Berita
Pertunjukan seni dan pameran siklus migrasi menandai peluncuran inisiatif PROTECT di Indonesia
Peluncuran inisiatif PROTECT yang baru di Indonesia menggaungkan suara para pekerja migran Indonesia dan pentingnya keterlibatan semua pihak terkait mulai dari tingkat desa hingga kedutaan dan atase ketenagakerjaan Indonesia di negara tujuan untuk membekali para migran dengan informasi yang diperlukan, pelatihan keterampilan dan layanan dukungan untuk perlindungan yang lebih baik.
20 Mei 2024
JAKARTA, Indonesia (Berita ILO ) - Delapan perempuan dan laki-laki mantan pekerja migran Indonesia (PMI) yang mengenakan ikat kepala bendera Indonesia berwarna merah putih dan tali yang dililitkan di tubuh mereka menampilkan penderitaan PMI melalui perpaduan pertunjukan teater dan musik. Kendati berkontribusi besar terhadap pembangunan sosial dan ekonomi negara asal dan tujuan, PMI masih menghadapi eksploitasi kerja, peraturan dan praktik yang diskriminatif, perdagangan manusia, kekerasan dan pelecehan serta terbatasnya akses terhadap layanan penting.
Diiringi gitar akustik, mereka dengan puitis menggemakan: “Kami melakukan kewajiban kami, tetapi gaji kami disita, hak-hak kerja kami dilanggar, dokumen kami ditahan oleh individu yang menyamar sebagai malaikat namun ternyata serigala berbulu domba.”
Pertunjukan berdurasi tujuh menit ini ditutup dengan harapan akan masa depan yang lebih baik: “Kami bersyukur bisa bekerja. Kami bersyukur bisa mendapatkan kesempatan ini. Namun, kami berharap semuanya sesuai aturan. Kami berharap semuanya bisa ditingkatkan. Beri kami pendidikan dan pelatihan yang berkualitas. Beri kami informasi resmi yang jelas. Beri hak kami atas keselamatan dan kesehatan kerja. Beri hak kami atas perlindungan. Inilah harapan dan doa kami.”
Selain pertunjukan, juga dilakukan pameran mengenai perlindungan PMI. Pameran yang terdiri dari tujuh diorama ini menggambarkan perlindungan hak PMI untuk terlindungi secara ekonomi, sosial dan hukum dalam keseluruhan siklus mulai dari sebelum, saat dan setelah migrasi berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.
Menggambarkan siklus sebelum migrasi, Dua diorama pertama pameran ini menyoroti peran desa dan kantor layanan terpadu satu atap (LTSA) yang tanggap gender dalam menyediakan berbagai layanan dukungan bagi calon, pekerja dan mantan PMI serta keluarganya. Layanan-layanan ini mencakup informasi resmi yang responsif gender, informasi migrasi kerja yang aman, pelatihan, dan kesetaraan gender hingga dukungan reintegrasi dan serikat pekerja serta layanan psikososial, kesehatan atau sosial, bantuan hukum dan penanganan kasus.
Diorama ketiga dan keempat menunjukkan peran Kedutaan Besar Indonesia di negara tujuan dan peran petugas layanan luar negeri serta atase ketenagakerjaan dalam memberikan layanan dan program pelatihan untuk memberikan perlindungan yang lebih baik bagi PMI selama bekerja. Sedangkan diorama kelima menampilkan kegiatan pengembangan keterampilan dan ekonomi untuk reintegrasi. Diorama keenam dirancang sebagai pusat informasi yang menyediakan publikasi, manual, kisah sukses dan materi informasi lainnya, sementara diorama ketujuh digunakan untuk menampilkan pengembangan usaha Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) dalam bentuk mini market.
Diadakan pada bulan Mei di Lapangan Banteng yang bersejarah di Jakarta, pertunjukan dan pameran ini merupakan bagian dari peluncuran inisiatif baru ILO dan Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) di Indonesia, yang didanai oleh Uni Eropa (UE), bernama PROTECT. PROTECT Indonesia bertujuan untuk memperkuat hak-hak perempuan pekerja migran, anak-anak dan kelompok berisiko di Indonesia. Peluncuran ini dihadiri oleh lebih dari 120 peserta yang mewakili pemerintah, Kepolisian Republik Indonesia, Kejaksaan Agung, komunitas pekerja migran, lembaga penempatan swasta, serikat pekerja, dan organisasi masyarakat sipil.
“Melalui pertunjukan dan pameran ini, kami ingin menampilkan proses, prosedur, layanan yang tersedia serta inisiatif program ILO untuk mendukung pemerintah Indonesia dan mitra sosial lainnya dalam memperkuat perlindungan terhadap pekerja migran Indonesia,” ungkap Sinthia Harkrisnowo, Koordinator Proyek PROTECT ILO di Indonesia.
Menyusun program strategis untuk tiga tahun ke depan
Peluncuran ini diakhiri dengan pertemuan konsultatif di mana sekitar 30 pemangku kepentingan (40 persen adalah perempuan) mendiskusikan kegiatan program di bawah proyek PROTECT untuk tiga tahun ke depan. Sri Andayani, Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), menegaskan pemerintah tidak bisa berdiri sendiri dan perlu berkolaborasi dengan mitra terkait dalam memastikan terlaksananya regulasi, khususnya peraturan perundagan terkait migrasi kerja.
“Hingga saat ini, untuk lebih melindungi PMI, BP2MI telah memiliki pusat panggilan dan Kementerian Ketenagakerjaan memiliki pusat pengaduan. Namun di tingkat nasional, program-program tersebut belum terintegrasi dan kita perlu memperkuat upaya tersebut dengan melibatkan lembaga pemerintah terkait seperti Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian,” ujarnya.
Dari sudut pandang PMI, Yatini selaku Ketua Federasi Serikat Buruh Migran dan Informal (SEBUMI) di bawah Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) menyoroti pentingnya penguatan layanan dukungan lintas batas dan mekanisme rujukan untuk meningkatkan pencegahan kasus dan penanganannya di Malaysia, bekerja sama dengan KBRI dan lembaga non-pemerintah atau serikat buruh migran Indonesia di Malaysia.
Pada 2023 saja, lebih dari 270.000 orang Indonesia bermigrasi ke luar negeri, dan lebih dari setengahnya (61 persen) adalah perempuan. Para perempuan pekerja migran ini sebagian besar mencari pekerjaan di bidang pekerjaan rumah tangga, pekerjaan perawatan, pertanian, perkebunan dan industri manufaktur di Hongkong, Taiwan dan Malaysia. Namun, sejumlah besar migran Indonesia, khususnya yang berada di Malaysia, bermigrasi melalui jalur tidak resmi.
Related content
Siaran pers
Proyek PROTECT baru mendukung perempuan pekerja migran dan anak-anak di Indonesia