakan sebagai pekerja tetap,” kata Havishyan yang telah menjalin kerja sama dengan hotel bintang lima.

Acara ditutup dengan diskusi interaktif dengan para peserta. Dalam diskusi interaktif tersebut, disepakati bahwa sosialisasi tentang pengalaman praktik yang baik di tempat kerja inklusif sangat diperlukan karena kurangnya akses dan inklusivitas pekerjaan yang dihadapi penyandang disabilitas di Indonesia bagian timur. Penyandang disabilitas masih membutuhkan akses yang lebih besar ke pekerjaan formal; sementara perusahaan perlu mempertimbangkan mempekerjakan penyandang disabilitas sebagai investasi bukan sebagai biaya.